1. Oleh karena itu wahai orang-orang yang beriman dengan sebenar
benarnya iman, sesungguhnya engkau patut bersyukur bila disaat kau ingin
memenuhi kebutuhan bathinmu, dan orang-orang disekitarmu, tak satupun
yang memperhatikanmu. Ataupun ikut menggunakan kesempatan untuk
mendapatkan kelebihan yang kau miliki. Dan hal itu, sesungguhnya memang
merupakan tanda-tanda, sebagaimana yang pernah ditanamkan pada Nabi dan Rasul sebelum kamu, bahwasanya kebutuhan yang kau cari adalah kebutuhan bathinmu.
2. Dan, semakin sempurna tingkat pemenuhan kebutuhan bathinmu, maka
semakin tidak diketahui kelebihan yang kau miliki. Tidak terbatas pada
orang-orang disekitarmu saja, melainkan suku bangsa jin pun tak akan
mengetahui. Terkecuali, bila suatu ketika terjadi suatu akibat dari
perbuatan mereka terhadapmu. Namun mereka tiadalah menyangka, bahwa
akibat itu dari dirimu, selain tetap bertanya-tanya; apa yang terjadi
sampai kematiannya tiba. Sebagaimana pula yang pernah AKU kisahkan
kepadamu, tentang pertemuan hambaKU Haidir dengan Musa. Dan sesungguhnya
pula, Musa pun tak akan pernah mengetahui, seandainya AKU tidak
berfirman kepada Musa. Bahkan, sebegitu Musa mengetahui kelebihan yang
dimiliki oleh Haidir, maka pada saat itu dia raib dari pandangannya,
tanpa diketahui darimana dia datang, dan kemana perginya.
3. Oleh karena itu janganlah se-kali-kali mempercayai mereka para ahli
Kitab, yang mengatakan bahwa ; semakin sempurna pemahaman seseorang
didalam mengkaji kitabnya, maka semakin berwibawalah keberadaannya
terhadap orang-orang disekitarnya. Padahal kewibawaan itu bersifat
lahir, sedangkan dengan kesempurnaan pemahamanmu terhadap Kitab-kitab
Allah, maka mereka akan semakin tidak mengerti terhadap keberadaanmu.
4. Untuk itu, bila engkau sampai pada tingkat yang demikian, janganlah
engkau sekali-kali berbuat sesuatu, yang menyebabkan menjadi celaan
mereka, terkecuali bila engkau tetap dalam keadaan sabar. Sebab bila
tidak, maka mereka akan menanggung akibat dari karmanya yang telah
mencela dirimu. Padahal, adanya celaan itu lantaran sikapmu sendiri.
Hormatilah mereka, sesuai dengan apa yang menjadi kodratnya. Atau
pergilah dari sisi mereka bila dirasa mereka akan mencelamu.
5. Dan sesungguhnya amatlah sulit, untuk meniadakan sama sekali terhadap
celaan itu. Apabila engkau telah berbuat baik, sebagaimana orang lain
kepada mereka, tetapi engkau masih saja dicelanya, lantaran perbedaan
cara keimanan pada Tuhanmu, maka biarkanlah mereka itu akan menerima
karmanya sendiri. Apalagi, bila yang mencelamu itu sudah melampaui
batas, maka tentulah dibaliknya, mempunyai pamrih yang tersembunyi, agar
dikatakan; bahwa dia lebih beriman dari pada dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar