Jika kita melihat atau mendengar ada orang yang bersedih, kita sering mendengar nasehat jangan bersedih( laa tahzan). Padahal rasa sedih yang datang tidak pernah kita kehendaki. Perasaan itu datang tanpa direncanakan. Sama halnya disaat kita bahagia, datangnya juga tiba-tiba. Karena rasa sedih bukan merupakan kata kerja, melainkan suatu keadaan dari imbas dari apa yang sedang kita
Tetapi
bukan berarti nasehat itu salah, melainkan harus kita cermati ada
maksud apa yang ada didalam nasehat itu. Dan bukan berarti kita
diperbolehkan atau dilarang untuk bersedih, namun jadikanlah petunjuk
pada diri kita bahwa sesungguhnya disaat kita bersedih, akan mendapatkan
anti energi sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Anti energi
akan kita dapatkan jika disaat merasakan kesedihan, maka jalan
satu-satunya kesedihan itu harus kita rasakan, harus kita cicil sedikit
demi sedikit sampai akhirnya perasaan sedih itu akan hilang dengan
sendirinya.
Hal ini sama dengan disaat kita berhutang, jika
kita cicil sedikit demi sedikit, sudah barang tentu lambat laun
hutangnya akan habis atau impas/ nol dll.
Akan tetapi jika
disaat kita bersedih lalu menjadi pikiran, maka kesedihan itu tidak akan
hilang, bahkan justru akan beranak pinak menuju kesedihan-kesedihan
lain, seperti halnya punya hutang bank yang tidak pernah dicicil, lama
kelamaan hutangnya jadi bertambah.
Sama halnya disaat kita
bahagia, tanpa disuruh kita tentu akan menikmati dan merasakan
kebahagiaan itu, yang lambat laun kebahagiaannya juga akan hilang sesuai
dengan tingkat kebahagiaan yang dirasakan.
Adapun perbedaan
antara sedih dan bahagia adalah pada tingkat nilai rasa yang didapat.
Kalau kesedihan akan menghasilkan anti energi, jika bahagia akan
menghasilkan energi. Seperti halnya yang pernah saya tuliskan terdahulu,
bahwa jika energi digabungkan dengan anti energi akan tercipta materi.
Jadi intinya : segala sesuatu hal yang negatif memang akan mengarah
pada pikiran, segala hal yang positif mengarah pada kenikmatan. Padahal,
keduanya adalah merupakan petunjuk bagi kita sedang berada dalam
keadaan apa. Keadaan yang positif ataukah negatif. Jika negatif
menghasilkan anti energi, jika posisitf menghasilkan energi.
Dan jika kita mengalami keadaan sedih(negatif), maka anti energi akan
tertampung dengan sendirinya. Dan supaya tidak menjadi pikiran, kita
harus prihatin. Dan dengan prihatin sama halnya kita telah menyaring
seluruh kesedihan itu sedikit demi sedikit menjadi anti energi. Jika
tidak, dan tetap menjadi pikiran, yang terjadi justru ; akan muncul rasa
ngresula(mengeluh), naik menuju nelangsa, meningkat menjadi rekasa,
sengsara yang akhirnya puncaknya adalah cilaka.Sehingga yang diharapkan
anti energi murni tidak akan pernah didapat.
Begitu juga disaat
kita bahagia, harus muncul kesadaran bahwa cepat atau lambat
kebahagiaan itu akan sirna. Semakin kita menikmati maka akan semakin
cepat habisnya kebahagiaan itu. Maka dari itu, selagi rasa kebahagiaan
itu muncul, kita harus segera mensyukuri, karena dengan rasa syukur itu
akan merubah rasa bahagia menjadi energi untuk kita simpan baik
dikehidupan sekarang maupun dikehidupan kelak setelah meninggal.
Untuk itu jangan bersedih ( Laa Tahzan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar