Partner | KAENDRA Tour & MICE

Minggu, 01 Januari 2012

SEMIOTIKA DAN HIKMAH PERAYAAN TAHUN BARU



Kemarin, kita masih berada di tahun 2011, dan selang sehari berikutnya sudah berada di tahun 2012. dihari kemarin itu merupakan hari yang khusus, karena 1 tahun hanya berumur 1 hari. Apalagi tanggal 1 Januari 2012 tepat pada hari minggu, sehingga terasa amat tepat sekali jika dirayakan besar-besaran diseluruh dunia. Hampir semua masyarakat dunia merayakan dengan berbagai acara untuk menyambut kehadiran tahun baru masehi itu.
 Terlepas dari semuanya, baik bagi yang merayakan sambil meniup terompet serta menyalakan kembang api, maupun yang duduk merenung dirumah, tahukah apa makna dan semiotika dari peringatan tersebut? Selama ini yang diketahui, bahwa setiap menyongsong tahun baru semua orang sibuk, mau merayakan tahun baru di kota mana, merayakan dengan apa, dan lain-lain. Terutama disaat menjelang jam 12 malam, semua sama-sama memperhatikan jarum jam. Begitu tepat jam 12 malam, tanpa dikomando semua orang membunyikan terompet dengan gegap gempita. Bagi saya, termasuk golongan orang yang tidak pernah merayakan tahun baru, dimanapun saya berada, walaupun saya punya kemampuan untuk ikut merayakannya. Saya malah sering merenung terhadap sikap dan perilaku mereka, yang seolah-olah tersedot oleh magnit yang bernama tahun baru, dan terasa hampa atau kecewa, jika tidak merayakan tahun baru. Bahkan, perayaan ini sudah berjalan 2011 kali sejak awal tahun masehi, tetapi kenapa mereka, atau kita semua tidak bosan? Inilah yang menjadi bahan awal renungan saya, untuk menguak ada apa dibalik tahun baru.


Renungan yang pertama ; Sebagian besar orang tahu, bahwa tahun masehi diambilkan dari sonar sistem, dimana bumi mengelilingi matahari selama 360 - 365 hari dalam 1 tahun, dan ini yang dijadikan tolok ukur, bahwa bumi telah menyelesaikan 1 putaran. Lalu apa yang terkandung didalamnya,  sehingga masing-masing orang begitu gegap gempita menyambut kedatangannnya?


Renungan kedua ; bukankah masing-masing orang sudah punya tahun baru sendiri, sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut? Tetapi kenapa disaat tahun baru masehi, semua orang tanpa terkecuali, tidak memandang agama apa yang dianut, bersama-sama merayakan tahun baru masehi, dan tersublim pada detik-detik jam 12 malam akan berakhir. Walaupun akhirnya, pada keesokan harinya semua orang banyak yang tidur menghabiskan rasa letih.


Dari kedua bahan renungan ini, saya bisa menarik kesimpulan, bahwa pada saat mereka merayakan tahun baru dari agamanya, adalah untuk mengisi otak kanan, untuk mengunduh energi negatif(massa), sedangkan tahun baru masehi, untuk mengunduh energi positif.  Kemudian dari kedua energi itu digabungkan agar bisa menjadi materi atau  kenyataan, yang sering kali saya istilahkan sebagai "cahaya kehidupan”. Namun yang terjadi, telah berapa puluh kali kita merayakan kedua peralihan tahun itu? Alih-alih untuk mendapatkan cahaya kehidupan, sedangkan untuk merubah kehidupan saja, makin tahun semakin sulit, alam semakin tidak akrab lagi dengan kita. Bencana alam, tindakan kriminal, dekadensi moral, semakin menjadi perhiasan bagi kita sehari-harinya. Padahal, disaat kedua perayaan tahun baru itu berlangsung, lebih kurang sekitar 7 milyard manusia sama-sama menyampaikan ucapan “selamat tahun baru”. Yang sering terjadi justru tidak selamat. Satu sama lain saling bentrok, selesai ucapan selamat disampaikan. Quo vadis?

Mengapa terjadi demikian? Jawabnya, karena  pada masing-masing orang, antara otak kiri dan otak kanan tidak pernah sinkron. Kedua otak, tidak pernah mengunduh energi positif dan negatif yang ada dialam semesta. Atau, apabila mengunduh energi, tidak ditempatkan pada folder yang tepat, sehingga suatu saat ketika dibutuhkan, tidak bisa membantu untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.

Menurut saya, langkah pertama yang harus kita lakukan, adalah  melakukan perubahan pola pikir secara total.

Pertama; pada saat tahun baru keagamaan sesuai yang dianut, semua merenungi diri. Sikap dan perilaku bagaimana yang akan disempurnakan, apa yang salah dan apa yang pernah dilakukan pada hari-hari kemarin. Pernahkah kita membenci, dan melukai hati seseorang? Pernahkah kita berbuat jahat dan lain-lain? Serta, jangan sekali-kali berpikir tentang perbuatan negatif orang lain pada kita, melainkan catatlah perbuatan baik orang lain pada kita. Kemudian pada hari-hari yang akan datang, tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang menurut kita kurang baik. Jadi yang harus direnungkan disini, adalah segala perbuatan negatif yang pernah dilakukan pada orang lain. Dan bukan perbuatan positif yang pernah kita lakukan. Keadaan semacam ini akan membuat energi yang merasuk kedalam diri kita akan murni sebagai massa, dan tidak tidak campur aduk dengan energi positif. Setelah itu baru kita mengunduh energi massa dari makro kosmos.


Kedua ; pada saat akan mengawali tahun baru masehi, sebelum kita mengunduh energi positif dari matahari( sesuai dengan jalur edar bumi mengelilingi matahari yang memberikan terang dan kehidupan), terlebih dahulu  mengadakan evaluasi diri.  Kilas balik dalam 1 tahun, tentang segala apa yang telah diraih. Juga, kendala apa yang dialami, apa saja kegagalan yang ditemui, kenapa bisa gagal, serta apa akibat samping dari kegagalan itu. Termasuk segala dampak negatif, yang ditimbukan oleh aksi kita. Hal ini harus benar-benar diperhatikan, jika kita memang ingin berubah kedalam kehidupan yang lebih baik. Jangan sampai ada yang ketinggalan tidak dipikirkan, serta harus tuntas. Setelah itu, baru mengunduh energi positif di makro kosmos, apa yang kita butuhkan pada keesokan harinya,  untuk meng-upload energi yang akan kita olah pada setiap saat, kedalam langkah pelaksanaan selama 1 tahun.


Detik-detik terakhir, perpisahan dan permulaan pergantian tahun, pada umumnya dirayakan dengan meniup terompet, semata-mata merupakan semiotika, bahwa waktu mengunduh kedua energi telah berakhir, maksimal selama 12 jam, dimulai dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam. Setelah itu, pada keesokan harinya jam 24.01 sampai jam 12 siang berikutnya, kita harus sudah meng-upload ke makro kosmos, segala apa yang menjadi impian, angan-angan atau cita-cita, untuk bersatu dengan energi-energi lain, menuju muara makro kosmos(lautan energi). Sehingga, jika sewaktu-waktu kita membutuhkan energi, baik positif maupun negatif, kita tinggal mengunduh kedua energi, yang telah bersenyawa satu sama lain di makro kosmos, serta yang memiliki karakter setengah jadi, untuk kita ciptakan menjadi materi, seperti apa yang telah kita harapkan.


 Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar