Lanjutan :
Sebelum saya menguraikan tentang bagaimana memunculkan infra merah yang ada didalam diri, sehingga kita bisa berhubungan dengan alam makhluk halus, dan alam ruh, secara penuh kesadaran sebagaimana tulisan saya terdahulu, saya ingin mengingatkan kembali tentang “rasa dan perasaan” kita masing-masing, lewat wisata jiwa.
Selama ini, wisata yang dilakukan hanya wisata raga, untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan nafsu. Saya katakan demikian, karena segala hal yang ada diluar tubuh, dan menimbulkan suatu keinginan didalam diri, menunjukkan bahwa, segala sesuatu yang akan dihasilkan, hanya sebatas untuk menuruti keinginan dari nafsu itu sendiri. Disamping itu, belum tentu segala hal yang merupakan keinginan, akan menjadi kebutuhan dari nafsu, untuk diterapkan sebagai kepentingan dari seluruh manusia batin. Jika keinginan itu dipenuhi tanpa dipertimbangkan manfaatnya, justru akan merusak tatanan, dan keseimbangan, didalam sirkulasi kehidupan manusia batin, yang akhirnya akan mempengaruhi pula pada manusia raga. Sehingga aktifitas lahir dan batin akan terganggu, didalam mencapai tujuan hidupnya.
Sejak seseorang bangun tidur, sampai akhirnya tidur kembali, pikiran akan melayang kemana-mana. Ada yang menginginkan sesuatu untuk dikerjakan. Ada pula yang berpikir, apa yang akan dilakukan, dan ada juga yang waktunya habis dipakai untuk melamun. Bahkan, kadang-kadang terjadi perdebatan, antara perasaan kita yang satu dengan perasaan kita yang lain. Semua berkecamuk didalam diri sendiri. Tetapi, tahukah bahwa dalam keadaan seperti ini, sesungguhnya telah terjadi suatu dialog didalam diri? Minimal telah terjadi dialog antara dua “ Ego”, yakni Ego didalam “nafsu”( bertempat di Liver), dan Ego didalam “hati”. Adanya dialog dua ego pada diri sendiri, bertujuan untuk mencapai suatu kesepakatan, apa yang akan dilaksanakan. Dari sinilah awal terjadinya suatu perasaan yang galau, resah, dan bingung. Apabila Ego yang berada didalam “Jiwa” , tidak cepat tanggap untuk mengambil langkah, akhirnya muncul keraguan. Hal ini, karena jiwa tidak melakukan suatu keputusan apapun, serta tidak melakukan kegiatan sama sekali.
Perlu diketahui, bahwa “Hati” adalah perangkat tubuh yang memiliki, dan memancarkan “energi rasa”, sedangkan nafsu, adalah perangkat yang berupa tempat, untuk menampung pancaran energi dari hati. Kemudian, pancaran energi ini diolah menjadi rasa yang sudah matang, yang dikatakan “ warna perasaan” seperti susah, sedih, kecewa, bahagia dan lain-lain. (Baca kembali tulisan saya tentang perbedaan antara “rasa” dan “perasaan”). Munculnya warna perasaan ini, ditandai dengan munculnya gelombang perasaan, yang merubah keadaan wajah seseorang, sesuai dengan perasaan yang dialami. Karena perubahan wajah ini terus berlangsung, dan memiliki karakter yang sama terhadap semua orang, maka dapat dipastikan, bahwa hampir setiap orang yang melihat, akan dapat membaca keadaan orang yang mengalami perubahan wajah tersebut.
Disamping itu, munculnya warna perasaan ini untuk memberi signal pada “Ego” yang berada didalam jiwa, untuk mengambil keputusan, apa yang seyogyanya diambil, guna memerintahkan “Ego” yang berada di hati. Wujud perintah antara lain meliputi ; seberapa besar, berapa jenis, serta berapa lama, hati memancarkan “energi rasa” kedalam nafsu. Jika hati sudah memancarkan gelombang energi, namun Ego yang berada didalam jiwa tidak segera mengambil keputusan, biasanya akan muncul stress. Mengapa demikian? Karena gelombang energi yang sudah terlanjur dipancarkan tidak bisa ditarik kembali. Gelombang ini akan terus mengalir dan memenuhi rongga nafsu. Bahkan bisa pula terjadi “overload energy” didalam nafsu. Jika masih tetap saja belum ada perintah dari “ego didalam jiwa”, akhirnya nafsu akan mengambil keputusan sendiri, untuk menyebarkan energi keseluruh tubuh manusia raga, maupun manusia batin. Inilah sebabnya, kenapa orang itu menjadi marah secara tiba-tiba, dendam, dan lain-lain. Atau sering dikatakan pula, bahwa orang tersebut sudah tidak bisa mengendalikan diri.
Jika sudah sampai pada tahap tersebut, akan menjadi suatu tindakan, dan perbuatan yang tanpa kendali. Serta tidak akan disadari, walaupun sampai membunuh, atau mencelakakan orang lain. Baru setelah kejadian, muncul penyesalan. Semua itu, adalah semata-mata merupakan akibat dari “ ego didalam jiwa” yang tidak segera mengambil keputusan. Sehingga memunculkan warna perasaan yang tidak terkendali, dan mengakibatkan suatu perbuatan, yang mencelakakan diri sendiri maupun orang lain.
Yang menjadi bahan renungan disini ; kenapa Ego didalam jiwa tidak bisa mengambil keputusan? Jawabnya, karena dangkalnya ilmu pengetahuan, dan sempitnya pengalaman yang tersimpan didalam database manusia, yakni di otak belakangnya.
Oleh karena itu, didalam agama sering ditekankan, agar kita senantiasa mencari wawasan, dan pengetahuan seluas-luasnya, agar database yang dimiliki semakin bertambah, dan Ego pada jiwa, akan lebih arif dan bijaksana didalam mengambil keputusan, guna menentukan seberapa besar gelombang energi yang harus dipancarkan dari Hati menuju Liver.
Bahkan didalam Islam, pada QS. Ali Imran (3) : 190-191,disebutkan :
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, Engkau tidak akan menciptakan ini dengan sia-sia. Engkau maha suci, maka peliharalah kami dari siksaan api neraka.
Hal ini menunjukkan bahwa, betapa pentingnya kedudukan jiwa, sehingga jiwa disuruh berpikir tentang Tuhan yang maha absolut, tentang segala ciptaan Tuhan. Sehingga, jika jiwa sudah terbiasa berpikir tentang segala hal yang bersifat absolut, tentu akan terlatih apabila suatu ketika dihadapkan sesuatu hal yang sepele. Khususnya, didalam mengatasi kedua ego yang berada didalam diri kita sendiri. Sedangkan Tuhan, yang jelas-jelas tidak diketahui dimana tempatnya, jiwa disuruh berpikir, dan mengingat, tentang kebesaran dan karakternya. Apalagi untuk mengingat, dan menguraikan hal-hal yang lebih kecil, tentu akan lebih mudah.
Kesimpulannya, jiwa harus selalu banyak melakukan pengkajian tentang semua isi alam semesta, dengan menyuruh akal pikiran. Serta, melakukan koordinasi terus menerus bersama hati. Agar disaat ego yang berada didalam nafsu membutuhkan energi, bisa dipenuhi dengan tepat, serta berguna bagi kehidupan manusia raga maupun manusia batin. Disamping itu, agar ego didalam nafsu, tidak mengambil keputusan sendiri, yang akhirnya akan mencelakai seluruh tubuh lahir maupun batin. Jika keadaan ini terus menerus dilakukan, tentu sampai di alam kematian, jiwa akan senantiasa tersiksa, karena selalu dibebani sisa-sisa energi yang bersarang didalam nafsu. Tanpa bisa diatasi oleh Ego yang terdapat didalam jiwa, yang telah kehilangan Ruh sebagai motor penggerak, atau penunjang hidupnya.
Namun, jika Ego didalam jiwa senantiasa berpikir, serta menambah wawasan yang lebih luas, maka jiwa yang semula gersang, akan tumbuh menjadi besar dan rimbun, sebagaimana tumbuh dan kembangnya nafsu itu sendiri. Kemudian secara bersama-sama dengan ego yang berada dihati menjadi 3 ego yang menyatu, untuk membangun diri, menjadi manusia yang seutuhnya.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar