Tulisan ini bukan untuk mencari sensasi atau untuk menimbulkan kontroversi dan polemik, akan tetapi semata-mata untuk menambah wawasan perenungan, sehingga diharapkan akan semakin menambah kebaktian kita kepada Tuhan. Disamping itu adalah untuk semakin menunjukkan kepada kita bahwa fungsi dan peranan seorang ibu benar-benar begitu besar dan dominan, khususnya didalam membentuk seorang anak menjadi manusia yang seutuhnya.
Sebagian besar orang tentu tahu, khususnya bagi penganut agama samawi akan mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam, namun sampai sejauh ini belum ada pembuktian ilmiah yang bisa menunjang pemahaman itu, selain apa yang telah dituliskan didalam kitab-kitab agama untuk dipahami secara utuh, dan turun menurun oleh kita semua.
Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan, namun setelah berpikir dan merenung dalam waktu yang lama akhirnya saya memberanikan diri untuk menuangkannya guna menjadi bahan perenungan bersama. Dengan demikian akan menggugah kita agar terbangun dan mau berpikir didalam mencari teka-teki didalam menyibak pengetahuan tentang keberadaan Adam, apakah sebagai manusia pertama, ataukah sebagai bapak pertama yang ada didunia.
Dari Sudut pandang agama:
Saya meninjau dan membahasnya dari kitab Suci Al Qur’an(karena saya sebagai orang islam), disebutkan didalam Firman Allah : Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.(QS Ali Imran:59)
Selanjutnya didalam beberapa surat didalam Al Qur’an Allah SWT berfirman sebagai berikut :
1. Ya ayyuhannaasuttaquu Robbakumul ladzii kholaqokum min nafsin waahidatin wa kholaqo minhaa zaujahaa wabats-tsa minhumaa rijaalan katsiiron wa nisaa-an (Q.S.4, An-Nisa' :1). Artinya : Wahai seluruh manusia, takutlah kamu semua kepada Tuhan mu yang menciptakan kamu semua dari DIRI YANG SATU(berjenis perempuan) dan dari perempuan yang satu itu, Allah menjadikan suaminya, kemudian dari perempuan dan laki-laki kedua-nya, itu Allah mengembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak.
2. Huwalladzii Kholaqokum Min nafsin Waahidatin, wa ja'ala minha zaujaha liyaskuna ilaiha. (Q.S.7, Al-A'rof :189). Artinya : Dialah yang telah menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU(perempuan) dan dari pada perempuan itu dijadikannya suaminya.
3. Wa huwalladzii ansya-akum min nafsin waahidatin, famustaqorrun,wamustauda’un. Qod fassholnal ayaati lii qaumi yaftahuun. (Q.S.6, Al-An'am : 98). Artinya : Dan Dialah yang menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU maka (bagimu) ada tempat tetap, dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.
4. Kholaqokum min nafsin waahidatin tsumma ja'ala minha zaujahaa….(Q.S.39, Az Zumar :6). Artinya : Dia menciptakan kamu dari DIRI YANG SATU (perempuan), kemudian dijadikan dari perempuan yang satu itu suaminya.
Didalam keempat ayat ayat suci Al Qur’an tersebut di atas, ada kalimat “nafsin Waahidatin “ yang artinya "…diri yang satu namun untuk jenis perempuan, sedangkan untuk yang berjenis laki-laki disebut waahidun . Disamping itu frasa “ waahidatun “ menggunakan huruf “ta “marbuthoh”, yang menunjukkan sebagai lambang untuk jenis perempuan.
Selanjutnya jika kita perhatikan kalimat ," wakholaqo minha zaujaha,” dalam ayat itu ada kata , " MINHA ", yang artinya dari orang yang satu, berjenis kelamin perempuan. Jika manusia pertama itu laki-laki, tentu kalimatnya adalah “MINHU" dan bukan "MINHA"yang berarti perempuan. Sedang frasa " ZAUJAHAA" artinya suaminya. Terkecuali bila frasa itu berbunyi “ Minhu zaujahu” sebab “ hu” adalah untuk jenis kelamin laki-laki. Sedangkan frasa ”haa”, adalah sebagai tanda/lambang perempuan, dan “hu” sebagai tanda/lambang laki-laki. Jika manusia pertama itu laki-laki, maka kalimat didalam Al Qur'an bukan " Wakholaqo Minhaa Zaujahaa" tetapi berbunyi ," Wakholaqo Minhu Zaujahu. Dan masih banyak lagi penjelasan didalam surah-surah lain yakni sebagaimana surah QS. Lukman(31) ayat 28 ; QS. Az Zumaar(39) ayat 6.
Dengan demikian jika ditinjau dari sudut agama, menunjukkan bahwa manusia pertama itu bukan laki-laki melainkan perempuan, walaupun didalam Al Qur’an nama dari perempuan pertama itu tidak disebut sama sekali, selain hanya sebagai nama surah yakni An Nisa’(para istri).
Dari sini atas kuasa Allah pula, perempuan pertama itu mengandung (tanpa suami), lalu melahirkan seorang anak laki-laki yakni sebagai manusia kedua yang kemudian bernama Adam. Dan kelak dikemudian hari menjadi suami dari perempuan pertama itu, hingga menjadi manusia yang banyak seperti sekarang ini. Hal ini, dicontohkan kembali oleh Allah tentang penciptaan Isa al masih, yang juga dilahirkan dari seorang ibu tanpa suami, seperti tersebut didalam QS. Ali Imron ayat 59 diatas.
Kemudian lebih memperjelas secara logika adalah sebagai berikut :
1. Bahasa yang dipergunakan diseluruh dunia adalah merupakan bahasa ibu, bukan bahasa bapak;
2. Adanya sebutan : ibu kota; ibu jari; ibu suri; induk binatang;
3. Lambang seksual untuk perempuan adalah XX sedangkan untuk laki-laki adalah XY. Dan kita tahu bahwa dalam huruf latin X lebih dahulu disebut yakni nomor urut ke 24 dan Y nomor urut ke 25, baru ditutup dengan huruf Z yang bisa berarti kembali menuju kosong atau zero;
4. Anak-anak lebih dekat kepada ibu dibandingkan dengan bapak, disamping itu perempuan lebih cepat dewasa dibandingkan dengan laki-laki;
Kesimpulan : telah jelas bagi kita bahwa Adam bukan merupakan manusia pertama, melainkan manusia kedua, dan perempuan yang lebih dahulu ada, kemudian mempunyai anak bernama Adam, yang kemudian hari setelah Adam dewasa menjadi suaminya. Dari mana perempuan itu berasal? Kemungkinan besar dari makhluk sejenis manusia yang dalam bahasa Arab disebut al Bashar, yang merupakan cikal bakal dari manusia( Al Insan).
Demikian, dan apabila ada persilangan pendapat, bukan semata-mata untuk merubah sebuah pola dan tatanan yang sudah ada, melainkan untuk semakin memberikan tambahan wawasan, guna untuk pengkajian dan renungan selanjutnya, sampai bisa mengungkapkan rahasia kehidupan alam semesta ini. Adapun jika ada perbedaan pendapat dan sudut pandang, bukan berarti semakin mengecilkan arti keimanan kita kepada Tuhan, melainkan kami harapkan bisa semakin meningkatkan daya pikir kita, guna mencari jati diri manusia itu sendiri. Benar dan tidaknya pendapat saya, hanyalah Allah yang maha benar dari segala firmanNya.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar