Mungkin diantara kita pernah mendengar bahwa kura-kura yang lahir disatu tempat, maka ketempat itu pula dia akan kembali untuk bertelur, serta mengembang biakkan anak keturunannya. Betapapun kura-kura itu mengarungi lautan cukup jauh, dan cukup lama, saat dia bertelur sekitar 35 tahun, tentu dia akan kembali kepantai dimana dia dulu terlahirkan lewat cangkangnya.
Mengapa? alam sengaja untuk memberitahu kita untuk membacanya. Dimana kura-kura mengetahui kalau tempat yang terbaik baginya didalam mengembang biakkan keturunannya, adalah dimana dulu dia terlahir. Begitu seterusnya akan berlaku lestari, terkecuali jika tempat itu sudah rusak, sehingga merusak ekosistem yang ada. Maka saat itu kura-kura akan mencari tempat lain yang sesuai dengan ekosistem awal.
Sesungguhnya gambaran diatas juga berlaku pada seluruh makhluk termasuk diri kita sebagai manusia. Adanya istilah mudik di Indonesia, adalah merupakan napak tilas terhadap kota kelahiran. Namun hakekatnya, adalah untuk mengisi kembali energi kehidupan awal yang pernah dimiliki pada saat dia terlahir. Jika sudah waktunya mudik semua berbondong-bondong untuk pulang kampung tidak peduli apa yang menjadi landasan agama yang dianutnya.
Mengapa bisa demikian, dan mengapa banyak orang yang berusaha semaksimal mungkin untuk pulang? Walaupun kadang rela berhutang, atau bahkan ada yang berbuat kriminal untuk mendapat ongkos pulang.
Hal itu karena tanah, air, dan udara dimana kita terlahir, maka disitu pula sumber kehidupan dan sumber kekayaan itu tersimpan. Dan hal itu akan menjadikan magnit yang menggerakkan kita untuk datang agar kembali bisa bersenyawa. Yakni dengan bertemunya kedua unsur antara sumber kehidupan diluar raga, dan yang berada didalam diri manusia. Tepatnya diliver atau hepar yang berisi 4 jenis bak penampung kehidupan manusia itu sendiri.
Dan manusia, tidak akan mungkin terlahir jika tidak ada kecocokan antara flora dan fauna, dimana kedua orang tua kita tinggal, sampai terciptanya spermatozoa dan indung telur. Kemudian bibit manusia masuk serta menempel ke indung telur, lantas menempel ke dinding rahim seorang calon ibu.
Saat ini ketika jaman sudah semakin modern, serta seolah sudah tidak ada lagi batas wilayah, banyak orang yang mengadakan migrasi dari satu tempat ke tempat lain, bahkan sampai ke lintas negara, serta beranak pinak sampai beberapa keturunan. Tetapi bisakah mereka melupakan daerah asalnya? Tidak akan pernah bisa. Bahkan semakin lama meninggalkan kota kelahiran akan semakin dalam energi kerinduan yang tertanam. Untuk apa? Adalah untuk kembali menyatu terhadap energi awal terhadap dirinya terlahir kemuka bumi ini.
Intinya : kemanapun kita pergi dan bermigrasi usahakan sesekali kita untuk kembali. Sesekali kita bersenyawa dengan sifat dan habitat asal kita. Apalagi bagi mereka yang senantiasa mendapatkan kesulitan serta kesusahan hidup didaerah rantau.
Dan ada jalan lain agar kita tidak menghabiskan beaya yang besar untuk pulang yakni dengan jalan bawalah segumpal tanah dimana dirimu terlahir, dan bawalah kemanapun dirimu pindah. Agar ruh yang ada didalam tanah yang kamu bawa itu akan menjadikan parabola atau satelit bagimu guna berhubungan dan mengambil energi kehidupan dan kekayaan bagimu pada tempat yang baru. Syukur-syukur jika dirimu membawa serta tali pusarmu yang mungkin ada dan masih ada. Sebab didalam tali pusarmu itu tersimpan sejarah hidup dan kehidupan, serta sumber kekayaan, ketika dirimu mulai berada didalam kandungan ibumu.
Terakhir "Haweya samar marang sangkan paraning dumadi".
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar