Ketika sukma seolah tak bernyawa, untuk apa mencari hakekat makna? Jika nyawa seolah sudah tiada, bagaimana mungkin bisa memunculkan rasa?
Dan jika rasa tidak ada, bagaimana mungkin bisa menciptakan pelangi karsa, apalagi sejuta warna?
Jika pelangi karsa tidak tercipta, bagaimana mungkin kita bisa mencipta, menjadi sebuah karya? Dan jika tiada sesuatupun yang tercipta, bagaimana mungkin akan bisa bersuara, kecuali suara sumbang yang tiada bermakna? Dan jika suara tidak ada, bagaimana mungkin akan mendapatkan wahana dan sarana?
Semuanya tentu akan sia-sia, bahkan yang ada, hanyalah berbuah petaka, baik bagi dirinya maupun yang lainnya.
Wahai orang yang suka berpikir, tahukah kamu? bahwa sesungguhnya nyawa itulah yang menyebabkan sukmamu HIDUP. Dan didalam hidup akan tercipta BARA, didalam bara akan tercipta NYALA, dan didalam nyala tercipta CAHAYA. Didalam cahaya engkau dapat mencipta RASA, kemudian menciptakan KARSA.
Dan dari karsa inilah, sehingga engkau bisa menciptakan sesuatu menjadi sejuta karya.
Lalu bagaimana mungkin Nyawa yang membuatmu hidup tidak pernah kau indahkan?
Yang ada, malahan justru sedikit demi sedikit kau biarkan mati, tidak untuk membakar apa-apa, sehingga tidak pernah berfungsi disepanjang hidupmu.
Atau, bahkan berlebihan, untuk membakar segala warna yang diciptakan rasa, kendati warna itu belum tentu kau butuhkan. Sehingga suatu saat disaat kau benar-benar butuh, bara didalam nyawa itu sudah tiada, sementara dirimu belum menghasilkan apa-apa. Tidak juga bagi dirimu, apalagi untuk orang lain.
Dan ketahuilah olehmu wahai orang yang berpikir; bahwa sifat nyawa, baik kau pergunakan maupun tidak, dia merupakan baterai kehidupanmu. Mungkinkah baterai itu tetap nyala kendati tidak dipergunakan? Yang terjadi, justru akan semakin mempercepat kematiannya, karena tiada arus timbal balik antara sukma dan nyawa.
Dan jika sudah tiada bara, tiada nyala, dan tiada pula cahaya, dirimu tentu akan berada didalam kegelapan, seolah beribu malam tanpa cahaya gemintang. Atau mungkin, bagaikan kerak tumbuh dikarang.
Lantas untuk apa? Mungkinkah engkau akan bisa mencipta didalam kegelapan? Jangankan mencipta, bahkan untuk melihat dirimu sendiripun tidak akan pernah bisa, apalagi orang lain.
Dan jika dirimupun tiada nampak, apa mungkin bayanganmu akan nampak?
Karena sesungguhnya, bayanganmu itulah yang senantiasa diperhatikan orang, dan karena bayanganmu itu pula yang membuatmu ada, bagi orang lain. Sehingga, bagaimana mungkin engkau dapat mengenalkan siapa dirimu, sementara mereka belum dapat melihat bayanganmu, kendatipun kau paksa. Yang terjadi, justru akan dianggap gila menyuruh orang lain untuk melihat, sementara melihat dirinya sendiripun tidak mampu.
Inilah hakekat makna, kendati masih belum yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar