Ada sekelompok orang yang bilang, bahwa mereka tidak percaya akan adanya santet, teluh, supra natural, tuhan, jin, setan, iblis, tuhan, dan lainnya. Dan dikatakan; bahwa semua itu adalah lantaran "permainan pikiran "belaka.
Jika didalam pikiran itu tidak ditanamkan tentang hal tersebut, sesungguhnya semuanya tidak ada, selain permainan pikiran yang telah memperbudaknya sejak kecil, dan membudaya sampai sekarang. Itulah sekilas yang menjadi bahan perdebatan diantara mereka. Namun, pernahkah mereka berpikir ; bahwa pikiran itu bukanlah merupakan segalanya.
Dan dia hanyalah bagaikan robot, sesuai dengan muatan energi, serta jenis energi, yang terkandung didalamnya. Seharusnya bisa menjadikan bahan renungan bagi mereka dan bagi kita semuanya.
Bahwa, bisakah permainan pikiran itu ada jika tanpa butir-butir darah merah? Sesungguhnya, segala warna pikiran yang terjadi, adalah semata-mata tergantung sepenuhnya dari warna perasaan yang termuat didalam butir-butir darah merah itu sendiri.
Seberapa besar pengaruh yang terjadi didalam warna perasaan, maka akan sebesar itu pula situasi dan kondisi pada butir-butir darah merah. Dan butir-butir darah, disamping berisi seluruh kebutuhan raga lahir, juga terisi kebutuhanraga batin, termasuk didalamnya adalah warna perasaan itu sendiri. Dari sini, kemudian akanmengalir keseluruh raga dan otak dikepala.Yang akhirnya akan membentuk cikal bakal dari"permainan pikiran" seperti apa yang merekasebutkan.Jadi, Permainan apapun yang terjadi didalampikiran, titik beratnya ; bukan merupakan masalah percaya ataupun tidak. Melainkan, semuanya tergantung adanya kesadarandidalam berenung, untuk apa percaya jika tidakmenghasilkan apa-apa bagi dirinya. Dan jikasudah percaya apa konsekwensi logis dari apayang dipercaya. Kemudian membuktikan sendiri lewat pencarian perenungan, sehingga akhirnya bisa menyaksikan sendiri terhadap segala hal yang menjadi dasar apa yang dipercayanya.
Dan yang terakhir, jangan terjebak sebuahnama, dan untuk apa sebuah nama, jikamasing-masing kepala menyebutkan dengan nama yang berbeda. Maka warna permainanpikiran pun pasti juga berbeda. Sehingga akanmembentuk aneka budaya dan bahasa yangakan berbeda pula.Yang terpenting adalah ; "kesadaran", apa yangakan kita lakukan terhadap nama itu sendiri.mpok orang yang bilang, bahwamereka tidak percaya akan adanya santet,teluh, supra natural, tuhan, jin, setan, iblis,tuhan, dan lainnya. Dan dikatakan; bahwa semua itu adalah lantaran "permainan pikiran "belaka. Jika didalam pikiran itu tidakditanamkan tentang hal tersebut, sesungguhnya semuanya tidak ada, selainpermainan pikiran yang telah memperbudaknya sejak kecil, dan membudaya sampai sekarang.Itulah sekilas yang menjadi bahan perdebatandiantara mereka.
Namun, pernahkah mereka berpikir ; bahwapikiran itu bukanlah merupakan segalanya. Dandia hanyalah bagaikan robot, sesuai dengan muatan energi, serta jenis energi, yang terkandung didalamnya.Seharusnya bisa menjadikan bahan renungan bagi mereka dan bagi kita semuanya. Bahwa, bisakah permainan pikiran itu ada jika tanpa butir-butir darah merah? Sesungguhnya, segala warna pikiran yangterjadi, adalah semata-mata tergantung sepenuhnya dari warna perasaan yang termuat didalam butir-butir darah merah itu sendiri. Seberapa besar pengaruh yang terjadi didalamwarna perasaan, maka akan sebesar itu pula situasi dan kondisi pada butir-butir darah merah. Dan butir-butir darah, disamping berisi seluruh kebutuhan raga lahir, juga terisi kebutuhan raga batin, termasuk didalamnya adalah warna perasaan itu sendiri. Dari sini, kemudian akan mengalir keseluruh raga dan otak dikepala.
Yang akhirnya akan membentuk cikal bakal dari "permainan pikiran" seperti apa yang mereka sebutkan. Jadi, permainan apapun yang terjadi didalam pikiran, titik beratnya ; bukan merupakan masalah percaya ataupun tidak. Melainkan, semuanya tergantung adanya kesadaran didalam berenung, untuk apa percaya jika tidak menghasilkan apa-apa bagi dirinya.
Dan jika sudah percaya apa konsekwensi logis dari apa yang dipercaya. Kemudian membuktikan sendiri lewat pencarian perenungan, sehingga akhirnya bisa menyaksikan sendiri terhadap segala hal yang menjadi dasar apa yang dipercayanya.
Dan yang terakhir, jangan terjebak sebuah nama, dan untuk apa sebuah nama, jika masing-masing kepala menyebutkan dengan nama yang berbeda. Maka warna permainan pikiran pun pasti juga berbeda. Sehingga akan membentuk aneka budaya dan bahasa yang akan berbeda pula. Yang terpenting adalah ; "kesadaran", apa yang
akan kita lakukan terhadap nama itu sendiri.
trimakasih infonya sangat menarik,,
BalasHapusbermanfaat sekali,,
mantap,,
T.kasih telah mengunjungi blog saya dan semoga bisa juga menjadi tambahan renungan pada status-status saya yang lainnya. Selamat iedul fithri.
Hapus