Kita tahu bahwa akhir-akhir ini
dekadensi moral sudah semakin semarak, kejahatan sudah multi dimensi ditengah
masyarakat. Mulai dari pelecehan seksual, perampokan, penjarahan, paedofilia
dan lain-lain. Hati nurani seolah sudah lenyap dari sebagian masyarakat. Bahkan yang lebih gila lagi, banyak anak-anak
yang masih balita justru dijadikan korban keganasan nafsu serakah, yang
semestinya mereka harus dilindungi didalam menikmati masa kanak-kanaknya
Disaat sudah ada kejadian, hampir semua orang menghujat, mencaci maki. Sudah banyak para koruptor dihukum dan harta kekayaannya disita. Namun kenapa tidak pernah membuat para pelaku kejahatan itu jera. Malahan justru semakin massif. Jika dikatakan kita tidak perduli, nyatanya setiap ada kejadian, hampir semua orang, semua lembaga ikut menyalahkan semakin meramaikan peristiwa itu sendiri. Dengan adanya caci maki terhadap perbuatan para pelaku kejahatan, berarti semua tahu bahwa perbuatan itu adalah salah, dan patut dihukum. Logikanya, kalau setiap orang tahu terhadap perbuatan jahat, tetapi kenapa perbuatan jahat itu tetap saja banyak. Dan yang ironis sekali jika semula kita yang mencela dan menghujat, bisa saja suatu ketika kita menjadi pelaku kejahatan itu sendiri. Jika dijawab karena kurangnya imannya, kenapa imannya kurang? Dan kalau imannya kurang, kenapa bisa tahu bahwa itu adalah perbuatan jahat jika ada orang lain yang melakukan?
Disaat sudah ada kejadian, hampir semua orang menghujat, mencaci maki. Sudah banyak para koruptor dihukum dan harta kekayaannya disita. Namun kenapa tidak pernah membuat para pelaku kejahatan itu jera. Malahan justru semakin massif. Jika dikatakan kita tidak perduli, nyatanya setiap ada kejadian, hampir semua orang, semua lembaga ikut menyalahkan semakin meramaikan peristiwa itu sendiri. Dengan adanya caci maki terhadap perbuatan para pelaku kejahatan, berarti semua tahu bahwa perbuatan itu adalah salah, dan patut dihukum. Logikanya, kalau setiap orang tahu terhadap perbuatan jahat, tetapi kenapa perbuatan jahat itu tetap saja banyak. Dan yang ironis sekali jika semula kita yang mencela dan menghujat, bisa saja suatu ketika kita menjadi pelaku kejahatan itu sendiri. Jika dijawab karena kurangnya imannya, kenapa imannya kurang? Dan kalau imannya kurang, kenapa bisa tahu bahwa itu adalah perbuatan jahat jika ada orang lain yang melakukan?
Dan jika dijawab, bahwa itu adalah perbuatan nafsu dan kita tidak sadar
melakukannya, kenapa muncul ketidak sadaran? Jika dikatakan karena tidak
percaya kepada Tuhan, lantas apa artinya para pemimpin agama yang semakin
banyak, dibandingkan dulu? Padahal semestinya semakin banyak para pemimpn agama
yang mengajarkan budi pekerti, tentu akan semakin banyak pula orang-orang yang
berbudi luhur. Namun faktanya justru pelaku kejahatan semakin gila dengan
merusak para generasi penerus yang masih anak-anak. Bahkan ada anak yang masih
dibawah umur tidak sedikit yang berbuat kejahatan. Jika dikatakan bahwa banyak
orang yang memikirkan dirinya sendiri atau egois, dan tidak memikirkan orang
lain. Kenapa mereka banyak yang hancur, dan menderita? Padahal semestinya jika
memikirkan dirinya sendiri, tentu makin lama akan semakin kaya, karena pelit
dan tidak mau berbagi terhadap orang lain.
Dan masih banyak lagi pertanyaan untuk mengejar setiap jawaban yang ada.
Yang intinya adalah kenapa semua itu harus terjadi, dan kembali terjadi yang membuat
miris disaat berulangnya dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain. Dari
kejahatan yang satu menuju kejahatan yang lain. Bahkan bisa juga secara
bersama-sama dengan bencana alam untuk semakin memporak porandakan jiwa-jiwa
yang gersang penuh ketakutan.
Menurut saya, semua itu terjadi bukan karena ketidak-tahuan bahwa perbuatan itu jelek atau baik. Akan tetapi banyaknya kejahatan yang mengarh pada dekadensi moral, semata-mata karena selama ini masing-masing individu lebih menitik beratkan kepada pencitraan dirinya. Sehingga, secara tidak sadar akan selalu mengatakan bahwa dirinya yang paling baik dibandingkan orang lain. Dengan adanya penilaian bahwa dirinya baik, maka sudah barang tentu akan tertuntun untuk menilai orang lain. Dan jika ada orang lain yang berbuat jahat, maka kita ikut terhanyut bersama orang-orang lain untuk mencaci tindak kejahatan yang dilakukan seorang pelaku. Padahal semua apa yang ada dikuar itu adalah merupakan barometer bagi diri kita sendiri. Khususnya didalam melakukan instropeksi, agar kita mau mawas diri serta melatih kesadaran agar kita tidak melakukan suatu perbuatan yang menyimpang dari tatanan yang sudah ada.
Namun, jika kita selalu menilai orang lain, bagaimana mungkin akan ada kesempatan untuk melihat kedalam diri? Sehingga akhirnya, kita tertuntun untuk berlomba-lomba melakukan pecitraan diri. Yang tentu, kita sudah lepas dari kesadaran, bahwa masing-masing orang jalan kehidupannya pasti berbeda tergantung dari visi dan misinya didalam memenuhi kehidupan masing-masing didunia ini. Akibatnya, kita juga akan dilihat dan dinilai oleh orang lain. Jika demikian, kita akan selalu menuruti mimpi orang lain, bahwa diri kita baik lantaran penilaian, dan bukan lantaran kesadaran hanya untuk bermanfaat bagi orang lain, tanpa memperhatikan dinilai baik atau buruk. Sehingga, jika selalu sadar maka secara otomatis, hati sanubari juga akan menuntun kita menuju suatu sikap dan tindakan yang tepat dan akurat bagi tata kehidupan sebagai manusia berbangsa dan bermasyarakat.
Selamat merenung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar