Pada dekade ini, hubungan antara laki-laki dan perempuan, sudah begitu terbuka serta penuh kebebasan, tidak saja terbatas pada kalangan remaja saja, akan tetapi dikalangan orang tua juga demikian. Sehingga kebebasan pergaulan yang bukan muhrim makin semarak. Free sex, free love sudah bukan merupakan rahasia lagi untuk dilakukan terhadap kedua lawan jenis sebelum ada ikatan suami istri. Bahkan, konon banyak pula siswa siswi sejak dari menengah pertama sampai perguruan tinggi, sebagian besar tentu pernah melakukan libido atau hubungan sex sebelum nikah. Dan, seluruh aturan-aturan atau norma-norma agama, yang walaupun begitu ketat melarangnya dan ada ancaman neraka karena melakukan zinah, akan tetapi makin hari justru bukan makin berkurang, melainkan justru makin semarak. Perdagangan perempuan semakin menjadi-jadi, bahkan didaerah yang mayoritas beragama menjadi tontonan setiap hari di televisi. Ironis, justru kejadian itu berada dimana asal mula agama itu terlahir. Adanya hukuman rajam, bukan menyurutkan nyali mereka, malah makin lama, makin menjadi-jadi termasuk adanya pemerkosaan. Kenapa hal itu terjadi ? Jawabnya adalah karena mereka tidak mengerti hakekat hubungan sex selaku makhluk manusia.
Manusia itu adalah Wakil Presiden semesta alam, jadi tugas kita adalah untuk menjaga ekosistem sebagai wujud kebaktian kita kepada Presiden semesta alam, yakni Tuhan itu sendiri. Adapun caranya adalah bagaimana kita bisa bermanfaat pada alam, dan bukan memanfaatkan atau dimanfaatkan.
Partner | KAENDRA Tour & MICE
Tampilkan postingan dengan label energi api. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label energi api. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 13 Agustus 2011
Sabtu, 16 Juli 2011
PUASA DARI SUDUT PANDANG METAFISIKA
Selama ini, disaat seseorang menjalani puasa, semata-mata bukan karena muncul dorongan dari dalam diri manusia, melainkan karena merasa adanya kewajiban untuk puasa. Bahkan didalam menterjemahkan kata “ kutiba ” seperti tercantum didalam surat Al Baqarah(2): 183 : “Yaa ayyuhalladzina amanu, kutiba alaikummussiyam, kamaa kutiba ‘alalladzina min qoblikum laa ‘allakum tattaquun”. (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa). Padahal, kata kutiba itu lebih berarti kewajiban dari dalam diri manusia itu sendiri. Tidak ada daya pemaksa dari luar. Sama halnya, disaat kita sudah besar dan ingin kuliah, tetapi tidak ada uang, kita menjadi susah, bukan karena merasa senang tidak kuliah. Jadi, kata ”kutiba” semata-mata merupakan kedisiplinan diri, jadi didalam menterjemahkan kata “kutiba” adalah “ tetapkanlah”. Yang merupakan unsur kedisiplinan diri, baik ada perintah maupun tidak. Dan apabila tidak melaksanakan puasa, kita akan merasakan susah yang amat sangat. Begitu pula didalam mengartikan “puasa(siyam)” bukan menahan lapar, melainkan “menahan diri”
Senin, 13 Juni 2011
PERBEDAAN ANTARA “ RASA DAN PERASAAN “
Masih banyak orang yang salah kaprah didalam mengartikan perbedaan antara “ “rasa dan perasaan”. Serta, masih banyak yang menganggap, bahwa antara rasa dan perasaan itu sama. Padahal, perbedaannya amat sangat jauh sekali. Jika hal ini tidak diluruskan, akan berakibat fatal didalam mengendalikan keduanya.
Langganan:
Postingan (Atom)