Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 27 Mei 2014

MASALAH DIDALAM MASALAH


Setiap orang tentu tidak akan lepas dari masalah, bahkan bisa saja disaat masalah yang satu belum selesai sudah ditimpuk oleh masalah baru.
Yang menjadi masalah, bukanlah karena adanya masalah tersebut, sebab pada dasarnya masalah awal yang datang tentu masih kecil, dan menganggap masih bisa diatasi. Apalagi jika timbulnya masalah itu sudah disadari, dan sudah dipersiapkan antisipasinya. Akan tetapi, munculnya masalah yang pelik adalah disaat antisipasi yang diambil malah justru akan semakin memperdalam terhadap masalah awal. Alih-alih antisipasi itu bisa menyelesaikan masalah awal. Yang terjadi masalah justru akan semakin blunder.

Contoh kasus : ketika anak kita sakit dan tidak punya uang pergi kerumah sakit, ini merupakan masalah. Kemudian berhutang, yang nanti bulan depan akan membayar hutangnya. Padahal, bulan depan itu kita tidak punya cadangan, atau tabungan uang untuk membayar hutangnya. Sehingga bulan depannya saat ditagih, akhirnya menjadi masalah baru. Karena terdesak tagihan, lantas meminjam uang lagi, yang mungkin bunganya semakin mencekik leher.
Jika kejadian ini semakin berlarut-larut, tentu akan semakin berada didalam kesusahan, dan penderitaan. Dan inilah yang disebut "masalah didalam masalah".
Lama-kelamaan bisa menjual seluruh harta benda yang ada, rumah melayang, jatuh miskin, sementara yang sakit tidak sembuh. Dan masih banyak lagi contoh yang lain, terutama disaat kita memiliki kartu kredit. Seringkali disaat ada masalah kecil, sudah kita selesaikan lewat kartu kredit, tanpa berpikir; adakah untuk membayar tanggungannya dibulan berikutnya.

Semua kejadian ; masalah didalam masalah ini, lantaran tidak pernah berpikir sebelumnya, yakni; disaat awal masalah datang; apakah pilihan terhadap antisipasi atau jalan keluar itu dapat dilaksanakan dengan mulus? Khususnya terhadap sebab dan akibatnya, serta resiko terbesar yang akan datang, jika antisipasi masalah awal itu gagal. Jika sudah menyadari, bahwa kita tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan antisipasi itu, janganlah dikerjakan. Gantilah dengan antisipasi lain yang terkecil resikonya. Apa resiko yang terkecil? Adalah "kepasrahan secara total".

Kepasrahan inilah yang sering kali dilupakan. Dan ini memang membutuhkan kesadaran diri. Jika sudah terlanjur muncul "masalah didalam masalah", jangan lantas semakin diteruskan menuju keterpurukan yang semakin dalam. Melainkan, tanamkan "keyakinan" bahwa antisipasi lewat "pasrah" itu, pasti akan memunculkan energi yang besar didalam menemukan "jalan keluar" sendiri.
Oleh karena itu, kenapa kita butuh berlatih didalam memilih 2 kemungkinan, yakni apa yang akan dipilih itu benar atau tidak. Dan bukan semata-mata untuk melihat "gagal atau berhasil" terhadap apa yang dipilih. Melainkan, adalah untuk merasakan"warna getaran rasa yang dialami" terhadap hasil akhir dari apa yang dipilihnya. Dengan begitu, kita bisa menjadikan getaran rasa itu sebagai pendulum disaat ada lagi masalah baru yang akan dialami.

Dan, getaran rasa itu nampak jelas, atau tidak, tergantung sepenuhnya dari unsur keyakinan yang ditanamkan didalam "melakukan suatu tindakan". 

Semakin sering kita melakukan uji coba didalam melatih keyakinan, maka akan semakin sering pula kita merasakan berbagai macam getaran rasa. Sehingga, akan semakin tepat pula kita bisa menyelesaikan masalah, sesuai dengan getaran rasa yang pernah dialaminya. Hal itu karena getaran rasa yang murni, datangnya adalah dari hati kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar