Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 17 Oktober 2012

MENGAIS HARTA KARUN LEWAT HATI


Sering kita jumpai hampir setiap hari buruh berdemo meminta kenaikan upah, penghapusan outsourching, orang kelaparan, kesulitan mencari rejeki dll. Begitu miris rasanya melihat kejahatan, korupsi menghiasi kehidupan kita. Semua itu terjadi karena ketidak mengertian tentang bagaimana caranya agar mendapatkan kehidupan yang layak. Jika semua orang mengerti tentu tida
k akan mungkin semua itu terjadi, namun bukan berarti semua orang kaya raya, melainkan sudah tidak ada lagi kesusahan didalam mengais rejeki, sesuai dengan batasan dan kodratnya masing-masing.


Apa yang tidak dimengerti? adalah jati dirinya sebagai manusia yang memiliki schema dasar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Semua manusia memiliki schema dasar yang sama yakni : Jiwa-- Roh--HATI-- Akal-- Nafsu-- pikiran. Jika kita mengendaki sesuatu sang Jiwa yang melingkupi seluruh raga dasar(diluar tubuh), harus berkoordinasi dengan hati--akal--nafsu--pikiran. Namun didalam kenyataan sehari-hari, hati justru ditinggalkan. Sehingga schema dasar manusia dirubah menjadi Jiwa--Akal--nafsu-- pikiran.


Kita tahu bahwa roh, akal dan hati keberadaannya memang menyatu, tetapi sesungguhnya berbeda.


Perbedaannya terletak pada perubahan hati itu sendiri. Pada saat kita berpikir, disitu akan memunculkan suatu rasa ragu-ragu, khawatir, takut dan lain-lain, menunjukkan hati tidak diikut sertakan. Jikia kita terus melangkah dan melakukan suatu tindakan, sudah barang tentu cepat atau lambat akan ada efeckt samping yang menimbulkan kesusahan baik pada dirinya sendiri ataupun orang lain.


Untuk lebih jelasnya saya sampaikan disini bahwa didalam hati memiliki unsur sifat dan Dzat dari Tuhan yang murni, yang tujuannya adalah untuk memberitahukan apa yang akan kita lakukan didalam mewujudkan semua itu menjadi kodrat sebuah materi yang berada diluar tubuh kita.


Segala sesuatu yang telah berada diluar tubuh kita, yang nampak maupun yang tidak nampak, dan kita tangkap lewat panca indra, bukanlah merupakan Sifat dan Dzat yang murni. Melainkan sudah merupakan suatu kodrat yang telah berubah menjadi materi, dan sudah terpengaruh oleh adanya habitat ,lantaran adanya ruang dan waktu.


Pada umumnya, adanya keinginan pada diri kita yakni ketika kita melihat dan atau mendengar segala sesuatu yang berada diluar tubuh, lantas ditananmkan kedalam diri kita, bahwa kita menginginkan seperti apa yang dilihat, didengar atau dirasakan.


Contoh: saya ingin kaya seperti si A, ingin memiliki mobil seperti si A dan lain-lain. Hal seperti ini sah-sah saja, dan kita memang bisa memiliki atau terkabul, tetapi bukan berarti didalam pelaksanannya memasukkan dan menanamkan keinginan dari luar itu kedalam diri kita. Jika itu dilaksanakan tentu kita akan susah dan belum tentu bisa terkabul. Dan bahkan, seandainya ,terkabulpun suatu ketika akan ada masalah pada diri kita. Sebab segala sesuatu yang akan kita masukkan kedalam diri, tentu akan menggunakan CARA. Segala sesuatu yang masish menggunakan cara menunjukkan itu bukan asli. Sesuatu yang bukan asli pasti akan mengalami kesulitan, dan bahkan tidak pas.


Yang benar, jika kita menginginkan sesuatu dari luar tubuh agar kita dapatkan, carilah semua itu didalam diri, setelah ketemu tanamlah keluar tubuhnya niscaya akan tercapai. Sebegitu kita mencari kedalam diri, hati akan bergetar dan menyinari akal. Akal menyinari nafsu dan nafsu menyinari pikiran, dan poikiran akan bertindak untuk mewujudkan apa yang kita kehendaki.


Dan jika kita selalu menggunakan hati baik bersikap, berperilaku dan melakukan tindakan tentu akan lebih mudah serta tidak akan mengenal efeck samping apapun. Karena hatilah yang bisa mengerti segalanya tentang dunia ini. Adapun bagaimana mengetahui bahwa hati bekerja, bisa dilihat pada tulisan-2 saya terdahulu.


Kesimpulannya : Jika kita menghendaki sesuatu dari luar tubuh untuk ditanam kedalam diri, maka sejak saat itu tubuh kita lahir dan batin, akan menjadi pohon keinginan itu. Yang benar carilah bibit mangga itu didalam diri, kemudian tanamlah diluar tubuh. Dan kita memiliki pohon mangga, tanpa menjadi pohon mangga.


Jika kita ingin kaya seperti si A, dan kita mengikuti seperti si A sama halnya dengan merubah diri kita seperti si A, jati diri kita akan hilang berganti dengan si A. Yang benar carilah bibit kekayaan seperti si A didalam diri kemudian tanamlah keluar tubuh, niscaya kita akan memiliki kekayaan itu, tanpa kehilangan jati diri.

2 komentar:

  1. Saya membacanya sangat menyentuh hati angger Romo.... Mudah2an Romo sesering menuliskan Tulisan seperti ini...

    BalasHapus
  2. InsyaAllah akan terus romo tulis ngger. Memang tidak bisa rutin karena keterbatasan waktu. Disamping banyak tamu juga mementingkan di fb.

    BalasHapus