Selama ini disaat terjadi gerhana bulan dan gerhana matahari, dari kalangan ilmuwan akan mengatakan itu hanya merupakan peristiwa alam belaka. Disaat cahaya matahari ditutupi oleh bulan sehingga tidak bisa sampai ke bumi dikatakan gerhana matahari. Begitu pula sebaliknya, disaat sinar matahari ditutupi oleh bumi, sehingga sinar matahari tidak bisa sampai ke bulan, dikatakan gerhana bulan.
Namun bagi orang-orang kuno, disaat ada gerhana bulan, maupun gerhana matahari, semua orang akan ribut. Bagi yang hamil disuruh bersembunyi di kolong tempat tidur, dan masyarakat yang lain mengambil nyiru dan dipukuli terus menerus, bahkan ada yang berteriak-teriak begitu nyaring. Dengan maksud agar supaya gerhana segera berlalu. Sebab katanya, bulan atau matahari sedang dimakan oleh makhluk raksasa, atau ular naga yang besar. Dengan membunyikan alat-alat tersebut diharapkan, bulan atau matahari yang sedang dimakan makhluk raksasa itu segera dilepaskan.
Sedang dikalangan ilmuwan, merupakan kesempatan emas untuk mempelajari segala dampak yang terjadi baik pada manusia, khewan, flora dan fauna, disaat gerhana terjadi. Sementara di kalangan Islam, akan segera melakukan sholat gerhana. Fenomena alam ini amat menarik untuk menjadi bahan renungan. Terlebih lagi, jauh hari disaat dunia akan mengalami gerhana, telah diberitakan lebih dahulu, bahwa pada tanggal sekian, akan terjadi gerhana.
Yang menjadi bahan renungan disini; begitu pentingkah gerhana bulan dan matahari itu bagi kita? Sehingga kalau terjadi gerhana, khususnya matahari, diantara kita banyak yang meluangkan waktunya, untuk sekedar melihat sekilas kejadian gerhana tersebut. Siapakah sesungguhnya yang menggerakkan hati kita, agar selalu tertarik akan adanya gerhana? Bahkan, dahulu pernah terjadi dikala di Indonesia akan terjadi gerhana matahari total, banyak para ilmuwan dari dalam, dan luar negeri berdatangan, dengan peralatan-peralatan modern, sampai hotel penuh. Tepatnya ada di Tanjung kodok jawa timur. Untuk mempelajari dampak psikologis terhadap manusia dan khewan.
Dari sudut pandang metafisika, juga tidak mau kalah untuk memperhatikan, dan setelah bertahun-tahun saya merenungi terhadap fenomena alam ini, akhirnya saya ketemukan jawabannya yang amat sederhana sekali. Sebagai berikut :
Gerhana Bulan :
Pada saat sinar matahari terhalang oleh planet bumi untuk menuju satelit bumi yaitu bulan, pada saat itu, energi massa yang diterima bulan tidak sempurna. Sehingga cahaya bulan yang mengandung energi massa terhadap bumi juga tidak sempurna. Jika energi massa yang diterima bumi tidak sempurna, maka tidak sempurna pula, energi massa yang ada pada makhluk-makhluk yang berada di bumi, khususnya manusia. Dengan demikian akan mempengaruhi pula terhadap energi positif pada manusia. Baik terhadap jumlah energi yang dimiliki, maupun unsur keseimbangan kedua energi yang telah di up load oleh manusia ke alam makro.
Gerhana matahari :
Pada saat sinar matahari terhalang oleh bulan untuk menuju bumi, maka energi positif matahari yang menuju bumi tidak akan bisa sempurna diterima oleh bumi. Sehingga energi positif yang dipancarkan bumi, juga tidak akan sempurna diterima oleh makhluk-makhluk yang ada di bumi. Yang otomatis pula akan mempengaruhi manusia didalam mengunduh energi diangkasa.
Dengan demikian, jika kita tidak melakukan apapun disaat gerhana terjadi, akan berakibat bahwa kumpulan kedua energi (posisitif maupun negatif) yang pernah kita upload diawal tahun, tidak akan pernah dapat kita unduh sebagaimana yang kita harapkan, serta yang kita butuhkan setiap saat. Seperti halnya disaat kita menanam padi, kita tidak mendapatkan hasil panen, ketika waktu penyerbukan terjadi hujan yang deras. Sehingga akan merusak terhadap periode pembuahan tanaman itu sendiri.
Begitu pula halnya terhadap gerhana bulan dan matahari, adalah merupakan pertanda, bahwa terjadi gangguan pada biji tanaman energi positif, maupun energi negatif di makro kosmos. Untuk lebih jelasnya silahkan membaca kembali tulisan saya tentang “ Hikmah dan semiotika tahun baru”.
Sholat gerhana, samadi, memukul benda-benda sampai nyaring bunyinya, atau lain-lain, manusia dengan kelebihan yang dimiliki, akan bisa memancarkan tambahan energi, baik positif maupun negatif, yang memancar ke makro kosmos. Jika hal ini terus menerus dilakukan, serta penuh ketekunan dan ketulusan, tentu akan menemukan kesamaan frekwensi. Seberapa besar energi yang hilang, dan seberapa besar yang harus kita sulang akibat terjadinya gerhana, akan bisa kita ketahui. Dengan harapan, akan bisa menyulang kembali benih tanaman energi di makro kosmos(replanting energi) seperti asalnya. Sehingga dengan demikian akan tetap ada keseimbangan energi, dan dapat kita unduh, serta kita wujudkan menjadi unsur materi seperti apa yang kita harapkan.
Jadi kesimpulannya ; jika terjadi gerhana baik matahari maupun bulan, maka akan berpengaruh pada kedua energi yang pernah kita tanam. Baik mengenai jumlah, nilai, maupun frekwensi energi itu sehingga akan mempengaruhi pula terhadap hasil akhir yang kita harapkan untuk memenuhi mikro kosmos.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar