Ketika dian yang dihadapan masih bergoyang, dan
berdendang searah bayu yang menyapa ringan.
Itu adalah pertanda bahwa angin nafsumu masih
berdentang kearah keinginan untuk terbang.
Tetapi bagaimana mungkin nafsumu bisa terbang
kearah tujuan, jika DIAN masih tak pernah diam?
Apalagi jika Suksma masih kebingungan untuk
memutuskan kearah mana nafsumu harus melayang,
diantara empat penjuru yang kau dambakan.
Jika dian tak pernah diam. Itu perlambang dirimu
masih bimbang, lantaran iman yang sebagai
pedoman, belum mampu menyatukan antara
dorongan impian dan hambatan yang akan
menghalang.
Padahal, sesungguhnya tak perlu terjadi kegalauan
jika telah ada sederet keyakinan untuk melaksanakan
apa yang jadi pedoman. Melewati jembatan kasih
yang telah menggetarkan hatimu. Dan tak perlu takut
salah atau benar, serta khawatir ada kegagalan.
Sebab, dari perjalanan itulah kamu akan
mendapatkan pengalaman, serta pemahaman.
Dan cahaya dian akan ikut menyinari kegelapan yang
menjadi halangan pandangan. Karena sesungguhnya
dian itupun bisa terang benderang jika hatimupun
juga terang.
Dan seberapa besar terang didalam dian tergantung
sepenuhnya terhadap perjalanan keinginan untuk
menyusuri lorong-lorong kehidupan bagaikan
kunang-kunang, yang selalu menyongsong malam,
terbang menembus kelam.
Jika dian masih belum bisa diam, satukanlah dirimu,
bersama rasa dan perasaanmu. Kemudian
endapkanlah apa yang menjadi keinginanmu.
Hisaplah cahaya dian itu agar merasuk kedalam
dirimu.
Setelah itu udara yang sudah menyatu didalam diri,
hembuskan dengan kuat kearah dian yang berada
diluar ragamu. Kemudian bangkitlah, dan berjalan
dimuka bumi untuk menjaring matahari kehidupan,
sebagai pengganti dian yang tak pernah diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar