Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 17 Oktober 2012

JANGAN BERSEDIH


Jika kita melihat atau mendengar ada orang yang bersedih, kita sering mendengar nasehat jangan bersedih( laa tahzan). Padahal rasa sedih yang datang tidak pernah kita kehendaki. Perasaan itu datang tanpa direncanakan. Sama halnya disaat kita bahagia, datangnya juga tiba-tiba. Karena rasa sedih bukan merupakan kata kerja, melainkan suatu keadaan dari imbas dari apa yang sedang kita
lakukan.


Tetapi bukan berarti nasehat itu salah, melainkan harus kita cermati ada maksud apa yang ada didalam nasehat itu. Dan bukan berarti kita diperbolehkan atau dilarang untuk bersedih, namun jadikanlah petunjuk pada diri kita bahwa sesungguhnya disaat kita bersedih, akan mendapatkan anti energi sesuai dengan apa yang dibutuhkan.


Anti energi akan kita dapatkan jika disaat merasakan kesedihan, maka jalan satu-satunya kesedihan itu harus kita rasakan, harus kita cicil sedikit demi sedikit sampai akhirnya perasaan sedih itu akan hilang dengan sendirinya.


Hal ini sama dengan disaat kita berhutang, jika kita cicil sedikit demi sedikit, sudah barang tentu lambat laun hutangnya akan habis atau impas/ nol dll.


Akan tetapi jika disaat kita bersedih lalu menjadi pikiran, maka kesedihan itu tidak akan hilang, bahkan justru akan beranak pinak menuju kesedihan-kesedihan lain, seperti halnya punya hutang bank yang tidak pernah dicicil, lama kelamaan hutangnya jadi bertambah.


Sama halnya disaat kita bahagia, tanpa disuruh kita tentu akan menikmati dan merasakan kebahagiaan itu, yang lambat laun kebahagiaannya juga akan hilang sesuai dengan tingkat kebahagiaan yang dirasakan.


Adapun perbedaan antara sedih dan bahagia adalah pada tingkat nilai rasa yang didapat. Kalau kesedihan akan menghasilkan anti energi, jika bahagia akan menghasilkan energi. Seperti halnya yang pernah saya tuliskan terdahulu, bahwa jika energi digabungkan dengan anti energi akan tercipta materi.


Jadi intinya : segala sesuatu hal yang negatif memang akan mengarah pada pikiran, segala hal yang positif mengarah pada kenikmatan. Padahal, keduanya adalah merupakan petunjuk bagi kita sedang berada dalam keadaan apa. Keadaan yang positif ataukah negatif. Jika negatif menghasilkan anti energi, jika posisitf menghasilkan energi.


Dan jika kita mengalami keadaan sedih(negatif), maka anti energi akan tertampung dengan sendirinya. Dan supaya tidak menjadi pikiran, kita harus prihatin. Dan dengan prihatin sama halnya kita telah menyaring seluruh kesedihan itu sedikit demi sedikit menjadi anti energi. Jika tidak, dan tetap menjadi pikiran, yang terjadi justru ; akan muncul rasa ngresula(mengeluh), naik menuju nelangsa, meningkat menjadi rekasa, sengsara yang akhirnya puncaknya adalah cilaka.Sehingga yang diharapkan anti energi murni tidak akan pernah didapat.


Begitu juga disaat kita bahagia, harus muncul kesadaran bahwa cepat atau lambat kebahagiaan itu akan sirna. Semakin kita menikmati maka akan semakin cepat habisnya kebahagiaan itu. Maka dari itu, selagi rasa kebahagiaan itu muncul, kita harus segera mensyukuri, karena dengan rasa syukur itu akan merubah rasa bahagia menjadi energi untuk kita simpan baik dikehidupan sekarang maupun dikehidupan kelak setelah meninggal.


Untuk itu jangan bersedih ( Laa Tahzan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar