Banyak diantara kita yang tidak menyadari, bahwa disaat mencari apa yang menjadi kebutuhan didalam memenuhi kehidupannya, jatuh dan bangun serta penuh penderitaan. Sikut sana sikut sini, yang penting apa yg diinginkan tercapai. Sudah tidak berpikir etika, estetika, dll.
Semua itu karena kita lupa bahwa kita adalah manusia yang memiliki jati diri, yang makin lama makin menghilang menuju alam binatang. Karena kita bukan binatang yang asli akhirnya kita lebih sulit mencari apa yang menjadi kebutuhan, melebihi binatang itu sendiri.
Mari kita renungkan bersama.
Disaat kita membutuhkan sesuatu khususnya adalah uang, berarti didalam diri kita sedang dalam keadaan tidak memiliki senilai uang tersebut.
Segala sesuatu yang tidak ada didalam diri, pasti tersedia diluar diri. Berarti yang kita cari adalah sesuatu yang ada. Segala yang ada, lambangnya adalah angka.
Contoh : jika kita membutuhkan angka 8 sedang angka yang kita miliki angka 1 atau 2, maka kita butuh tambahan ; angka kebutuhan dikurangi angka yang kita miliki.
Sehingga didalam mencari tambahan angka tersebut, bisa jadi angka yang kita miliki menjadi modal atau pancingan agar tambahan angka itu kita dapatkan.
Keadaan seperti ini seringkali justru akan membuat kita bisa hancur jika tidak memiliki kemampuan untuk mengolah angka yang kita miliki menjadi angka yang kita butuhkan. Tidak sedikit pula justru makin terpuruk. Alih-alih mendapat tambahan angka, malahan hartanya bisa habis.
Semestinya, jika kita membutuhkan sesuatu yang tidak ada didalam diri, kita tidak perlu mencari tambahan angka diluar tubuh. Melainkan kondisikan didalam diri dalam keadaan benar-benar tidak ada, yang lambangnya adalah NOL.
Dengan diri sudah menjadi lambang Nol, maka justru angka yang diluar diri itulah yang akan mendatangi kita. Sebab hukum alam tidak akan pernah menyimpang sebagaimana kodratnya, bahwa ; segala sesuatu yang ada pasti akan mencari yang tidak ada atau ketiadaan. Sehingga setelah bertemunya unsur 2 unsur yakni: ada, dan tiada, menjadi satu, akan tercipta angka baru seperti yang menjadi kebutuhan, atau bahkan keinginan. Bagaikan lambang nol bertemu angka 1, bisa tercipta 1 juta, 1 milyard dan seterusnya.
Bukan malahan diada-adakan seperti biasanya, disaat kita tidak memiliki kemampuan, malah hutang kesana kemari. Akhirnya kemauan yang semula sudah ada, akan berbenturan dengan kemampuan yang terbatas. Akhirnya yang didapat adalah keterpurukan, keputus asaan dan lain-lain.. Dan ironisnya malahan orang lain yang disalahkan, Tuhan yang dikatakan tidak pengasih dan penyayang, semua orang tidak ada yang menolong, dll.
Padahal, saat diri tidak memiliki kemampuan, berarti tidak memiliki angka. Dengan tidak memiliki angka bukankah diri dalam keadaan NOL ? Kenapa lantas menjadikan keadaan diri hipokrit? Merobah dirinya yang NOL menjadi angka, lewat berhutang?
Semoga bermanfaat bagi mereka yang lagi terpuruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar