”
Setiap ada masalah yang kita tidak
mampu mengatasi, bagi orang yang beragama senantiasa terucap kata”; pasti Tuhan
akan menolong kita”; pasrahkan saja kepada Tuhan, dan Tuhan pasti maha
mengetahui; Tuhan tidak akan membiarkan
orang-orang yang sedang didzolimi; Dan masih banyak lagi kata-kata lain, yang
pada intinya, Tuhan akan selalu menolong kita disaat kita benar-benar meminta
tolong padaNYA.
Disaat
kita sudah mengajukan permohonan dengan tulus kepada Tuhan, bahkan disaat kita
benar-benar ditimpa kemalangan, namun didalam kenyataannya masih saja bersedih,
masih saja tidak menerima atas cobaan itu berupa kemalangan. Terlebih lagi,
orang-orang yang sering kali memberikan nasehat, suatu saat ketika menimpa
kemalangan, tetap saja merasa menderita, padahal sudah tahu bahwa Tuhan pasti
menolong. Mengapa demikian? Jawabnya; karena sejatinya kita belum benar-benar
memahami arti frasa “ pertolongan Tuhan” itu sendiri.
Untuk
memahami apa yang dimaksud dengan “pertolongan Tuhan”, saya berpendapat ; bahwa
kita harus terlebih dahulu mengerti atau memahami hakekat dari “pertolongan”
itu sendiri, yang memiliki 2 makna yakni : pertolongan langsung dan pertolongan
tidak langsung.
Dan, berbicara tentang Tuhan,
berarti berbicara antara Sang Pencipta dengan makhluk yang diciptakan. Dan
Tuhan tidak akan mungkin bisa disamakan dengan seluruh makhluk ciptaannya.
Begitu juga disaat Tuhan akan menolong kita disaat ada masalah, Tuhan tidak
akan mungkin berinteraksi secara langsung. Tetapi akan melewati makhluk ciptaan
Tuhan yang lain.
Pada saat kita mengalami susah dan
senang, sedih dan gembira, kalau kita mau menyadari, sesungguhnya hal itu
merupakan bentuk pertolongan Tuhan itu sendiri. Sebab seseorang tidak akan mungkin mengalami kesusahan dan kebahagiaan
tanpa adanya keinginan atau harapan.
Keduanya itu, adalah merupakan wujud dari pertolongan Tuhan berupa
pemberian unsur negative atau positif.
Namun, karena kita tidak memahami
hakekat “ pertolongan Tuhan” lantas bereaksi; disaat menerima unsur negatif
perasaan jadi susah, disaat menerima unsur positif kita menjadi bahagia. Mengapa tidak memahami? Karena, wujud
pertolongan itu selalu kita anggap bukan dari Tuhan secara langsung, melainkan
dari orang lain ketika kita berinteraksi sosial. Terlebih lagi, disaat kita
mendapatkan unsur negative yang wujudnya seperti; didzolimi, dikecewakan,
difitnah, ditipu, usahanya hancur, susah mencari uang, dan lain-lain.
Kalau kita mau merenung ; bagaimana
mungkin Tuhan akan bisa menolong secara langsung jika tidak melewati
mahkluk-makhluk lain? Dan kita sering
kali membandingkan seperti ini; Kenapa yah disaat orang lain ditimpa kesusahan
koq banyak sekali yang menolong? Sementara saya, padahal sudah berbuat baik,
tidak ada seorangpun yang menolong?
Bagi saya, tidak ada seorangpun yang
berbuat dimuka bumi ini tanpa kehendak Tuhan, semuanya pasti seijin Tuhan. Baik
terhadap seseorang yang beriman maupun yang tidak, beragama maupun tidak.
Adapun batasan dan perbedaannya adalah ; bagi orang yang beriman, disaat mereka
mendapatkan pertolongan Tuhan berupa unsur negative, akan dikemas menuju
keprihatinan, lewat kesabaran, ketabahan dan ketekunan, sehingga tidak akan
mengalami kesusahan dan penderitaan. Dan disaat pertolongan Tuhan berupa unsur
positif akan dikemas menuju rasa syukur dan semakin mendekatkan dirinya kepada
Tuhan, serta semakin menebalkan keimanannya yang tertancap kokoh pada
jantungnya sebagai pusat roh itu sendiri.
Sedangkan bagi mereka yang tidak
beriman; disaat mereka mendapatkan unsur negative dikemas menjadi rasa kecewa,
rasa yang penuh kemalangan, penuh penderitaan, yang mengguncang roh yang ada
didalam jantung. Jika mendapatkan unsur positif, dikemas menuju kesombongan,
lupa diri, bahkan merasa seolah-olah dirinya adalah Tuhan yang bisa menciptakan
segalanya.
Kesimpulannya : Jika kita ingin tahu
bagaimana perjalanan “ Pertolongan Tuhan” pada diri kita, lebih dahulu kita
percaya Tuhan pasti menolong, tetapi wujud pertolongan disamping tidak mungkin
secara langsung yang dilewatkan makhluknya, juga bentuk pertolongan adalah
pemberian unsur yang bersifat negative atau positif( YIN dan YANG).
Selanjutnya, karena kita tidak tahu
pertolongan Tuhan itu akan dilewatkan siapa, maka kita harus selalu berbaik
sangka pada semua orang, tanpa memandang apakah orang itu kita kenal atau
tidak, predikatnya sebagai apa, punya kemampuan atau tidak untuk menolong kita,
memusuhi kita atau tidak, dan lain-lain. Yang intinya; bahwa kita tidak akan
mungkin bisa menggapai sesuatu tanpa pertolongan orang lain, yang hakekatnya
adalah merupakan pertolongan Tuhan itu sendiri.
Namun yang perlu diingat, bahwa kita
tidak boleh meyakini bahwa si A , si B, atau si C akan menolong kita. Atau
sebaliknya; Si A , si B dan si C tidak akan mungkin menolong kita karena mereka
tidak mengerti, karena mereka musuh kita, membenci kita, dan yang membuat kita
hancur, dan sebagainya. Stigma tersebut
harus segera dibuang dari pikiran kita. Sebab, segala sesuatu yang baik bagi
kita belum tentu baik bagi Tuhan, begitu pula sebaliknya; segala sesuatu yang
jelek bagi kita belum tentu jelek bagi Tuhan.Yang benar adalah ; bahwa Tuhan
pasti akan menolong kita. Sehingga dengan demikian, hati tempat bersemayamnya
roh akan selalu membimbing kita, hati akan selalu terbangun dengan penuh
kesadaaran serta tidak akan terperangkap oleh stigma perasaan yang kita sangka
dari hati, padahal itu adalah sinar nafsu yang tanpa bimbingan hati. Lambat
laun, Tuhan akan menutup pintu hati seseorang, pendengaran seseorang dan
pandangan seseorang menuju kesesatan jiwa.
Semoga bermanfaat !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar