Seseorang, jika terjerat kasus hukum, dirinya secara tidak sadar mengatakan "saya merasa tidak bersalah". Kata "merasa" sebenarnya menunjukkan keraguan bahwa hatinya, merasakan adanya kesalahan itu.
Jika seseorang memang tidak bersalah pasti akan tegas mengatakan "tidak bersalah". Serta, rela menanggung
akibat apapun, demi mempertahankan bahwa dirinya benar. Dengan begitu,
nantinya pasti akan ada jalan keluar untuk membebaskan dirinya, dari jeratan hukum yang disandangnya.
Tetapi, jika "merasa" tidak bersalah, dan bahkan menggunakan
alasan-alasan hukum untuk membela, justru malah akan semakin menjerat
dirinya sendiri. Disatu sisi dia tetap akan diserang dari luar tubuhnya.
Pada sisi yang lain akan diserang oleh perasaan bersalah dari dalam
dirinya. Terbukti saat diperiksa dengan "alat tes kebohongan", akan
ketahuan kalau dirinya bersalah. Siapa yang memberitahu alat tes
kebohongan itu jika bukan hatinya sendiri?
Jika seseorang mengalami atau telah melakukan kesalahan, semestinya berusahalah untuk pasrah, terhadap akibat apapun dari kesalahan yang diperbuatnya. Disamping untuk menunjukkan adanya watak ksatria, sekaligus akan memunculkan kesadaran dari dalam diri bahwa ; berani berbuat maka harus berani pula bertanggung jawab. Sehingga kemudian, akan memunculkan rasa yang penuh kepasrahan. Dengan begitu, didalam menjalani hasil perbuatan, tidak akan mengalami siksaan batin yang berlipat ganda, sebesar kebohongan yang dipakai untuk menutupi kesalahannya.
Dan bahkan akan menjadikan dirinya semakin akan peka dan semakin membuat budi pekerti yang luhur, serta arif bijaksana dalam menghadapi musibah didalam hidupnya.
Jika seseorang mengalami atau telah melakukan kesalahan, semestinya berusahalah untuk pasrah, terhadap akibat apapun dari kesalahan yang diperbuatnya. Disamping untuk menunjukkan adanya watak ksatria, sekaligus akan memunculkan kesadaran dari dalam diri bahwa ; berani berbuat maka harus berani pula bertanggung jawab. Sehingga kemudian, akan memunculkan rasa yang penuh kepasrahan. Dengan begitu, didalam menjalani hasil perbuatan, tidak akan mengalami siksaan batin yang berlipat ganda, sebesar kebohongan yang dipakai untuk menutupi kesalahannya.
Dan bahkan akan menjadikan dirinya semakin akan peka dan semakin membuat budi pekerti yang luhur, serta arif bijaksana dalam menghadapi musibah didalam hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar