Partner | KAENDRA Tour & MICE

Minggu, 04 Maret 2012

RENUNGAN: ANTARA DOA DAN FAKTA




Banyak orang berdoa :
Agar dimudahkan rejeki, tetapi setiap saat selalu menyulitkan orang lain dalam mengais rejeki.
Agar selalu diberikan keuntungan didalam niaga, tetapi kerjanya  selalu merugikan orang lain.
Agar diberikan keselamatan, tetapi hidupnya selalu membuat orang celaka.
Agar dijauhkan dari bencana dan bahaya, tetapi justru dia banyak menebar bencana dan celaka
Agar dijadikan orang yang sholeh dan dimasukkan surga, tetapi  sikap dan prilakunya tidak pernah berubah, penuh dengan dosa dan mengajak orang untuk masuk neraka.
Agar diberikan kesehatan dan panjang umur, tetapi yang dimakan penuh dengan racun.
Agar diberi kesabaran, tetapi sikap dan perilakunya selalu menebarkan kemarahan dan dendam.
Agar bisa lepas dari kemiskinan, tetapi tiap saat harta yang didapat selalu dibuang, dan dibelanjakan melebihi batas kemiskinannya. Apa bedanya dengan orang yang kelaparan, disaat mendapat  1 piring makanan,  jika sekaligus ditelan? Yang didapat bukan rasa kenyang, melainkan akan mendatangkan kematian.


Banyak pula pemimpin yang berdoa :
Agar rakyatnya diberikan kemakmuran, sementara dirinya masih tetap menebarkan keserakahan
Agar diberikan kekuatan untuk bisa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, sementara dirinya selalu berusaha untuk memecah belah bangsa.
Agar rakyat terhindar dari bencana, sementara dirinya selalu menebar celaka
Agar rakyat bisa patuh selama dia memimpin, sementara dia tidak pernah patuh pada Tuhannya
Agar rakyatnya untuk berbuat santun, sementara dirinya berbuat kekejaman dibalik kesantunan.
Lalu, atas dasar apa Tuhan harus mengabulkan doa-doa yang demikian?

Semestinya, pikirkanlah sebelum berdoa kepada Tuhan. Agar jangan sampai doa yang diucapkan, akan bertentangan dengan apa yang selama ini dilakukan. Menyuruh orang lain agar tidak berbuat kejahatan, sedangkan dirinya sendiri sumber kerusakan. Menyuruh orang lain agar tidak berbuat kekacauan, sementara dirinya dan kelompoknya senang berbuat keonaran, serta tidak pernah membuat kedamaian. Bagaimana mungkin Tuhan diminta untuk memberikan kedamaian dan kemakmuran, serta keadilan, sementara dirinya selalu merusak tatanan yang telah dibangun Tuhan?

Doa apa sesungguhnya yang kita harap agar dikabulkan? Dan ingat, doa yang disampaikan kepada Tuhan, cepat maupun lambat akan menghantam kepada dirinya sendiri, jika doa yang dipanjatkan bertentangan dengan apa yang sedang diperbuatnya.

Intinya : Jika kita ingin dimudahkan Tuhan, maka jangan sekali-kali menyulitkan, serta menyusahkan orang lain, agar kesulitan dan kesusahan itu, tidak akan kembali melibas kita, pada kesusahan yang lebih dalam.

Jika kita meminta agar dijauhkan dari mara bahaya, ingat-ingatlah agar kita tidak menjerumuskan orang lain kedalam bahaya. Agar keselamatan yang diharapkan tidak berubah menjadi bencana bagi dirinya dan keluarganya.

Jika kita ingin lepas dari penderitaan, maka janganlah bangga dan bahagia melihat penderitaan orang lain, apalagi jika penderitaan itu datangnya dari perbuatan kita, baik langsung maupun tidak langsung. Dan jika kita ingin agar orang lain tidak iri dan dengki, janganlah selalu tebar pesona dihadapan mereka bahwa kita kaya. Sebab, begitu kita tebar pesona, serta enggan untuk hidup sederhana,  lalu untuk apa memamerkan harta kekayaan, diantara kerumunan orang yang sedang menderita?

Jika kita melihat penderitaan seseorang, janganlah hanya merasa kasihan kalau tidak bisa mengulurkan tangan untuk memberi. Jika memang tidak bisa memberi, lebih baik tidak perlu berkata bahwa dirinya kasihan. Kalau kita hanya berkata-kata, maka Tuhan juga akan membalas doa dengan kata-kata.

Jika perbuatan itu masih terus menerus kita lakukan, cepat atau lambat, apa yang telah kita dapat akan kembali sirna, dengan adanya energy bencana yang kita tanam pada diri mereka. Apakah kita mencari kekayaan hanya untuk  tebar pesona kepada mereka sesama manusia? Jika demikian, maka janganlah menyalahkan Tuhan, jika akhirnya mereka yang papa akan dipersenjatai Tuhan, untuk menggulung kita, karena sesungguhnya Tuhan tidak menginginkan disamai dalam segalanya.


Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar