1. Untuk itu wahai orang2 yang berakal, sering kalilah engkau mengasah akalmu guna melihat
duniamu, agar akalmu tidak tumpul. Dan bila akalmu tidak mampu, pergunakanlah
nalarmu, niscaya segala hal yang masih merupakan misteri akan terkuakkan ke
permukaan. Dan janganlah sekali kali engkau mengatakan tidak masuk akal
terhadap suatu hal yang masih belum terkuak olehmu. Sebab dengan demikian, maka nalarmupun engkau matikan sendiri.
2. Dan sesungguhnya, nalar itu segera berfungsi, ketika akalmu sudah tidak mampu berpikir. Lantas,
tariklah nafasmu dalam-dalam, dan jangan kau keluarkan
beberapa saat. Setelah itu,
hembuskanlah melalui mulutmu pelan pelan, maka niscaya nalarmu akan terbuka, untuk memikirkan segala hal yang masih merupakan misteri, terhadap pandangan segala hal yang menyangkut duniamu.
3. Wahai orang-orang yang berakal, kenalilah
nalarmu itu pada setiap saat dengan seringkali melatih merenungkan segala
permasalahan dunia yang masih belum terpecahkan baik olehmu maupun orang lain.
Sebab dengan sering-sering engkau merenungi menggunakan nalarmu, maka
kau akan semakin kenal dengan nalar. Dan disaat nalarmu itu terbuka, niscaya
akan terbuka terus menerus secara otomatis, sebegitu akalmu tidak mampu
memikirkan persoalan dunia ini, sampai permasalahan duniamu itu tuntas. Dan
bahkan, disaat nalarmu terbuka, tidak hanya satu
soal yang terpecahkan.
4. Akan tetapi justru engkau akan tertuntun, kedalam persoalan-persoalan yang tiada batasnya, yang belum sempat engkau pikirkan. Kemudian, disaat
jangkauan persoalan itu ternyata bukanlah urusan nalarmu, maka akhirnya
hatimupun, secara kodrati akan mengambil alih tugasnya, untuk memberikan jawaban. Untuk itulah mengapa AKU
melarangmu untuk langsung menggunakan hati,
terhadap segala hal yang masih menyangkut segala urusan duniamu. Sebab sebegitu
engkau menggunakan hati, maka tentulah nalar dan akalmu akan terhenti. Bila hal
ini sering engkau lakukan, dan secara kodrat jiwamu
tidak tahan, maka akan menyebabkan engkau berada dalam keadaan gila. Padahal
daya hatimu masih belum sampai pada titik sempurna.
5. Dan bukankah contoh-contoh semacam itu, sering kau lihat,
dan kau dengar? Diantara mereka yang mempunyai kelebihan, bisa melihat segala apa yang belum terjadi. Tetapi, tingkah lakunya seperti orang gila. Hal ini
dikarenakan; akal, dan
nalarnya rusak, tiada yang mengendalikan. Keadaan itulah
yang menyebabkan kenapa AKU turunkan Agama kemuka bumi ini; adalah untuk menyeimbangkan jiwamu, serta merupakan petunjuk jalan, agar engkau dapat menggunakan akal, nalar, dan hati, secara
tepat dan benar. Akan tetapi, bukanlah engkau lantas berTuhan kepada Agama itu
sendiri, sebagaimana yang pernah AKU firmankan
kepadamu. Sebab, baik Agama,
maupun dirimu, sama-sama merupakan ciptaanKU. Bagaimana
mungkin engkau akan menyembah ciptaanKU?
6. Dan, yang lebih celaka
lagi bila akhirnya pembawa agama itu sendirilah yang engkau sembah. Tetapi, tentu engkau tak akan pernah menyadari, selain sikap dan tingkah lakumu, yang mengatakan; bahwa
sesungguhnya, selama ini agama itu sendirilah yang kau
sembah.
7. Untuk itu,
agar engkau tidak lagi keliru langkah, maka jadikanlah agama, termasuk orang
yang membawa ajarannya, hanya sebagai obyek, dan dirimu sebagai subyek. Bukan malah sebaliknya, engkau yang menjadi obyek. Sebab dengan demikian, engkau malahan tidak akan mendapatkan apa apa. Bahkan, akal dan nalarmu pun akan mati,
termasuk pula peranan hatimu. Oleh karena itu,
janganlah sekali-kali engkau mengatakan; bahwa
agama itu dogma.
8. Tetapi, AKU, dan keberadaanKU lah yang sesungguhnya dogma. Dan, bagi mereka yang senantiasa mengatakan; bahwa agama itu dogma, maka secara tidak langsung, seolah-olah telah menyerahkan lehernya, untuk diikat menjadi suatu obyek, oleh agama itu sendiri.
Dan lambat laun, mereka akan terseret kedalam suatu peradaban
dimana agama itu terlahir. Sehingga, mereka
semakin lama, bukan semakin maju mengikuti perkembangan zaman.
Melainkan, justru semakin mundur kedalam zaman, dan peradaban, dari
sipembawa agama yang kau anut. Dan untuk itu pulalah pernah AKU firmankan
kepada Nabi dan Rasul; bahwa agama itu, adalah
semata-mata berupa ajaran kebaikan akhlak atau jiwa. Maka, mungkinkah jiwa itu akan menjadi baik, bila agama
yang diterapkan didunia ini tidak sesuai dengan zaman, dimana keberadaan si pemilik jiwa itu berada?
9. Dan,
bagaimana mungkin pula engkau akan mengetahui kebaikan dan keburukan, bila kau
tidak berada ditengah tengah kaum? Lalu, bukankah pada setiap kaum pasti akan ada seorang
pemimpin? Dan pada setiap pemimpin, tentu akan dilengkapi juga dengan kekuasaan. Semakin
besar suatu kaum, maka semakin besar pula pengaruh
kekuasaannya. Semakin besar pengaruh
kekuasaan, akan semakin besar, pula kecenderungan didalam suatu penyimpangan. Maka, untuk itulah diperlukan suatu agama, yang sesuai dengan pengaruh kekuasaan tersebut.
Sehingga, yang akan menjadi tolok ukur keberhasilan bagi masing-masing orang,
yang hidup didalam suatu kekuasaan,
bukanlah semata-mata terhadap suatu kebenaran. Melainkan, adalah; sampai
sejauh mana mereka berbuat baik didalam suatu kekuasaan.
10.
Sebab, sesungguhnya kekuasaan itu, adalah merupakan pancaran dari bangunan nafsu, yang telah mendhohir,
yang sifatnya adalah api, sedangkan kebaikan adalah bersifat air. Sehingga, bila diantara keduanya senantiasa didalam keadaan penuh
keseimbangan, maka keberadaan peradaban dalam kekuasaan itupun, akan semakin kokoh. Lama dan tidaknya suatu kekuasaan, tergantung pada seimbang dan tidaknya, unsur kebaikan yang ada didalamnya.
11. Dan, apabila engkau ingin mengetahui tanda tanda sebuah
kekuasan akan berakhir; cukup engkau lihat saja nilai keseimbangan itu didalam suatu kekuasaan.
Semakin banyak orang yang berbuat jahat, ataukah semakin banyak, orang yang berbuat baik. Dan, semakin banyak orang yang berbuat jahat, maka semakin
dekatlah kehancuran, dan keakhiran sebuah kekuasaan itu. Sebagaimana
keberadaan kodrat ciptaanKU yang tiada abadi, maka sebegitu keberadaan
kekuasaan itu telah hancur, maka lebur pulalah agama yang menjadi penopangnya.
Selain hanya sebuah nama,
yang masih diukirnya, sejak dari kejayaan
dimana agama itu terlahir.
12. Namun, sesungguhnya peradaban yang ada nantinya, telah berganti, dengan
peradaban yang sesuai, dengan keberadaan
zaman, serta kekuasaan yang baru, dimana suatu
kaum itu berada. Sehingga, penerapan didalam suatu
agama, antara kaum yang satu dengan yang lain, antara bangsa yang satu dengan yang lain, amat berbeda
pula, tergantung dengan kekuasaan yang ada
didalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar