Sering kita jumpai hampir setiap hari buruh berdemo meminta kenaikan upah, penghapusan outsourching, orang kelaparan, kesulitan mencari rejeki dll. Begitu miris rasanya melihat kejahatan, korupsi menghiasi kehidupan kita. Semua itu terjadi karena ketidak mengertian tentang bagaimana caranya agar mendapatkan kehidupan yang layak. Jika semua orang mengerti tentu tida
k akan mungkin
semua itu terjadi, namun bukan berarti semua orang kaya raya, melainkan
sudah tidak ada lagi kesusahan didalam mengais rejeki, sesuai dengan
batasan dan kodratnya masing-masing.
Apa yang tidak dimengerti?
adalah jati dirinya sebagai manusia yang memiliki schema dasar yang
diberikan Tuhan kepada manusia. Semua manusia memiliki schema dasar yang
sama yakni : Jiwa-- Roh--HATI-- Akal-- Nafsu-- pikiran. Jika kita
mengendaki sesuatu sang Jiwa yang melingkupi seluruh raga dasar(diluar
tubuh), harus berkoordinasi dengan hati--akal--nafsu--pikiran. Namun
didalam kenyataan sehari-hari, hati justru ditinggalkan. Sehingga schema
dasar manusia dirubah menjadi Jiwa--Akal--nafsu-- pikiran.
Kita tahu bahwa roh, akal dan hati keberadaannya memang menyatu, tetapi sesungguhnya berbeda.
Perbedaannya terletak pada perubahan hati itu sendiri. Pada saat kita
berpikir, disitu akan memunculkan suatu rasa ragu-ragu, khawatir, takut
dan lain-lain, menunjukkan hati tidak diikut sertakan. Jikia kita terus
melangkah dan melakukan suatu tindakan, sudah barang tentu cepat atau
lambat akan ada efeckt samping yang menimbulkan kesusahan baik pada
dirinya sendiri ataupun orang lain.
Untuk lebih jelasnya saya
sampaikan disini bahwa didalam hati memiliki unsur sifat dan Dzat dari
Tuhan yang murni, yang tujuannya adalah untuk memberitahukan apa yang
akan kita lakukan didalam mewujudkan semua itu menjadi kodrat sebuah
materi yang berada diluar tubuh kita.
Segala sesuatu yang telah
berada diluar tubuh kita, yang nampak maupun yang tidak nampak, dan
kita tangkap lewat panca indra, bukanlah merupakan Sifat dan Dzat yang
murni. Melainkan sudah merupakan suatu kodrat yang telah berubah menjadi
materi, dan sudah terpengaruh oleh adanya habitat ,lantaran adanya
ruang dan waktu.
Pada umumnya, adanya keinginan pada diri kita
yakni ketika kita melihat dan atau mendengar segala sesuatu yang berada
diluar tubuh, lantas ditananmkan kedalam diri kita, bahwa kita
menginginkan seperti apa yang dilihat, didengar atau dirasakan.
Contoh: saya ingin kaya seperti si A, ingin memiliki mobil seperti si A
dan lain-lain. Hal seperti ini sah-sah saja, dan kita memang bisa
memiliki atau terkabul, tetapi bukan berarti didalam pelaksanannya
memasukkan dan menanamkan keinginan dari luar itu kedalam diri kita.
Jika itu dilaksanakan tentu kita akan susah dan belum tentu bisa
terkabul. Dan bahkan, seandainya ,terkabulpun suatu ketika akan ada
masalah pada diri kita. Sebab segala sesuatu yang akan kita masukkan
kedalam diri, tentu akan menggunakan CARA. Segala sesuatu yang masish
menggunakan cara menunjukkan itu bukan asli. Sesuatu yang bukan asli
pasti akan mengalami kesulitan, dan bahkan tidak pas.
Yang
benar, jika kita menginginkan sesuatu dari luar tubuh agar kita
dapatkan, carilah semua itu didalam diri, setelah ketemu tanamlah keluar
tubuhnya niscaya akan tercapai. Sebegitu kita mencari kedalam diri,
hati akan bergetar dan menyinari akal. Akal menyinari nafsu dan nafsu
menyinari pikiran, dan poikiran akan bertindak untuk mewujudkan apa yang
kita kehendaki.
Dan jika kita selalu menggunakan hati baik
bersikap, berperilaku dan melakukan tindakan tentu akan lebih mudah
serta tidak akan mengenal efeck samping apapun. Karena hatilah yang bisa
mengerti segalanya tentang dunia ini. Adapun bagaimana mengetahui bahwa
hati bekerja, bisa dilihat pada tulisan-2 saya terdahulu.
Kesimpulannya : Jika kita menghendaki sesuatu dari luar tubuh untuk
ditanam kedalam diri, maka sejak saat itu tubuh kita lahir dan batin,
akan menjadi pohon keinginan itu. Yang benar carilah bibit mangga itu
didalam diri, kemudian tanamlah diluar tubuh. Dan kita memiliki pohon
mangga, tanpa menjadi pohon mangga.
Jika kita ingin kaya
seperti si A, dan kita mengikuti seperti si A sama halnya dengan merubah
diri kita seperti si A, jati diri kita akan hilang berganti dengan si
A. Yang benar carilah bibit kekayaan seperti si A didalam diri kemudian
tanamlah keluar tubuh, niscaya kita akan memiliki kekayaan itu, tanpa
kehilangan jati diri.
Saya membacanya sangat menyentuh hati angger Romo.... Mudah2an Romo sesering menuliskan Tulisan seperti ini...
BalasHapusInsyaAllah akan terus romo tulis ngger. Memang tidak bisa rutin karena keterbatasan waktu. Disamping banyak tamu juga mementingkan di fb.
BalasHapus