Dalam dekade ini masalah korupsi semakin marak serta semakin terang benderang, mulai dari tingkatan yang rendah di desa, sampai tingkatan yang tinggi di pusat pemerintahan. Sudah banyak peraturan perundangan dibuat, alih-alih korupsi akan berkurang, serta bisa membuat efek jera, justru semakin menggurita, dan merasuk kedalam sel-sel kehidupan manusia. Sudah tidak punya rasa malu, bahkan yang terkena jerat kasus korupsi, bisa tetap santai dan ketawa-ketawa, walaupun sudah dihukum. Alasannya karena sengaja dipolitisasi, atau memang sengaja dijatuhkan. Semua orang tidak habis pikir melihat ulah mereka yang terlibat. Baik yang sudah terjerat hukum maupun yang masih selamat. Sudah banyak para pakar dibidangnya masing-masing, memberikan ratusan, bahkan ribuan teori tentang adanya korupsi. Tetapi sampai detik ini, belum ada yang mempan, dan korupsi tetap saja meraja lela. Anti virus korupsi masih belum bisa menghilangkan penyakit korupsi yang benar-benar ampuh. Jangankan untuk mencegah, sedangkan yang sudah terkenapun, masih berusaha untuk mengelak, merasa mereka tidak korupsi.
Mengapa bisa terjadi seperti itu? Padahal, penyakit yang diciptakan Tuhan saja bisa ditemukan obat yang ampuh. Mulai dari malaria, typus, kanker, HIV AID, hepatitis, tubercolosis, gagal jantung, dan lain-lain, sudah ditemukan obatnya, dan bagaimana cara mengatasinya. Walaupun penyakit yang diciptakan Tuhan ini diketahui bisa mematikan, namun kenyataannya sudah banyak yang bisa sembuh. Tetapi mengapa penyakit korupsi yang diciptakan manusia, yang semakin banyak mematikan sendi-sendi kehidupan, tidak bisa diatasi?
Hal itu terjadi, karena kita yang dilibatkan untuk mencari obat anti korupsi, tidak benar-benar mau berpikir secara komprehensif. Tidak benar-benar ikhlas, sehingga teori-teori yang kemudian dijadikan undang-undang, tercipta karena iri, dengki, dan dendam. Atau bahkan ikut pula korupsi. Sehingga dibuatlah undang-undang yang bisa menyelamatkan diri mereka sendiri, jika suatu ketika terkena kasus yang sama. Sedangkan masyarakat juga begitu, tidak ikut berpikir untuk mencarikan jalan keluar. Yang ada hanya menghujat, menghina, mencaci maki, membenci, bahkan bisa pula berlaku anarkhis terhadap mereka. Lalu, bagaimana seandainya kasus itu suatu ketika dialami oleh mereka sendiri? Jawabnya akan sama, yakni ada orang yang sengaja menjatuhkan, dan lain-lain.
Seseorang yang mencari harta kekayaan dari hasil korupsi, atau dengan cara yang menyimpang dari kebenaran, semua diawali dari “rasa tidak sabar”. Dan ingin mendapatkan harta kekayaan secara cepat. Dengan tidak sabar, “hati” tidak akan bisa memerintah “akal” untuk berpikir. Jika hati tidak dilatih untuk berpikir, lambat laun hati akan buta. hati bisa berpikir, jika diberi kesempatan, dan dibimbing untuk berpikir. Selanjutnya, bagaimana mungkin akan bisa menyelesaikan masalah, jika “hati” tidak pernah mendapat pelajaran terhadap masalah yang akan ditangani. Dan apa mungkin bisa mendapat pelajaran, jika tidak pernah membaca? Dan mungkinkah bisa membaca, jika yang membaca hanya otak yang ada dikepala. Sementara, hati tidak memberi tahu apa yang seharusnya dibaca. Jika otak yang membaca, hanya sebatas apa yang nampak, dan yang dilihat. Hanya sekedar segala hal yang berkisar pada fakta realita belaka. Sedangkan permasalahan yang dihadapi belum pernah dialami. Sehingga belum disimpan didalam memory sebagai pengalaman. Andaikata bisa membaca, apa artinya jika yang dibaca tidak tepat sasaran, sesuai dengan apa yang menjadi masalah. Seperti halnya kita belajar sejarah, ternyata yang dihadapi adalah ujian biologi.
Apa yang harus dibaca? Adalah segala hal yang ada dialam semesta. Dengan apa kita harus membaca? Adalah dengan “hati”. Bagaimana hati mendapat petunjuk agar yang dibaca tidak salah? Adalah dengan petunjuk lewat kitab agama yang ada. Kemudian, disesuaikan dengan ilmu yang dimiliki, dan bukan ilmu yang dimiliki orang lain. Dan, jangan biarkan hati hanya sekedar membaca dan meniru tanpa memahami, dengan apa yang ditemukan orang lain.
Intinya : harus dimulai dengan kesabaran. Dari sabar, hati akan tergerak untuk membaca, dari membaca bisa memahami. Selanjutnya akan muncul pengertian. Dari pengertian, akan muncul suatu tindakan untuk melaksanakan, setelah itu akan muncul pengetahuan. Pengetahuan, jika sudah dilaksanakan, akan muncul suatu ide, kemudian muncul kehendak menuju cipta, akhirnya menjadi sebuah karya. Disaat karya muncul, hati akan kembali melihat, mendengar, membaca, dan berpikir, untuk mencari jalan keluar. Kemudian mencipta dari masalah menjadi peluang, lalu tercipta menjadi sebuah karya. Jika keadaan hati terus menerus berkesinambungan seperti ini, maka hati akan semakin terang benderang. Penuh dengan energi makna, yang bisa menyelesaikan segala masalah apapun, yang ada di alam semesta ini.
Tuhan menciptakan “hati manusia”, agar bertugas untuk melihat, membaca, mendengar, serta untuk merasakan dengan sebenarnya. Kalau tidak, dan hanya menyerahkan kepada otak dikepala saja, maka yang muncul adalah nafsu yang datang tidak terkendali. Padahal, nafsu dicipta hanya merupakan kekuatan berupa energi belaka. Nafsu akan bekerja, kalau sudah mendapat cahaya dari hati, yang ditampung didalam perut manusia batin disebut ”hepar”yang berisi “warna perasaan”. Hati akan sempurna, jika selalu melihat, berpikir dan membaca, mendengar, dan sebagainya. Tetapi, “hati” tidak akan dapat berpikir, jika jiwa tidak sabar, serta tidak memberi kesempatan kepada hati, untuk mengkaji seluruh permasalahan yang ada. Jadi, sabar adalah kunci segalanya. Dengan sabar, “hati” akan membaca. Dari membaca, “hati” menjadi mengerti, dan memahami. Dengan selalu membaca, “hati” akan semakin bening.
Yang menjadi permasalahan disini adalah, berapa lama seseorang bisa melaksanakan perasaan sabar disaat mengalami masalah, adalah sangat tergantung dari beberapa hal, meliputi sebagai berikut :
1. Apakah kelahiran pemilik jiwa itu, terlahir secara normal atau tidak. Dalam arti, dia lahir lewat vagina atau operasi caesar. Yang terbaik adalah; bayi harus lahir lewat vagina, sebab janin itu tercipta, lewatnya juga dari vagina. Dari mana bibit itu masuk, maka dari jalan itu janin harus keluar. Darimana “titik” itu masuk, maka dari situ pula “titik” harus keluar, terkecuali memang terpaksa ;
2. Pada saat sudah terlahir, apa mendapatkan susu asli dari ibunya, dari orang lain, atau bahkan dari susu sapi. Jika asupan susu yang diberikan kepada bayi dari orang lain, atau dari binatang ternak, maka sedikit banyak, karakter dari pemberi susu itu akan menurun kepada bayi ;
3. Sejak bayi sampai besar, minimal sampai masa puber, lebih banyak diasuh oleh siapa? Diasuh oleh ibunya sendiri, atau lebih banyak diasuh oleh pembantu, dan suster. Jika lebih banyak diasuh oleh pembantu atau suster, pada umumnya anak akan lebih dekat dengan siapa yang merawatnya. Sehingga, kedekatan batin ibu dan anak akan jauh, serta tidak ada getaran batin diantara keduanya, selain hanya kedekatan biologis saja. Dimana anak itu pernah dilahirkan oleh ibunya. Sedangkan suasana psikhologis, lebih terbentuk oleh pembantu, atau suster yang merawatnya.
Ketiga point diatas, benar-benar harus diperhatikan, jika kita menginginkan anak yang berbhakti sesuai dengan yang dikehendaki.
Sebab, bagaimana mungkin kita sebagai seorang ibu bisa mendidik, membina, serta mengarahkan jiwa anak seperti yang kita kehendaki, sementara tidak ada ikatan batin antara anak dengan ibunya. Sedangkan getaran batin tidak pernah mendapatkan. Sementara, sejak anak umur 3 tahun, anak sudah mengikuti pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah sampai akhirnya ke perguruan tinggi. Sehingga anak, lebih banyak mendapatkan pendidikan pada otak kirinya. Keadaan ini akan menyebabkan anak sampai dewasanya kelak, akan senantiasa mengalami kehampaan dalam hidup. Tiada kasih sayang, tidak pernah mendapat bimbingan, yang kemudian berkumpul dengan rekan-rekannya yang lain. Serta, yang juga sama-sama mengalami penderitaan serupa.
Dari sini, kemudian akan muncul karakter baru yang tercipta dari lingkungan dimana dia berada. Dia akan lebih menurut pada apa yang dikehendaki lingkungannya, dibanding dari apa yang dikatakan oleh ibunya. Jika hal ini terus berkelanjutan tidak segera diatasi, anak akan cepat putus asa. Bahkan disaat dewasa, dan sudah berkeluarga, karakter lingkungan itu senantiasa mempengaruhi kehidupannya. Sehingga tidak heran, jika mereka gampang tersangkut hal-hal yang negatif, mengkonsumsi narkoba, minuman keras, gampang bertindak arogan, dan lain-lain. Hal itu semata-mata, karena sejak kecil mereka miskin kasih sayang, selain hanya materi. Akibatnya, disaat materi sudah dimiliki, lebih banyak dihabiskan untuk membeli non materi seperti narkoba, minuman keras, dan lainnya. Baginya hanya punya satu prinsip, bagaimana dapat mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Dengan harapan, jika materi telah didapatkan, maka non materi yang berupa kebahagiaan dapat dibeli. Tetapi, alih-alih kebahagiaan dapat dibeli, justru kehampaan dan kehancuran yang diderita, semakin bertambah, didalam kehidupannya sehari-hari. Semakin lama semakin mengarah pada kehidupan yang hedonis, apatis, anarkhis terhadap lingkungan.
Jadi, jika sudah terlambat seperti ini, maka ajaran agama yang sempurna sekalipun, tidak akan bisa mengembalikan mereka kepada karakter awal, apa dan mengapa, tujuan manusia dihidup kan di dunia ini. Andai mereka kelihatan alim, sopan, dan baik, hanya sebatas raga, bukan jiwa. Tetapi jika suatu saat ada masalah, baru orang lain akan mengetahui, apakah orang tersebut beriman atau tidak, berwatak mulya apa tidak. Sebab, agama hanyalah semata-mata merupakan petunjuk, untuk mengantar para orang tua, didalam mendidik anak-anaknya, menuju kehidupan yang benar, sesuai dengan kodratnya masing-masing. Dan, kehidupan yang benar dapat dijalani, apabila hatinya tidak buta, tetapi peka. Sehingga selalu dapat membaca dengan bening dan benar, terhadap segala semiotika yang diturunkan oleh Tuhan, lewat fenomena yang terjadi di alam semesta ini.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar