Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 20 Mei 2014

JATISWARA KAWEDAR( seri 8)

1.  Untuk itu wahai orang2 yang berakal, sering kalilah engkau mengasah akalmu guna melihat duniamu, agar akalmu tidak tumpul. Dan bila akalmu tidak mampu, pergunakanlah nalarmu, niscaya segala hal yang masih merupakan misteri akan terkuakkan ke permukaan. Dan janganlah sekali kali engkau mengatakan tidak masuk akal terhadap suatu hal yang masih belum terkuak olehmu.  Sebab dengan demikian, maka nalarmupun engkau matikan sendiri.



2.  Dan sesungguhnya, nalar itu segera berfungsi, ketika akalmu sudah tidak mampu berpikir. Lantas, tariklah nafasmu dalam-dalam, dan jangan kau keluarkan beberapa saat. Setelah itu, hembuskanlah melalui mulutmu pelan pelan, maka niscaya nalarmu akan terbuka, untuk memikirkan segala hal yang masih merupakan misteri, terhadap pandangan segala hal yang menyangkut duniamu.


3.  Wahai orang-orang yang berakal, kenalilah nalarmu itu pada setiap saat dengan seringkali melatih merenungkan segala permasalahan dunia yang masih belum terpecahkan baik olehmu maupun orang lain. Sebab dengan sering-sering engkau merenungi menggunakan nalarmu, maka kau akan semakin kenal dengan nalar. Dan disaat nalarmu itu terbuka, niscaya akan terbuka terus menerus secara otomatis, sebegitu akalmu tidak mampu memikirkan persoalan dunia ini, sampai permasalahan duniamu itu tuntas. Dan bahkan, disaat nalarmu terbuka, tidak hanya satu soal yang terpecahkan.


4.   Akan tetapi justru engkau akan tertuntun, kedalam persoalan-persoalan yang tiada batasnya, yang belum sempat engkau pikirkan. Kemudian, disaat jangkauan persoalan itu ternyata bukanlah urusan nalarmu, maka akhirnya hatimupun, secara kodrati akan mengambil alih tugasnya, untuk memberikan jawaban. Untuk itulah mengapa AKU melarangmu untuk langsung menggunakan hati, terhadap segala hal yang masih menyangkut segala urusan duniamu. Sebab sebegitu engkau menggunakan hati, maka tentulah nalar dan akalmu akan terhenti. Bila hal ini sering engkau lakukan, dan secara kodrat jiwamu tidak tahan, maka akan menyebabkan engkau berada dalam keadaan gila. Padahal daya hatimu masih belum sampai pada titik sempurna.


5.  Dan bukankah contoh-contoh semacam itu, sering kau lihat, dan kau dengar? Diantara mereka  yang mempunyai kelebihan, bisa melihat segala apa yang belum terjadi. Tetapi, tingkah lakunya seperti orang gila. Hal ini dikarenakan; akal, dan nalarnya rusak, tiada yang mengendalikan. Keadaan itulah yang menyebabkan kenapa AKU turunkan Agama kemuka bumi ini; adalah untuk menyeimbangkan jiwamu, serta merupakan petunjuk jalan, agar engkau dapat menggunakan akal, nalar, dan hati, secara tepat dan benar. Akan tetapi, bukanlah engkau lantas berTuhan kepada Agama itu sendiri, sebagaimana yang pernah AKU firmankan kepadamu. Sebab, baik Agama, maupun dirimu, sama-sama merupakan ciptaanKU. Bagaimana mungkin engkau akan menyembah ciptaanKU?


6.  Dan, yang  lebih celaka lagi bila akhirnya pembawa agama itu sendirilah yang engkau sembah. Tetapi, tentu engkau tak akan pernah menyadari, selain sikap dan tingkah lakumu, yang mengatakan; bahwa sesungguhnya, selama ini agama itu sendirilah yang kau sembah.


7.  Untuk itu, agar engkau tidak lagi keliru langkah, maka jadikanlah agama, termasuk orang yang membawa ajarannya, hanya sebagai obyek, dan dirimu sebagai subyek. Bukan malah sebaliknya, engkau yang menjadi obyek. Sebab dengan demikian, engkau malahan tidak akan mendapatkan apa apa. Bahkan, akal dan nalarmu pun akan mati, termasuk pula peranan hatimu. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau mengatakan; bahwa agama itu dogma.


8. Tetapi, AKU, dan keberadaanKU lah yang sesungguhnya dogma. Dan, bagi mereka yang senantiasa mengatakan; bahwa agama itu dogma, maka secara tidak langsung, seolah-olah telah menyerahkan lehernya, untuk diikat menjadi suatu obyek, oleh agama itu sendiri. Dan lambat laun, mereka akan terseret kedalam suatu peradaban dimana agama itu terlahir. Sehingga, mereka semakin lama, bukan semakin maju mengikuti perkembangan zaman. Melainkan, justru semakin mundur kedalam zaman, dan peradaban, dari sipembawa agama yang kau anut. Dan untuk itu pulalah pernah AKU firmankan kepada Nabi dan Rasul; bahwa agama itu, adalah semata-mata berupa ajaran kebaikan akhlak atau jiwa. Maka, mungkinkah jiwa itu akan menjadi baik, bila agama yang diterapkan didunia ini tidak sesuai dengan zaman, dimana keberadaan si pemilik jiwa itu berada?


9.  Dan, bagaimana mungkin pula engkau akan mengetahui kebaikan dan keburukan, bila kau tidak berada ditengah tengah kaum? Lalu, bukankah pada setiap kaum pasti akan ada seorang pemimpin? Dan pada setiap pemimpin, tentu akan dilengkapi juga dengan kekuasaan. Semakin besar suatu kaum, maka semakin besar pula pengaruh kekuasaannya.  Semakin besar pengaruh kekuasaan, akan semakin besar, pula kecenderungan didalam suatu penyimpangan. Maka, untuk itulah diperlukan suatu agama, yang sesuai dengan pengaruh kekuasaan tersebut. Sehingga, yang akan menjadi tolok ukur keberhasilan bagi masing-masing orang, yang hidup didalam suatu kekuasaan, bukanlah semata-mata terhadap suatu kebenaran. Melainkan, adalah; sampai sejauh mana mereka berbuat baik didalam suatu kekuasaan.


10. Sebab, sesungguhnya kekuasaan itu, adalah merupakan pancaran dari bangunan nafsu, yang telah mendhohir, yang sifatnya adalah api, sedangkan kebaikan adalah bersifat air. Sehingga, bila diantara keduanya senantiasa didalam keadaan penuh keseimbangan, maka keberadaan peradaban dalam kekuasaan itupun, akan semakin kokoh. Lama dan tidaknya suatu kekuasaan, tergantung pada seimbang dan tidaknya, unsur kebaikan yang ada didalamnya.

11. Dan, apabila engkau ingin mengetahui tanda tanda sebuah kekuasan akan berakhir; cukup engkau lihat saja nilai  keseimbangan itu didalam suatu kekuasaan. Semakin banyak orang yang berbuat jahat, ataukah semakin banyak, orang yang berbuat baik. Dan, semakin banyak orang yang berbuat jahat, maka semakin dekatlah kehancuran, dan keakhiran sebuah kekuasaan itu. Sebagaimana keberadaan kodrat ciptaanKU yang tiada abadi, maka sebegitu keberadaan kekuasaan itu telah hancur, maka lebur pulalah agama yang menjadi penopangnya. Selain hanya sebuah nama, yang masih diukirnya, sejak dari kejayaan dimana agama itu terlahir.



12. Namun, sesungguhnya peradaban yang ada nantinya, telah berganti, dengan peradaban yang sesuai, dengan keberadaan zaman, serta kekuasaan yang baru, dimana suatu kaum itu berada. Sehingga, penerapan didalam suatu agama, antara kaum yang satu dengan yang lain, antara bangsa yang satu dengan yang lain, amat berbeda pula, tergantung dengan kekuasaan yang ada didalamnya.  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar