Pernahkah kita menyadari bahwa raga manusia itu hanyalah sekedar tempat dari manusia batin, agar lebih memudahkan bagi manusia untuk berinteraksi sosial antar sesamanya. Dan supaya bisa dengan mudah berinteraksi sosial, maka kita harus lebih dahulu merias manusia batinnya. Sehingga dengan demikian, manusia batin yang telah dikelola dan dirias sesuai dengan keimanan, akan memunculkan cahaya yang mengaliri seluruh manusia lahirnya menjadi lebih bercahaya, serta bisa membuat orang-orang disekitarnya menjadi senang pada kita, merasa tentram, penuh cinta, penuh kekaguman dll.
Namun didalam kenyataannya, banyak orang yang salah kaprah, dan bukan manusia batinnya yang dikelola dan dirias, tetapi justru raganya yang dirias sedemikian rupa, dengan cara menciptakan perangkat-perangkat baru yang dikatakan perhiasan, pakaian, rumah yang megah, operasi wajah, mobil yang mewah dan sebagainya. Dengan prilaku seperti ini kita tidak menyadari, bahwa semua perhiasan itu, bukan asli ciptaan Tuhan. Sehingga, yang semula agar manusia batinnya dapat dikenal oleh orang lain, akan berubah, bahwa manusia lahirnya yang lebih dikenal.
Yang lebih parah lagi, nama yang telah disandang sejak lahir, bahkan mungkin diadakan selamatan untuk memberikan nama itu, seketika menjadi hilang disaat ada kedudukan, dan predikat lain yang kita sandang. Seperti halnya disaat menjadi bupati, menteri, presiden dan lain-lain, kita lebih bangga dipanggil dengan jabatan yang disandang, dibandingkan namanya sendiri. Bagi yang perempuan juga demikian, bahkan lebih sering pergi ke salon kecantikan, butik, shopping dan sebagainya. Sehingga jika keadaan semacam ini dibiarkan berlarut-larut, akan menyebabkan manusia batin semakin tenggelam, mengikuti apa yang menjadi kehendak manusia lahir. Keberadaan manusia batin akan semakin terasing, dan semakin tersisihkan dirumahnya sendiri yang disebut raga itu. Makin lama, manusia akan semakin ada rasa ketergantungan pada raganya, dan akan semakin jauh dari Tuhan yang menciptakan manusia. Kenapa? Karena yang mendapat wewenang bukan manusia lahir, tetapi manusia batin. Yang sama halnya jika kita bukan bupati, tetapi mengaku sebagai bupati, bukan polisi mengaku sebagai polisi, apa yang terjadi?
Jika sudah demikian, percuma saja kita memeluk suatu agama, jika hanya diterapkan pada manusia raga, hasilnya hanya sebatas raga, karena didalam mengambil kesimpulan juga hanya sebatas raga, yang sudah barang tentu hanya seputar apa yang menjadi kepentingan raganya sendiri, serta kelompoknya, dan bukan untuk kepentingan bersama sesama manusia.
Kesimpulannya, jika kita ingin kembali menjadi manusia seutuhnya, maka kembalilah kepada kodrat dasar sebagai manusia batin, dengan menghiasi manusia batin, sesuai apa yang menjadi kebutuhannya. Semakin sempurna menghiasi manusia batin, lewat salon kecantikan batin, yakni “iman” sesuai dengan agamanya masing-masing. Jika hal ini dilakukan, baik diminta maupun tidak, akan memunculkan cahaya, tidak saja menghiasi manusia lahirnya, melainkan akan tembus sampai kelangit-langit semesta alam ini. Manusia batin yang akan mencari perhiasan yang cocok bagi manusia lahirnya. Dan bukan manusia lahir yang memilih, perhiasan apa yang cocok bagi manusia batinnya, yang cepat atau lambat, akan menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Akhirnya, akan mengalami keputus asaan, jika apa yang dikehendaki oleh manusia lahir, tidak dapat dipenuhi. Dengan mementingkan manusia batin, maka kepercayaan diri akan muncul. Jati diri akan selalu menuntun serta mencari jalan, sehingga tidak pernah lagi ada istilah salah jalan, tidak akan gampang susah, tidak gampang marah, dan yang penting tidak akan menderita hidup didunia ini.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar