Janganlah kamu menyangka, bahwa Tuhanlah yang menciptakan surga dan neraka. Apalagi jika menyangka bahwa seseorang akan ditentukan masuk neraka, sementara yang lain masuk kedalam surga.
Juga, bukanlah Tuhan yang menentukan seseorang menjadi kaya, sedang yang lain tidak punya.
Surga dan neraka adalah hasil ciptaan manusia, dimanapun manusia itu berada selalu menciptakan keduanya menjadi ada dan bermakna.
Tuhan hanya sekedar menyediakan wahana yang seolah tidak bermakna. Dan manusia, kemudian menuliskan kedalam wahana itu, menjadi bermakna surga dan neraka, susah, derita, bahagia, dan anugerah, serta musibah.
Semula, semua hanyalah ilusi dan delusi, serta dunia ini, hanya sebatas angan-angan belaka berbentuk maya. Namun, bukan berarti untuk tidak berbuat apa- apa. Melainkan, agar manusia berpikir, bahwa apa yang diangankan menjadi nyata. Yang semula tidak ada, menjadi ada.
Dan, hasil pola berpikir itulah yang akhirnya tertulis didalam wahana. Yang semula bagaikan kertas putih, menjadi penuh coretan kehidupan, yang mewarnai perjalanan hidupnya. Sehingga, rasapun yang semula hening, dan bening, menjadi warna rasa, serta yang menggerakkan dirinya, menuju apa yang menjadi damba.
Jika warna rasa itu dominan menggunakan hati, yang terjadi adalah dia telah menciptakan surga bagi dirinya. Dan diapun bahagia berada didalamnya.
Begitu pula, jika warna rasa itu dominan menggunakan nafsunya, maka dia telah menciptakan neraka, dan dia akan berkabung didalam neraka, yang telah diciptakan sendiri.
Lantas, apakah diantara kita akan menyalahkan Tuhannya? Sedang Dia hanyalah sebatas menyediakan wahana belaka?
Seandainya didalam diri kita ada kesadaran, bahwa setiap langkah akan membawa tulisan pada wahana alam, kenapa kita mencipta segala sesuatu yang tidak disuka? Dan kenapa kita tidak membiarkan saja wahana itu, sesuai dengan aslinya, agar tidak tercipta surga maupun neraka? Terlebih lagi, apa artinya surga jika yang menuliskan wahana itu adalah orang lain. Yang bisa juga akan menjadi neraka, lantaran tidak sesuai dengan habitat rasa yang ada didalam dirinya.
Dan sebaik-baiknya tulisan kehidupan, adalah jika ditulis sendiri dengan penuh kesadaran. Sebab jika ada yang tidak disuka, kita bisa menghapusnya, dan mengganti dengan tulisan yang lain. Kemudian untuk kita jadikan pedoman menuju hakekat kehidupan, sesuai dengan makna rasa yang ada didalam diri masing-masing.
Tetapi, jika tiada tulisan, dan masih tetap berupa wahana sesuai aslinya, untuk apa kita diberi jiwa? Dan nafsu, juga tidak akan pernah bisa berbuat apa-apa tanpa warna, selain keputus-asaan didalam melangkah tanpa tujuan.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar