Sering kita melihat seorang peminta-minta dijalanan, mereka memba-memba mengharap belas kasihan kita, agar mengulurkan tangan memberinya sedekah.
Namun, betapa terkejutnya saat kita tahu, bahwa mereka penghasilannya tidak kurang dari 24 juta sebulan di jakarta. Bahkan di Bandung, ketika para pengemis mau diberi pekerjaan dengan upah 900 ribu sampai 1 juta rupiah, mereka menolak. Dengan alasan penghasilan mereka tidak kurang dari 10 juta sebulan.
Tidak pernahkah kita berpikir? Bahwa mereka yang peminta-minta atau "menjadi tangan dibawah" saja bisa menghasilkan penghasilan sebesar itu. Sementara kita yang sarjana, membutuhkan waktu bertahun-tahun. Bahkan untuk para buruh saja masih harus berdemo untuk mendapatkan upah sekitar 3.7 juta, itupun begitu sulitnya.
Kalau mereka yang menjadi tangan dibawah saja sebagai peminta-minta, bisa menghasilkan uang sebesar itu, semestinya disaat kita "menjadi tangan yang diatas" sebagai penderma, hasilnya mestinya tidak terhingga.
Alasan saya; seorang yang menjadi tangan dibawah, tentu akan menggunakan otak kiri, dan akalnya, untuk berusaha sedemikian rupa, agar dapat menarik rasa iba dan kasihan.
Sementara orang yang menggunakan tangan diatas sebagai penderma, lebih dominan menggunakan otak kanan dan hati.
Dimana sifat hati adalah berlambang NOL. Tetapi dalam kenyataannya, mengapa mayoritas penghasilannya kalah dengan tangan yang dibawah?
Hal itu, semata-mata karena mereka yang berpredikat sebagai tangan dibawah, senantiasa fokus dalam akalnya untuk mengkondisikan dirinya dalam keadaan NOL. Kendatipun dihardik, dicakup dll. Tetap saja mereka dalam keadaan sabar, serta berupaya untuk menunjukkan, bahwa dirinya tidak punya atau nol.
Sedangkan mereka yang biasa menjadi tangan diatas sebagai penderma, ingin menunjukkan bahwa dirinya dermawan, ingin mendapat nilai lebih.
Dengan begitu, berarti dirinya dikondisikan sebagai angka. Sehingga diaaat diri sebagai angka, maka justru tidak akan muncul angka nol, selain angka-angka juga yang akan didapat. Bahkan bisa juga berubah menjadi angka min.
Seharusnya, saat dia sebagai tangan diatas, tidak perlu merobah keadaan yang memang sudah nol, tidak perlu ingin mendapat pahala, tidak perlu diketahui orang lain disaat memberi.
Sebab hal itu dikhawatirkan keadaan nol akan terkontaminasi oleh perasaan dipuji, dihormati dsb.
Dan, dengan membiarkan diri untuk fokus pada lambang nol, niscaya angka-angka itulah yang akan datang menggandeng lambang nol yang ada didalam diri kita.
Jika nol kita kedepankan, maka angka yang mendatangi, akan menempatkan disebelah kiri nol, sebagaimana kedudukan perempuan disaat berjalan bersama pasangan, akan berada disebelah kiri laki-laki.
Tetapi jika angka yang di kedepankan, maka angka nol akan berada disebelah kiri angka, sehingga akan menjadi berkurang dari kedudukan angka awal.
Intinya : Tangan diatas akan lebih mulia dibandingkan dengan tangan dibawah, karena tangan diatas menggunakan hati. Sudah tentu hasilnya bisa tidak terukur dan tidak akan masuk akal. Sepanjang sifat hati itu yang benar-benar dipergunakan. Yakni tanpa ukuran, pamrih dll. Yang ada hanya karena kehendak hati ingin memberi. Bukan yang lain.
Sebab apapun alasannya tangan diatas lebih mulya dari tangan dibawah, sehingga hasilnyapun pasti akan lebih besar. Sama halnya yang dulu pernah saya tuliskan, bahwa jika kerja tidak dengan jujur saja bisa kaya, apa mungkin kerja dengan penuh kejujuran akan melarat? Jika itu terjadi pasti ada kesalahan didalam mengelola diri.
Semoga menjadi bahan renungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar