Sebelum mengawali tahun 2015 ini, Indonesia telah diterpa 4 macam bencana. Menurut pandangan umum peristiwa-peristiwa negatif senantiasa dikaitkan dengan negara yang juga mengalami negatif. Namun tidak semuanya betul. Sebab peristiwa yang terjadi dan dialami oleh masing-masing individu memiliki makna tersendiri. Biasanya, jika seseorang yang mengalami peristiwa negatif dan menimbulkan kerugian disebut musibah atau bencana.
Sementara peristiwa positif disebut angerah atau barokah. Penilaian terhadap kedua hal tersebut bisa terjadi lantaran kejadiannya tidak diketahui lebih dahulu, datangnya tiba-tiba, tanpa melibatkan kehendak dari dirinya masing-masing. Tetapi jika memang adanya rasa kehendak, maka seluruh kejadian, adalah merupakan hasil akhir, tanpa berimplikasi pada yang namanya musibah atau barokah.
Begitu pula yang terjadi pada alam semesta. Jika manusia saja bisa memiliki kehendak yang merujuk pada kesadaran, tentu alam semesta juga memiliki kehendak. Sesuai dengan akumulasi kehendak mayoritas manusia yang berada didalamnya. Termasuk 4 bencana alam pada beberapa waktu yang lalu. Jika kita baca semiotika terhadap 4 bencana dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Bencana Banjir (energi air); hal ini adalah untuk meruntuhkan bangunan yang telah tertata oleh nafsu yang #bersifat_Air (lambangnya adalah berwarna putih, arahnya sebelah timur);
2.Tanah Longsor yang memakan banyak korban di Banjar negara (energi tanah); adalah untuk menghancurkan bangunan yang telah tertata oleh nafsu yang #bersifat_Tanah(lambangnya berwarna hitam, arahnya sebelah utara);
3. Kebakaran yang menghancurkan mayoritas bangunan pasar klewer di solo (energi api); adalah untuk menghancurkan bangunan yang telah tertata oleh nafsu yang #bersifat_Api (lambangnya adalah berwarna merah, arahnya sebelah selatan);
4.Kecelakaan pesawat udara Air Asia(energi udara); adalah untuk menghancurkan bangunan yang telah tertata oleh nafsu yang #bersifat_udara/angin/bayu (lambangnya berwarna kuning, arahnya sebelah barat).
Dengan adanya 4 bencana yang datangnya secara berurutan seperti ini merupakan semiotika bahwa istana nafsu yang telah terbangun, semuanya mengalami kehancuran, dan kembali pada titik Nol atau titik dasar saat nafsu itu hadir pada masing-masing orang. Khususnya bagi mereka-mereka yang selama ini membangun nafsunya tanpa adanya kesadaran dari jiwanya.
Adanya 4 bencana tersebut menandakan bahwa keempat nafsu berada pada titik nadir, titik fitrahnya, sehingga akan mempermudah bagi bangsa indonesia untuk kembali membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik, lebih sejahtera serta lebih berdaya guna dan tepat guna. Terutama didalam cita-cita untuk memakmurkan lahir dan batin yang lebih mudah. Mengapa?
Karena dengan ke 4 nafsu yang kembali murni, manusia semakin mempermudah pula melihat #kedalam_jati_dirinya, tanpa terkontaminasi oleh kerancuan warna nafsu yang selama ini senantiasa mempengaruhi. Cahaya Sang #Ruh kembali menjadi penuntun tanpa penghalang lewat hati. Serta, akan mempermudah mengantarkan kita pada kebenaran yang sesungguhnya. Adapun bagi negara Indonesia, akan tertuntun menuju pintu gerbang cita2. Walaupun secara logika, masih rawan tanpa kekuatan 4 nafsu lantaran kembali menjadi bayi, tetapi sesungguhnya akan semakin bercahaya, serta akan menimbulkan rasa kasih bagi negara manapun yang melihatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar