Wahai orang-orang yang melampaui batas, sesungguhnya segala apa yang
tertulis ini merupakan peringatan terakhir bagi kalian, untuk kembali
mengubah kepercayaan kalian. Sebagaimana yang dikehendaki oleh para Nabi
dan Rasul, bahwa Tuhan ada pada dirimu. Bila tidak, dan kalian tetap
membangun rumah-rumah peribadatan baru diluar tubuhmu, maka
sesungguhnya, amatlah dekat hari dimana bencana besar dan maha dahsyat
akan tiba. Karena sebenarnya, bangunan itu hanyalah berupa bangunan
nafsu yang lantas kalian sembah-sembah. Padahal nafsu
itu bukanlah Tuhan, dan keberadaannya, hanyalah tercipta dari kodrat dan
habitat mahluk-makhluk sekelilingmu, yang lantas tersifati dari dirimu,
bukan dari Tuhanmu. Sehingga akhirnya, habitat sifat dan dzat Tuhan,
yang bersemayam dalam dirimu, akan terusir dan akan menimbulkan bencana.
Sebab engkau bukan pencipta, dan hanya sebagai pemelihara.
Dan bukankah pada zaman ini, telah banyak bukti yang nyata bagimu, diantara mereka yang telah mampu membuat pesawat ruang angkasa ribuan kali lebih besar dari dirimu, kapal induk yang meraksasa yang mampu, menampung puluhan pesawat yang berlandas diatasnya, yang juga merupakan hasil ciptaanmu yang lain, kenapa tidak ada satupun diantara ciptaanmu itu kau jadikan tempat persemayaman Tuhan? Sementara bila kau bentuk satu bangunan lain yang sama dengan kehendak para kaum tertentu pada zaman sebelummu, lantas kau katakan itu rumah Tuhan atau tempat kebaktian pada Tuhanmu. Lantas bagaimana pendapatmu bila suatu saat bangunan2 yang kau sangkakan rumah peribadatan itu musnah karena bencana ?
Dan kenapa kalau engkau ingin memilih bangunan sebagai tempat peribadatan Tuhan secara dhohir, tidak kau pilih saja salah satu bangunan yangdiciptakan Tuhan sendiri sebagaimana dirimu, walaupun setelah itu sama halnya dengan mengusir persemayaman hakiki Tuhan dari dalam dirimu keluar tubuhmu sehingga akan lebih menyulitkan dirimu di dalam menyembah, sedangkan saat ini persemayaman Tuhan yang jelas2 ada dalam dirimu saja tidak tertemukan, apalagi bilaTuhan ada diluar dirimu. Maka tentu akan membuatmu semakin melolong2 tak tentu rimbanya. Yang kesemuanya itu, semata semata bukan karena Tuhan tidak ada dalam dirimu, serta tak bisa menolongmu. Melainkan, karena ketiadaan kepercayaanmu, sehingga sering pula tanpa kau sadari, sifat mahluk yang ada diluar tubuhmu, kau jadikan Tuhan. Dan malah yang lebih celaka lagi, sifat aslinya kau buang dari dalam tubuhmu. Sehingga, yang semula ada titik terang agar kau jadikan awal pelita, malahan menjadi gelap gulita. Betapapun kau paksa menggunakan penerangan lain dari luar tubuhmu, tetap saja berada dalam kegelapan.
Dan bukankah pada zaman ini, telah banyak bukti yang nyata bagimu, diantara mereka yang telah mampu membuat pesawat ruang angkasa ribuan kali lebih besar dari dirimu, kapal induk yang meraksasa yang mampu, menampung puluhan pesawat yang berlandas diatasnya, yang juga merupakan hasil ciptaanmu yang lain, kenapa tidak ada satupun diantara ciptaanmu itu kau jadikan tempat persemayaman Tuhan? Sementara bila kau bentuk satu bangunan lain yang sama dengan kehendak para kaum tertentu pada zaman sebelummu, lantas kau katakan itu rumah Tuhan atau tempat kebaktian pada Tuhanmu. Lantas bagaimana pendapatmu bila suatu saat bangunan2 yang kau sangkakan rumah peribadatan itu musnah karena bencana ?
Dan kenapa kalau engkau ingin memilih bangunan sebagai tempat peribadatan Tuhan secara dhohir, tidak kau pilih saja salah satu bangunan yangdiciptakan Tuhan sendiri sebagaimana dirimu, walaupun setelah itu sama halnya dengan mengusir persemayaman hakiki Tuhan dari dalam dirimu keluar tubuhmu sehingga akan lebih menyulitkan dirimu di dalam menyembah, sedangkan saat ini persemayaman Tuhan yang jelas2 ada dalam dirimu saja tidak tertemukan, apalagi bilaTuhan ada diluar dirimu. Maka tentu akan membuatmu semakin melolong2 tak tentu rimbanya. Yang kesemuanya itu, semata semata bukan karena Tuhan tidak ada dalam dirimu, serta tak bisa menolongmu. Melainkan, karena ketiadaan kepercayaanmu, sehingga sering pula tanpa kau sadari, sifat mahluk yang ada diluar tubuhmu, kau jadikan Tuhan. Dan malah yang lebih celaka lagi, sifat aslinya kau buang dari dalam tubuhmu. Sehingga, yang semula ada titik terang agar kau jadikan awal pelita, malahan menjadi gelap gulita. Betapapun kau paksa menggunakan penerangan lain dari luar tubuhmu, tetap saja berada dalam kegelapan.
Karena sudah tidak lagi ada pijar, yang seyogyanya bisa kau pakai untuk menghidupkan perangkat kehidupan, serta cahaya penerang didalam kehidupanmu didunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar