Orang yang kaya materi, cobaan berat yang datang kepadanya, pasti akan mengarah kepada non materi. Semakin kaya dirinya, akan semakin besar pula cobaan non materi yang akan menimpa. Karena, yang dirindukan adalah non materi yang membuat kehidupannya akan semakin hampa, tidak bahagia, tidak harmonis dan lain-lain. Jika dia selalu mensyukuri, dengan selalu memikirkan orang lain yang hidup didalam kemiskinan, maka non materi itu akan pula didapatkan, tanpa dia harus mencari. Dan, akan dapat menikmati kehidupan yang penuh bahagia, tentram, dan damai.
Akan tetapi, jika cara mensyukuri salah langkah, apalagi membuat kehidupan yang serba hedonis, makin lama materi yang didapat, tidak akan pernah membuatnya bahagia, dan semakin membuat kehidupannya akan penuh dengan penderitaan. Bahkan, bisa pula membuat dia mati terkubur oleh materi yang didapatkan. Sementara non materi yang didambakan, tidak akan dapat diraihnya. Disamping itu, seseorang yang kekurangan non materi didalam hidupnya, akan merubah karakternya menjadi binatang buas yang menjadi pemangsa, atau dimangsa oleh binatang buas lainnya.
Adapun seseorang yang hidup didalam non materi, atau serba kekurangan, dan bukan karena merasa kurang, cobaan berat yang datang kepadanya pasti berupa materi. Semakin miskin dirinya, akan semakin besar pula godaan materi yang menerpa. Karena yang dirindukan adalah materi, yang membuat kehidupannya penuh dengan kesusahan, dan penderitaan. Jika dia selalu tabah dan sabar, serta penuh keprihatinan, dengan senantiasa berusaha, untuk membangun api semangat didalam dirinya. Niscaya, lambat laun materi itu akan didapat, tanpa kehilangan non materi, yang memang sejak awal telah disandangnya. Dan semakin lama, jumlah materi yang melingkupi kehidupannya akan semakin bertambah.
Akan tetapi, jika cara menjalani kesabaran, dan membangun api semangat itu salah, serta selalu mengeluh, atau iri dan dengki, maka api itu akan mati. Bahkan, bisa pula menjadi api dendam yang akan membakar dirinya sendiri. Dan kemudian, akan merubah karakternya menjadi kanibal seperti serigala, yang tidak segan untuk memakan sesamanya. Atau bahkan, bisa bersama-sama menyerang orang-orang dari golongan yang kaya materi. Akhirnya, orang tersebut lambat laun akan kehilangan non materi, yang sejak awal telah disandang. Sementara, materi yang didambakan akan hilang melayang. Atau mungkin, hanya tinggal sisa-sisa impian, didalam perut binatang buas yang telah memangsanya. Dan, binatang buas ini tercipta dari nafsu orang yang kaya materi, tetapi selalu serakah untuk meraih segalanya.
Intinya : Jika mereka yang hidup didalam serba kekurangan, baik yang berada didalam posisi kaya materi, maupun non materi, sepanjang didalam meniti langkah kehidupannya secara benar, serta sesuai dengan kodrat awal, mereka akan mendapatkan apa yang belum dimiliki. Selanjutnya, dari kedua karakter itu akan menumbuhkan “hati nurani”, yang lambat laun bersemi semakin rimbun, dan menghasilkan buah, berupa “cahaya kemulyaan” bagi dirinya. Serta, akan menimbulkan kententraman, dan juga kedamaian, bagi masyarakat yang berada disekitarnya.
Sebaliknya, jika mereka salah langkah didalam meniti kehidupannya, serta melanggar kodrat awal, maka kedua golongan itu akan kehilangan segalanya, termasuk “karakter manusia” yang disandangnya. Sehingga, lambat laun akan menimbulkan kekacauan, ketakutan, penderitaan yang berkesinambungan. Akhirnya, satu sama lain akan mengalami kehancuran. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun akan juga terjadi, minimal pada lingkungan dimana mereka berada. Karena sejatinya, mereka adalah binatang buas yang sebenarnya. Sebab, karakter itu tercipta dari nafsunya sendiri, yang tidak bisa mengukur, sesuai dengan nafsu asli yang diciptakan Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar