Dunia metafisika.
Seseorang pada waktu meninggal dunia, pada umumnya selama 40 hari alam manusia, jiwa yang meninggal masih tetap berada dilingkungan rumah itu sendiri, karena energi yang tersimpan didalam tubuh nafsu masih belum dapat adaptasi dengan alam kematian. Dan baru setelah itu, dia sudah mulai dapat adaptasi dialam kubur sampai selama 1000 hari alam manusia. Di alam kubur ini, mereka berkumpul dengan jiwa-jiwa yang lain sebelum berpindah tempat menuju alam sendiri, sesuai dengan kandungan energi yang tersisa dari dalam nafsunya. Dan dari sini, nantinya mereka mulai diperlihatkan segala perbuatan selama di dunia.
Sejak dia meninggal sampai 40 hari kematiannya, bagi keluarga yang ditinggalkan sebenarnya masih bisa berhubungan dengan yang meninggal yakni dengan blue tooth dalam istilah komputer. Selanjutnya, sejak 40 hari sampai 1000 hari, kita juga masih bisa berhubungan dengannya lewat infra merah dalam istilah komputer. Sebagaimana sifat blue tooth, maka disaat kita akan berhubungan dengan jiwa orang yang meninggal, kita yang masih hidup masih bisa menggunakan otak kiri dan otak kanan, sepanjang kita mengerti karakter orang yang meninggal, tanpa meminta bantuan orang lain sekalipun. Yang terpenting, kita memang menghendaki untuk berhubungan jiwa. Dan supaya bisa berhubungan jiwa, kita harus benar-benar fokus terhadap apa yang kita kehendaki dari jiwa orang yang telah mati itu. Sehingga wujud hubungan bagi orang awam, bisa merupakan mimpi, atau merupakan ingatan pada memori, bahwa dia menghendaki sesuatu yang belum dilaksanakan. Bahkan ada orang lain bisa juga telah didatangi orang yang mati, selagi dia meregang nyawa. Padahal orang yang didatangi, tidak tahu kalau orang itu akan mati. Dari keterangan ini sering muncul salah kaprah, jika orang yang akan mati itu yang datang. Padahal sebenarnya jiwa orang yang hidup itulah yang bertemu secara jiwa.
Selanjutnya, sejak kematian mencapai 41 hari sampai 1000 hari, jiwa yang mati telah berada disuatu tempat yang memang dilapisi dengan dinding yang kokoh antara dunia manusia dengan dunia alam halus nya, dan berada pada tempat yang masih bersifat secara umum. Dalam arti, masih belum tersaring ketempat masing-masing karakter khusus, sesuai dengan muatan energi yang terkandung didalam nafsunya.
Dari gambaran ini, menunjukkan betapa Maha kasihnya Tuhan kepada kita sekalian. Dengan maksud, supaya para ahli waris yang ditinggalkan, bisa memohonkan ampunan kepada Tuhan, agar menghapus segala energi yang masih tersisa didalam diri jiwa tadi. Kata menghapus disini, bukan berarti energi itu akan dihilangkan secara percuma. Melainkan akan berpindah kepada orang yang meminta ampunan, untuk bertanggung jawab mengambil energi yang ada. Sama halnya jika ayah kita meninggal, biasanya anak yang berbhakti, akan meminta kepada semua orang yang mempunyai piutang kepada orang tuanya, agar menagih hutangnya kepada anak tersebut. Padahal kita sebagai anak tidak tahu, dan tidak pernah merasakan hutang ayahnya. Bahkan, bisa saja ada seorang yang dermawan memberikan beaya sekolah, atau kuliahnya pada anak orang lain yang tidak mampu. Apakah mereka mengenal anak tersebut, selain mungkin dari pemberitaan di media cetak dan elektronik? Begitu pula halnya dengan orang yang meninggal tadi. Makanya kita dianjurkan untuk berdoa pada orang yang meninggal, dengan berbagai cara. Yang pada intinya, adalah untuk mengambil alih energi, yang masih tersisa pada jiwa orang yang meninggal, seperti tulisan saya terdahulu.
Kendati demikian, bisakah orang yang hidup itu mengambil energi orang yang mati padahal karakternya tidak sama? Itupun Tuhan amat sangat maha arif dan bijaksana. Mungkinkah seorang rampok akan pergi ke makam para wali? Tentu para perampok itu akan tertuntun untuk menuju makamnya raja perampok. Begitu pula seorang dalang Yunior, bila dia mengagumi seorang dalang senior yang almarhum dan terkenal, tentu akan menggerakkan hatinya untuk pergi ke makam almarhum dalang tadi.
Ada suatu kisah menarik yang sampai detik ini masih dilakukan. Yakni disuatu daerah di jawa apabila seseorang ingin mendapat jodoh, dia menuju kemakam seorang perempuan dan disana dia melakukan hubungan sex dengan siapapun yang mau dengannya. Juga ada seorang calon sinden(penyanyi perempuan yang khusus melantunkan lagu jawa), dia pergi ke makam alamarhum sinden yang terkenal. Dan seterusnya.
Yang perlu menjadi bahan renungan disini adalah ; apakah dengan mengambil energi orang yang mati itu kita tidak terkena imbasnya, apalagi bila energi yang ada merupakan energi negatif? Jawabnya adalah seratus persen benar. Dan itu pula yang menjadi landasan, kenapa disaat kita meminta pada orang yang telah mati hukumnya syirik. Semata-mata, adalah untuk keselamatan diri kita sendiri. Namun bukan berarti tidak bisa di antisipasi, disinilah nantinya manusia itu harus berpikir, kenapa ada 2 hukum yang kelihatannya bertolak belakang antara yang satu dan yang lain. Disatu sisi membolehkan, sementara disisi yang lain melarang.
Kalau kita jeli didalam menanggapi kasus ini, tentu akan mendapatkan titik temu dengan gambaran-gambaran sebagai berikut :
Ada sebuah tumbuhan bernama “ gadhung”(dalam bahasa jawa), buahnya memabukkan, bahkan jika dimakan bisa membuat orang akan meninggal, tetapi bagi yang mengerti cara mengolahnya, buah itu bisa menjadi makanan yang amat lezat sekali. Bisa dijadikan krupuk gadhung, bisa dijadikan makanan lain, sesuai dengan selera kita.
Pada setiap bulan Romadhon, biasanya sehari sebelum pelaksanaan puasa, banyak orang berduyun-duyun menuju ke makam sanak saudaranya. Sebelum berdoa, biasanya membersihkan makam itu. Ada yang membawa sapu lidi, ada yang membawa sabit dan lain-lain. Padahal semua tentu tahu, bahwa yang tertanam didalam kubur itu hanyalah tinggal raga belaka, yang kemungkinan besar telah menjadi tanah. Dan apakah kita masih berpikir bahwa jiwa yang meninggal itu berada disana? Padahal tidak. Pada saat membersihkan tanah makam tersebut, sebenarnya merupakan semiotika, bahwa kita sudah bersiap untuk mengambil energi yang tersisa didalamnya. Adapun dengan berdoa, baik panjang maupun pendek, tentu akan membutuhkan waktu, dan disaat berdoa tentu dengan rasa yang khusuk, dengan harapan ada kesamaan gelombang antara kedua belah pihak, antara pemancar dan repeater.
Selanjutnya, setelah energi telah merasuk kedalam diri kita, jika energi yang merasuk ada kontaminasi yang tidak sesuai, bukankah besok harinya selama 30 hari kita berpuasa, sepanjang mereka benar-benar mengerti makna puasa, dan tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga.
Dan, bukankah saat orang berpuasa hanya memasukkan energi udara, tanpa unsur materi lain. Sehingga seluruh energi, baik itu negatif maupun positif, akan kembali ke posisi semula sebagaimana asal watak energi itu sendiri. Kenapa demikian? Hal itu karena disaat seseorang berpuasa, akan lebih dominan unsur energinya dibanding unsur materi. Jadi dengan adanya kesamaan unsur energi tanpa terikat oleh materi, akan mengalir unsur energi dari alam kematian itu. Seperti air sungai yang semula kotor, kemudian di suling sehingga akan kembali menjadi layak minum. Mana yang lebih cepat dibandingkan dengan menampung uap air untuk dijadikan air? Bukankah air itu juga berasal dari uap air? Dan inilah pentingnya ilmu destilasi. Dan ini pula yang menjadikan budaya, kenapa disaat hari Raya 1 syawal, banyak masyarakat kembali berduyun-duyun pergi ke makam. Begitu selesai sembahyang mereka segera menuju ke makam. Dengan maksud, selagi jiwa orang itu kembali suci(tidak secara teori), dapat mengambil energi yang mungkin masih tersisa. Sedangkan dirinya sudah memiliki filter untuk menyaring energi menjadi kembali murni.
Yang jadi bahan renungan kedua adalah ; seseorang yang masih hidup, energinya masih bisa diambil dengan berbagai cara, antara lain diambil hatinya, di hipnotis, telepati, disanjung, dirampok, dicuri, dan lain-lain, atau dibuat terharu seperti disaat kita infaq. Apalagi energi pada orang yang mati, tentu akan lebih terima kasih bisa meringankan beban mereka untuk kembali kepangkuan Tuhan seperti semula. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan kajian.
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar