DUNIA METAFISIKA :
Pernahkah kita berpikir tidak hanya secara teori, bahwa hidup di dunia ini adalah sementara? Dan pernah pulakah kita merenung, bahwa kehidupan didunia adalah merupakan ujian terakhir bagi manusia guna menunjukkan eksistensi sebagai duta Tuhan pada alam semesta, untuk nantinya dipertanggung jawabkan kepada Tuhan setelah kita kembali kesisiNya. Sudah cukup pantaskah kita menyandang gelar sebagai manusia selaku khalifah?
Dari beberapa pertanyaan ini, tentu akan membuka pikiran kita tentang siapakah nanti yang diminta bertanggung jawab kepada Tuhan, yang tentu jawabnya tidak ada yang lain, selain adalah jiwa kita sendiri. Dan untuk itu pula, saya mencoba menyingkap semua, dengan pendekatan secara metafisika lewat judul “ Kematian adalah filter dan variabel jiwa”.
Berkunjung ke makam, atau lebih dikenal dengan istilah ” ziarah kubur”, merupakan hal yang sering dilakukan oleh warga masyarakat dunia . Baik hal itu dilakukan secara perseorangan, maupun secara seremonial, pada bulan-bulan dan saat-saat tertentu. Walaupun mungkin, ada juga dari golongan tertentu yang tidak melaksanakan ziarah kubur ini. Akan tetapi, sudahkah dari masing-masing orang mengetahui, tentang manfaat dari ziarah kubur ini? Saya yakin, baik bagi yang setuju untuk ziarah kubur maupun yang tidak, masih belum faham maksud dan tujuan pelaksanaan ziarah kubur, selain hanya apa yang tercantum secara tersurat. Bagi yang setuju, tentu mempunyai dasar yang kuat, yang tercantum didalam kitab-kitab agama. Begitu pula sebaliknya, bagi yang tidak setuju, juga mempunyai dasar hukum yang kuat. Juga, sama-sama mengambil rujukan dari kitab-kitab agama yang ada. Disini, saya tidak akan memperbincangkan antara mereka yang setuju dan yang tidak, terhadap ziarah kubur, melainkan akan mencoba membahas tentang makna ziarah kubur itu sendiri. Dan siapa tahu nanti akan menghasilkan titik temu antara keduanya. Sehingga, yang semula kedua hukum dasar yang kelihatannya bertentangan satu sama lain, akan bisa dipadukan menjadi hukum yang saling melengkapi.
Ziarah kubur; disatu sisi berpendapat, bahwa dengan kita berkunjung kepada yang mati, dan berdoa disana, siapa tahu doanya akan terampuni oleh Tuhan, disamping merupakan bentuk penghormatan kepada yang meninggal serta keluarganya yang ditinggalkan. Hal ini dilakukan karena memang ada para pendahulunya yang melakukan hal yang sama, sehingga nantinya muncul suatu budaya ziarah kubur. Sedangkan disisi yang bertentangan berpendapat bahwa ; seseorang yang sudah mati, telah putus hubungannya dengan orang yang hidup.
Terlepas dari semua itu, tahukah kita bahwa baik percaya maupun tidak, seseorang itu tidak pernah mati. Kematian hanyalah merupakan suatu istilah belaka, dimana roh/nyawa telah pergi dari tubuh orang tersebut. Namun sesungguhnya jiwa orang yang meninggal tidak pernah mati, melainkan pindah menuju alam lain, sebelum menuju alam asalnya dimana kita berada.
Seseorang yang masih hidup didunia, akan selalu melakukan kegiatan-kegiatan, serta beraktifitas guna menopang kehidupannya di dunia. Kita tahu, bahwa segala bentuk aktifitas, baik itu merupakan angan-angan, pikiran, dan perbuatan, merupakan bentuk dari perwujudan energi itu sendiri. Sehingga didalam memenuhi kebutuhan energinya, manusia senantiasa mengambil energi dari alam makro dari luar tubuhnya untuk dimasukkan kedalam tubuh lahir maupun batin. Semua energi yang diambil dari alam makro kemudian dimasukkan kedalam nafsu( untuk yang batin), dan kepada perut(untuk yang berbentuk lahir). Dari kedua bentuk energi, materi maupun non materi ini, nanti akan diolah sesuai dengan kehendak dari jiwa manusia selaku pengendali utama.
Yang perlu diketahui disini, adalah energi yang masih berbentuk energi murni yang selalu kita ambil(download) dari alam makro yakni dari udara yang masuk kedalam tubuh, tentu berjuta-juta energi yang ada didalamnya, kemudian menjadi sari pati energi dan tersimpan didalam nafsu manusia.
Selanjutnya, pada saat kita mati, dimana nyawa telah lepas dari tubuh, tidak secara serta merta sari pati energi itu hilang dengan sendirinya dari tempat simpanan. Dia tetap tersimpan didalam nafsu, yang didalam buku saya God’s road map saya sebutkan, bahwa nafsu adalah merupakan perut manusia batin. Pada saat seseorang meninggal, energi-energi yang terkumpul itu harus sudah tidak ada, dan kalau bisa harus benar-benar habis dari dalam nafsunya. Sebab, didalam alam kematian, energi tadi sudah tidak dibutuhkan lagi. Mengingat energi yang kita ambil tadi hanyalah khusus untuk kehidupan didunia. Sehingga, kenapa para raja-raja jaman dahulu disaat sudah tua, dia meninggalkan segala bentuk duniawi dengan bertapa kegunung, atau kegoa-goa untuk menyepi. Hal itu dilakukan semata-mata, adalah untuk membuang segala bentuk energi dunia yang masih tersisa didalam dirinya. Dan sebegitu energi dunia telah habis dari dalam dirinya, dia bisa meninggal dengan tenang. Bahkan ada yang saat meninggal, hilang bersama raganya, dan dikatakan moksha( hilang bersama raganya).
Namun, tidak sedikit pula disaat akan meninggal amat sulit sekali, ada yang mati lalu hidup lagi, bahkan ada pula yang tersiksa disaat meregang nyawa. Semua ini terjadi, karena masih ada dan tidaknya energi didalam dirinya disaat akan meninggal. Semakin besar sisa energi, semakin besar pula beban yang disandang disaat akan meninggal dunia.
Lalu bagaimana disaat kita meninggal, sedangkan energi masih belum terbuang semua? Inilah tugas dari para ahli waris orang yang meninggal itu sendiri. Selama ini, yang diwarisi hanyalah merupakan harta kekayaannya saja. Padahal masih banyak harta warisan yang masih belum terbentuk, yang senantiasa tersimpan didalam nafsunya. Belum sempat diwujudkan menjadi materi sudah meninggal lebih dahulu. Dan ini pulalah yang merupakan cikal bakal dari ziarah kubur itu sendiri.
Jika kita membiarkan energi itu tetap tersimpan didalam nafsu orang sampai terbawa kealam kubur, maka sejak dia meninggal, akan selalu terbebani oleh energi itu, dan dia tentu saja tidak bisa kembali terbang kepangkuan Tuhan seperti sedia kala selalu bisa menghadap Tuhan, seperti asalnya sebelum dia diturunkan kedunia ini, yang diibaratkan Adam dan Hawa tinggal di Surga, namun kemudian oleh Tuhan dicampakkan ke dunia, lantaran pohon dunia telah merasuki dalam tubuh nafsunya. Ibarat kapas, yang dulunya bisa terbang, namun karena telah basah tercelup air, apakah bisa terbang? Sedangkan dia, bagaimana mungkin bisa membuang energi tadi, sedangkan unsur hidup yang berbentuk nyawa sudah tidak ada didalam dirinya. Yang tersisa, adalah wujud kehidupan dunia yang terbawa didalam alam penantian, atau alam kematian itu sendiri.
