Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 25 Februari 2015

SEMIOTIKA DIBALIK BOOMING BATUAN



Seiring dengan perkembangan jaman yang selalu bergerak menuju perubahan, sifat manusia akan tertuntun pula menuju pada perubahan pada jiwanya. Sebegitu jiwa manusia sudah mencapai puncak pencarian pada tingkat ketinggiannya, akan kembali berangsur turun kebawah. Bahkan sampai menembus ketanah mencari pada kedalaman. Semula yang dicari hanya sebatas yang tersurat akan kembali menuju halekat yang tersirat.

Jauh sebelum batu-batuan menjadi booming, banyak orang yang tergila-gila akan bunga kaktus atau bunga berduri dari padang pasir(Euphorbia). Kemudian dilanjutkan dengan bunga kamboja Jepang( Adenium). Setelah itu berpindah lagi ke bunga gelombang cinta(roar's of love), yang bersamaan pula dengan boomingnya tanaman sirih merah dan hitam.


Setelah cukup lama dan tumbuhan itu menjadi stagnan, saat ini yang menjadi booming adalah jenis batu-batuan. Dan saking boomingnya banyak orang yang berlomba mencari dan menggali batuan yang dikenal dengan nama batu akik tersebut.

Dari runutan apa yang dijadikan booming selama ini, sepertinya memang menunjukkan arah perjalanan pola pikir serta pencarian oleh jiwa manusia itu sendiri. Dari yang semula adalah hal yang bersifat ketinggian, kembali menukik kedalaman bumi. Dan jika saya mencoba menguraikan adalah sebagai berikut :

1.Bunga kaktus yang berduri dan tumbuh dipadang pasir(Euphorbia), menggambarkan bahwa masyarakat didalam mencari kehidupan sehari-hari begitu teramat sulit, namun masih bisa melanjutkan kehidupannya. Walaupun pohonnya berduri dan bergetah serta sedikit air selain tetesan embun, dan siraman air hujan.

2. Bunga Adenium atau kamboja Jepang yang kita tahu bahwa Jepang mengalami 4 musim. Ini menandakan bahwa jiwa manusia sudah mulai mengarah pada pengenalan pada nafsunya. Walaupun pohon ini ini berbunga dan bergetah, namun mencoba untuk direkayasa, dijadikan bonzai agar kelihatan indah dipandang mata. Sehingga semakin banyak mengandung kreatifitas membonzai semakin mahal harganya. Jadi ada unsur keikut campuran manusia didalam memolesnya. Yang istilah sekarang disebut dunia pencitraan. Yang hal ini masih menggambarkan nafsu yang dipulas menjadi indah.

3. Bunga Gelombang cinta. Walaupun sebenarnya tidak mengenal istilah bunga selain lekuk gelombangnya yang tumbuh kokoh, namun bunga ini benar-benar sampai berharga ratusan juta bahkan mencapai milyar. Bahkan diistana presiden bunga ini menjadi kekaguman hampir semua orang pada waktu jamannya presiden ke 6.
Dari tanaman ini menunjukkan bahwa jiwa manusia ingin kembali menumbuhkan rasa cinta didalam dirinya, kendatipun masih tetap mendapatkan terpaan dari gelombangnya, tetapi masih tetap penuh ketegaran. Segala hal, baik itu pekerjaan maupun didalam sikap prilaku sehari-hari, sudah mulai disentuh dengan rasa cinta pada sesama. Walaupun didalam mewujudkan rasa cinta sesama antara yang satu dengan yang lain, masih banyak yang menimbulkan petaka dan derita. Yang hal itu lantaran perbedaan pemahaman didalam mengimplementasikan rasa cinta itu sendiri.

4. Batu-batuan. Munculnya ketertarikan pada batu akik, menunjukkan bahwa jiwa manusia sudah mengalami perubahan secara total. Menandakan sudah berakhirnya pencarian terhadap ketinggian, yang dilambangkan dengan pepohonan atau tumbuhan. Dan hal ini ditandai dengan modal dasar bunga gelombang cinta itu sendiri, yang telah tertanam didalam suatu pemahaman bahwa; segala yang nampak dipermukaan bukanlah merupakan keindahan. Apalagi jika sesuatu yang nampak itu dipaksakan, bahwa itu adalah indah.

Sehingga dengan booming nya batuan akik, yang hal ini ditandai sekitar 2 tahun lalu ketika saya mendapat souvenir batuan sebesar sekitar 10 kg berbentuk jantung. 

Saya amat bahagia. Bukan terhadap souvenir itu sendiri. Tetapi lebih pada semiotika yang ada didalamnya. Dimana kulit luarnya mengandung batuan giok warna hijau, dan lapisan kedua warna putih bagaikan baiduri bulan. Sedangkan didalamnya ada batuan stalagtit berwarna kecubung. 
Dari semiotika yang terbaca, saya mendapat gambaran bahwa; sejak saat itu mayoritas orang akan kembali tertarik akan penggalian kedalaman diri. Dan bukan lagi pada permukaan yang tersurat atau bersifat ragawi. Melainkan sudah pada penggalian tersirat yang bersifat batini.

Dengan begitu, lambat laun kita akan semakin tertarik pada hal-hal yang menyangkut pada jati dirinya, khususnya didalam penggalian batu kehidupan yang asli dari dalam dirinya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar