Setiap orang tentu pernah mengalami warna perasaan yang berubah-ubah setiap saat, tergantung dari suasana yang dialami oleh hati. Kadang-kadang sedih, gembira, marah, putus asa, dan lain sebagainya. Tetapi, apakah semua orang mengetahui darimanakah munculnya warna perasaan itu. Walaupun sudah pernah saya uraikan didalam beberapa tulisan terdahulu, namun perlu untuk saya uraikan kembali agar lebih jelas didalam memahami tentang jati diri manusia.
Manusia itu adalah Wakil Presiden semesta alam, jadi tugas kita adalah untuk menjaga ekosistem sebagai wujud kebaktian kita kepada Presiden semesta alam, yakni Tuhan itu sendiri. Adapun caranya adalah bagaimana kita bisa bermanfaat pada alam, dan bukan memanfaatkan atau dimanfaatkan.
Partner | KAENDRA Tour & MICE
Tampilkan postingan dengan label metafisika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metafisika. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Februari 2012
Sabtu, 16 Juli 2011
PUASA DARI SUDUT PANDANG METAFISIKA
Selama ini, disaat seseorang menjalani puasa, semata-mata bukan karena muncul dorongan dari dalam diri manusia, melainkan karena merasa adanya kewajiban untuk puasa. Bahkan didalam menterjemahkan kata “ kutiba ” seperti tercantum didalam surat Al Baqarah(2): 183 : “Yaa ayyuhalladzina amanu, kutiba alaikummussiyam, kamaa kutiba ‘alalladzina min qoblikum laa ‘allakum tattaquun”. (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa). Padahal, kata kutiba itu lebih berarti kewajiban dari dalam diri manusia itu sendiri. Tidak ada daya pemaksa dari luar. Sama halnya, disaat kita sudah besar dan ingin kuliah, tetapi tidak ada uang, kita menjadi susah, bukan karena merasa senang tidak kuliah. Jadi, kata ”kutiba” semata-mata merupakan kedisiplinan diri, jadi didalam menterjemahkan kata “kutiba” adalah “ tetapkanlah”. Yang merupakan unsur kedisiplinan diri, baik ada perintah maupun tidak. Dan apabila tidak melaksanakan puasa, kita akan merasakan susah yang amat sangat. Begitu pula didalam mengartikan “puasa(siyam)” bukan menahan lapar, melainkan “menahan diri”
Langganan:
Postingan (Atom)