Jadi, dengan adanya ziarah kubur, saya tidak menyalahkan sepanjang mengerti hakekatnya adalah untuk mengambil sari pati energi dari dalam tubuh batin yang menempel didalam jiwa, dan hal ini disamping berguna bagi jiwa orang yang didalam kubur bisa kembali kepangkuan Tuhan dengan bersih. Sedangkan bagi kita yang hidup, sari pati energi itu bisa kita pergunakan sesuai dengan kebutuhan kita didunia ini yang masih banyak butuh energi. Hal ini tentu akan lebih cepat, dan tinggal menyaring dan membagi menjadi beberapa tujuan. Manakah yang lebih cepat antara download dan menyalin hasil download? Sehingga tidak mengherankan pula jika banyak orang berkunjung ke makam para wali, para leluhur, dan lain-lain. Hal itu karena dimakam para wali atau para leluhur yang dulunya terkenal hebat, tentu masih tersimpan energi yang unlimited. Apalagi jika para wali, dan para nabi tentu masih menyimpan energi unlimited tadi, bahkan disaat download tidak memakai modem apapun selain cukup dengan wifi ghoib yang tidak pernah di password, serta bebas untuk siapa saja yang membutuhkan.
Kemudian, apa akibatnya jika tidak ada orang yang membersihkan energi yang masih tersimpan didalam nafsu? Yakni; orang yang berada didalam kubur itu, setiap saat akan selalu terhantui segala perbuatannya selama hidup didunia, dan inilah sesungguhnya yang merupakan siksaan kubur tadi. Kendati seluruh perbuatannya adalah merupakan kebaikan, sama halnya kita dulunya kaya raya, lantas sekarang tidak memiliki apapun, tentu dia akan hidup didalam mimpi terus menerus, padahal kebahagiaan itu telah berlalu. Begitu pula disaat orang itu telah mati. Terlebih lagi, jika disaat hidupnya penuh dengan energi negatif, menyusahkan orang lain, menyakiti dan merugikan orang lain, maka dia akan lebih tersiksa lagi, sehingga dia tentu ingin untuk dihidupkan kembali kedua kali kemuka bumi ini.
Jadi, inilah fungsi doa kubur sesuai dengan versinya masing-masing. Hal itu bertujuan untuk merenung, yang siapa tahu dengan perenungan itu akan muncul kesamaan gelombang antara yang hidup dan yang mati, sehingga energi dari yang mati, akan bisa masuk kedalam diri kita yang masih hidup ini. Sebab, sesungguhnya pada masing-masing orang yang hidup, telah dilengkapi dengan modem untuk mengunduh energi orang mati, sepanjang alamat situsnya jelas. Dengan begitu, bagi yang mati, akan berterima kasih kepada kita karena sisa-sisa energi dunia telah berkurang, atau habis dan diharapkan setelah melewati alam kematian bisa kembali kepangkuan Tuhan sebagaimana semula.
Dan dari sini pula, kenapa alam kematian itu saya katakan filter, adalah untuk menyaring masing-masing jiwa agar bisa ditempatkan pada folder masing-masing yang serasi. Kemudian dikumpulkan dengan jiwa-jiwa yang lain, tergantung pada jenis dan banyak tidaknya energi yang masih tersisa didalam jiwa tersebut. Disamping itu, juga merupakan variabel guna menuju kepangkuan Tuhan itu sendiri, dan bukan merupakan alam terakhir. Selanjutnya untuk meneruskan perjalanan ke padang mahsyar guna mempertanggung jawabkan, apa yang pernah dilakukan disaat berada didunia. Dan jika sudah berada disini, semua jiwa tidak akan bisa mengelak apa yang telah diperbuatnya, yang secara metafisika memang masuk akal, karena masih adanya energi-energi dunia tadi. Sedangkan alamnya sudah berbeda. Sama halnya kita kehujanan dijalan, suatu saat kita sampai pada daerah yang terang benderang tidak ada hujan, bukankah mereka yang berpapasan juga tahu, bahwa kita habis kehujanan? Begitu pula, jika kita bekerja dilapangan terbuka dan selalu kena terik matahari, lambat laun kita akan hitam? Dan tentu sahabat yang pernah tahu bahwa dulunya kulit kita kuning akan menegur, kenapa berubah jadi hitam? Begitu pula yang dulunya tahu kita gemuk lantas berubah kurus, pasti akan bertanya kenapa ada perubahan pada diri kita?
Inilah sekedar gambaran hasil perjalanan spiritual saya selama ini, walaupun susah sekali untuk menyunting menjadi sebuah tulisan yang singkat. Namun saya berharap bisa bermanfaat bagi kita semua. Adapun benar dan tidaknya hanyalah Tuhan yang maha tahu.
Semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar