" ini sudah merupakan takdir yang harus aku alami". Frasa tersebut sering kali kita dengar dari orang yang sedang mengalami suatu keadaan yang tidak dikehendaki.
Tetapi, apakah orang yang mengatakan seperti itu mengerti dan memahami betul tentang takdir itu sendiri? Sebab, jika tidak mengerti, janganlah sekali-kali mengatakan takdir Tuhan. Mengapa?
Karena hal itu sesungguhnya menunjukkan bahwa kita ingin lari dari tanggung jawab. Dan seolah-olah tidak ingin disalahkan, serta ingin melemparkan tanggung jawab itu kepada Tuhan yang telah mentakdirkan keadaannya jadi begitu. Dan Tuhanlah yang dijadikan kambing hitam atas segala hal yang dialami.
Jika kita mau menyadari, tidak akan mungkin ada sebuah takdir tanpa adanya proses dan progress sehingga tercipta menjadi sebuah takdir.
Dan semestinya seseorang mau untuk berpikir setiap akan menjalankan sebuah kehendak, tidak akan terlepas dari hukum sebab akibat. Untuk itu, seharusnya pula bisa memilih takdir lewat perenungan yang dalam. Khususnya tentang hasil akhir yang sekiranya akan dialami. Sehingga nantinya disaat takdir itu dialami, tidak ada rasa penyesalan dalam dirinya. Akan tetapi akan muncul suatu pemahaman bahwa jika melakukan sesuatu akan muncul getaran didalam diri. Dan dari getaran itu akan menunjukkan apakah kita tetap akan melakukan atau tidak. Jika getaran itu masih terasa asing karena belum pernah mengalami, dan kita ingin mencoba untuk melakukan prosesnya, maka tidak akan terjadi suatu penyesalan. Namun akan mendapat suatu pengetahuan bahwa jika kehendaknya begini maka bentuk takdirnya seperti itu.
Dengan begitu kita tidak akan lagi mengatakan bahwa "saya memang ditakdirkan seperti ini ". Yang ada, jika sudah mengetahui takdirnya seperti itu, dia akan mudah untuk mengubahnya, karena sudah memahami sejak awal kehendak sampai proses pelaksanaan hingga saat takdir itu dialami.
Ironisnya; sering mengatakan bahwa itu takdir, tetapi tetap saja tidak mau mengubahnya, itu sama halnya dengan bohong. Yang ingin bermalas-malasan tidak mau berusaha. Bukan karena putus-asa, tetapi karena memang egois untuk selalu menyalahkan Tuhan secara halus. Dan Tuhan yang disuruh bertanggung jawab.
Apakah mungkin Tuhan akan mengubah takdir seseorang, jika bukan orang itu sendiri yang mau mengubahnya lewat kehendak, agar proses dan progresnya juga berubah. Maka takdirnyapun juga berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar