Partner | KAENDRA Tour & MICE

Kamis, 23 Februari 2012

AKAL ADALAH "CAHAYA HATI"



Kita sering mendengar tentang ungkapan bahwa “ akal adalah pelita hati “. Namun sampai sejauh ini sudah banyakkah diantara kita yang benar-benar mengerti frasa dimaksud? Jika sudah mengerti, tetapi mengapa masih banyak orang yang mengalami kesusahan, penderitaan serta penyimpangan didalam menjalani kehidupannya? Bahkan yang baru-baru ini terjadi, adanya kerusuhan dan pembakaran yang dilakukan di beberapa daerah, khususnya yang terjadi diantara para narapidana di desa Krobokan Denpasar Bali. Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang apabila dituliskan disini tidak cukup waktu, antara lain kasus, perkelahian massal, perampokan, penyerobotan hak atas tanah, pembunuhan yang hanya disebabkan oleh hal-hal yang sepele.


Semua itu terjadi, menurut saya karena akal sudah tidak berfungsi lagi memberikan pelita bagi hati manusia. Disamping diantara kita tidak mengerti betul terhadap keberadaan akal itu sendiri, juga tidak tahu makna sejati terhadap makna sejati dari akal itu sendiri.

Selama ini yang kita ketahui hanya sebatas secara harfiah belaka, dimana akal adalah untuk berpikir tempatnya ada diotak yang berada di kepala. Jika kita berpikir tentang otak yang ada di kepala, tentu akan berpikir bahwa seseorang akan menjadi pandai bila pendidikan formal yang dilalui semakin tinggi. Dan jika pendidikannya rendah, tentu semakin tidak bisa berbuat apa-apa, karena dianggap bodoh, sehingga wajar saja jika kehidupannya makin susah dan menderita. Namun kenyataannya, banyak orang yang sudah berpendidikan tinggi, tetapi kenapa masih banyak yang mengalami kesulitan hanya sekedar untuk mencari penghasilan yang layak? Dan mengapa masih banyak pula para pengangguran padahal sudah memiliki titel sarjana?

 Sementara tidak kurang pula mereka yang pendidikan formalnya rendah tetapi cukup kaya raya, penuh sopan santun, serta bisa menciptakan banyak lowongan pekerjaan bagi orang-orang lain. Dan jika dikaitkan dengan pendidikan formal di sekolah, belum tentu mereka dahulunya anak yang pandai, malahan banyak yang hanya lulusan Sekolah Dasar namun tidak pernah kesulitan untuk mencari kekayaan. Bahkan banyak pula yang hanya drop out perguruan tinggi, namun kekayaan yang dimiliki masuk 10 besar orang-orang terkaya di dunia. Berarti adagium bahwa pendidikan semakin tinggi akan semakin pandai pula mencari kekayaan tidak berlaku.

Dari sini saya berkesimpulan, bahwa selama ini yang dilatih adalah otak yang ada di kepala yang memang hanya bisa berpikir secara formal belaka. Berpikir terhadap segala sesuatu yang sifatnya riel dan faktual, dari empirik yang satu ke empirik yang lain. Begitu menghadapi hal-hal yang menyangkut batin, dan non empirik maka otak yang ada di kepala menjadi macet tidak berfungsi. Sebab otak yang ada dikepala hanya berpikir jika ada memori yang telah dimiliji. Atau setidaknya ada pengalaman baik yang pernah dilakukan oleh dirinya sendiri, maupun pengalaman yang dilakukan oleh orang lain, kemudian diterapkan pula oleh dirinya. Hal-hal semacam ini jika diterapkan sifatnya hanya gambling, bisa berhasil dan bisa tidak. Semakin banyak yang mencontoh untuk melakukan, makin lama tingkat keberhasilannya akan semakin berkurang, sesuai dengan hukum bisnis yakni “supply, dan demand”. Jika hal ini diterapkan terus menerus, suatu ketika tentu akan mencapai pada titik jenuh. Yang kemudian akan menjadi pemicu adanya kebuntuan berpikir, antara manusia yang satu, dengan manusia yang lain, akan saling berbenturan kepentingan, berbenturan kehendak dan keinginan, yang ujungnya akan menimbulkan persilangan pendapat, kemudian menimbulkan pertikaian. Bagi yang memiliki kekuasaan, akan mempengaruhi pada kekuasaan yang lain, saling adu kuat yang akhirnya muncul menjadi kelompok-kelompok kecil, kemudian menyatu membentuk kelompok besar, yang kepentingannya sama. Dari sini kemudian muncul asal mula adanya hukum rimba, siapa kelompok yang kuat, maka kelompok itulah yang menang. Homo homini lupus( manusia adalah serigala bagi manusia yang lain).


Sebagaimana pada tulisan saya terdahulu, bahwa akal yang sebenarnya, ada didalam hati manusia. Perangkat akal inilah yang harus selalu dipakai oleh manusia, untuk menyusuri kehidupan dimuka bumi ini. Dia wataknya tidak pernah terbatas terhadap segala hal yang bersifat materi, namun bisa menjangkau keseluruh alam, baik empirik maupun non empirik. Tidak mengenal sekat-sekat penghalang apapun, untuk melihat dan mengarungi seluruh alam semesta ini. 


Mengapa demikian? Karena hati manusia, tidak hanya dipakai untuk memompa darah saja, namun juga memiliki penglihatan batin untuk menembus segala ruang dan waktu, yang sering disebut “mata hati”.  Perangkat “mata hati” akan bisa melihat jika mendapat penerangan yang sempurna, agar hati bisa berpikir dan mengambil suatu keputusan, terhadap apa yang harus dilakukan. Cahaya penerangan ini dilakukan oleh akal yang ada didalamnya, yang disebut “ Pelita hati”. Bentuk penyerapan cahaya, yang dilakukan oleh akal yang berada didalam hati, berupa getaran longitudinal, baik disaat akal menerima getaran dari luar tubuh, maupun disaat memancarkan cahaya dari dalam tubuh. Perangkat penerima dan pemancar getaran ini, letaknya  ada diserambi kanan hati sebelah atas, dan sebelah bawah, wujudnya berupa 2 buah noktah. Yang sebelah atas memancarkan cahaya, dan sebelah bawah sebagai penerima cahaya. (Untuk lebih jelasnya bisa dibaca pada tulisan-tulisan saya terdahulu). Dengan demikian, hati akan senantiasa bisa melihat, merenungkan, dan berpikir terhadap langkah apa yang akan diambil, untuk menjadi keputusan terhad`p masalah yang dihadapi. Kemudian, disalurkan lewat sebuah warna rasa yang tepat, dan ditempatkan didalam “hepar”, sebagai tempat nafsu manusia bersemayam. Dari sini, kemudian dikirim ke otak dikepala manusia, untuk diwujutkan menjadi suatu tindakan. Perjalanan hasil pikiran dari hati ini, yang semula berwujut non empirik, diolah agar menjadi empirik, melewati filter otak sebelah kanan. Kemudian menuju ke otak sebelah kiri, sampai akhirnya menjadi suatu tindakan, dari kehendak menjadi sebuah cipta, berlanjut menuju sebuah karya. 


Jika hal ini dilatih terus menerus, tentu tidak akan menutup kemungkinan bagi mereka yang mau menjalani secara penuh kesabaran, maka tidak akan menutup kemungkinan bahwa orang tersebut telah memiliki “hati nurani”. Dan lambat laun orang tersebut akan bertemu dengan “ jati diri”. Jika sudah bertemu dengan jati diri, maka secara tidak langsung orang itu akan bertemu dengan Tuhannya sebagai pencipta.  Jika sudah demikian, apakah manusia masih mendapatkan kesulitan untuk mengarungi dunia ini?


Kesimpulannya : lewat tulisan ini, saya mengajak semua orang untuk tidak menggunakan otak yang ada dikepala, dan kembali menggunakan akal sebagai pelita hati, agar hati tidak buta dan bisa berpikir dengan jernih dan tepat sasaran. Dan, supaya otak di kepala tidak berpikir sebelum diperintah, hanya ada 1 jalan, yakni dengan sikap pasrah. Kemudian mengembalikan sebuah pemikiran, bahwa segala sesuatu tidak akan mungkin terjadi, tanpa diketahui dan diperintahkan oleh Tuhan. Dengan demikian, hati nurani yang mungkin telah hilang, akan kembali ditemukan serta kembali berfungsi. Serta,  masing-masing orang bisa menemukan kebahagiaan, dan kesejahteraan didalam hidupnya. Selanjutnya saling berlomba  bersama bangsa-bangsa lain, yang telah lebih dahulu maju, serta tidak berputar-putar, yang akhirnya masuk kedalam lubang hitam kehidupan, dan hilang, entah kemana.



Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar