Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 11 Maret 2015

BIDADARI YANG SELALU TERBANG SENDIRI



Saat pertama dirimu turun dari surga kebumi adalah semata untuk membawa amanah berupa cahaya kehidupan. Serta memberikan rasa penuh kedamaian dibumi, sembari mencari calon pasanganmu untuk nantinya kau bawa terbang kembali kelangit sana.

Banyak orang yang terpikat olehmu apalagi saat melihat sayapmu yang berwarna emas tidak seperti bidadari yang lain. Dirimu jelita, ragamu selalu beraroma nirwana. Bahkan, kepak-kepak sayap mu saat terbang, seolah mengeluarkan seribu kembang, dan suaramu selalu menyusup pada jiwa setiap perjaka.

Hingga ketika ada perjaka yang terpikat, sesekali dia kau ajak terbang menuju kelangit dimana dirimu berasal.


Namun, ketika ada perjaka yang jatuh cinta padamu, kemudian hidup berumah tangga bersamamu, dirimu pun lantas berubah, dan banyak membuat ulah. Sudah tak pernah lagi dirimu terbang untuk membawa bibit-bibit kehidupan dari alammu. Dan sudah tak pernah lagi membawa cahaya kedamaian ditempat darimana duniamu berasal. Bahkan dalam dirimupun sudah tidak ada lagi cahaya kebenaran sebagai seorang bidadari. Yang ada selalu bibit pertengkaran yang kau berikan pada orang yang menurutmu paling kau kasihi sampai kedalaman jantungmu.

Jika dirimu tidak pernah membawa bibit dari alammu, bagaimana mungkin pasanganmu bisa menanam kasih dibumi? Dan jika tidak ada yang ditanam, lantas apa yang harus ditanam untuk dituai kemudian bisa dibawa terbang bersamamu. Dan dia kau suruh mencari bibit sendiri. Bagaimana mungkin? Karena dia terbang tanpa kau bawa terbang. Andai kau bawa terbang, bukan menuju alam tempat bibit kasih itu tertanam. Melainkan untuk terbang pesona ke awang-awang sambil menunjukkan bahwa dirimu telah punya pasangan. Sehingga akhirnya pasanganmu mencoba untuk mencari dan menanam bibit kehidupan itu seadanya, tanpa cahaya kedamaian. Karena bibit itu tidak akan pernah terdapatkan dibumi, selain dari alammu. Kendati begitu dengan ketulusan hatinya pasanganmu tetap menanam walau hanya berupa rumput yang meranggas dan gersang. Itupun hanya berupa rumput kering. Dan dia mencoba memberikan getar-getar sentuhan jiwa saat menanam untuk membahagiakanmu. Tetapi tidak ada satupun buah kedamaian itu yang dapat dituainya, sehingga apa yang akan dipersembahkan padamu? Sementara dirimu selalu meminta buah kedamaian itu tetap tersedia seperti milik mereka yang lain. Padahal dirimupun tahu bahwa yang ditanam hanyalah rumput yang bergoyang. Dan itupun hanyalah sebatang. Tetapi dirimu tak pernah mau tahu. Salahkah jika akhirnya dirinya pergi darimu. 

Salahkah jika akhirnya dia mencari jalan sendiri? Apalagi saat selalu melihatmu terbang sendiri pulang pergi kealammu. Dan kau biarkan dirinya merana penuh luka dan duka. Apakah kau menyangka dia tidak pernah menangis? Apakah kau menyangka dia tidak memiliki renjana untuk mencipta gita seperti mereka yang lain, yang bisa terbang bersama pasangannya untuk menjaring cahaya mentari pagi dan memancing rembulan? Tetapi bagaimana mungkin bisa meraih apa yang kau impikan, jika selalu elegi yang penuh dukana kau taburkan didalam luka-lukanya. Sehingga air matanya selalu mengering untuk membasuh dan membalut luka saat bersamamu. Sedang dirimu senantiasa terbang sendiri entah kemana.
Kadang saat kelaparan, dia mencoba mengais sisa cahaya yang berserakan. Yang mungkin tercecer dan terbuang oleh para pemiliknya. Kadang, disaat bayangan rindu gita datang mengusap jiwanya saat bersamamu dulu, dia terisak sendiri, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara dibelakang sana masih ada 2 jiwa yang masih kecil yang membutuhkan asuhan bunda. Tetapi dirimu tetap tak bergeming dan merasa dirimu adalah bidadari. Padahal dirimu tidak pernah lagi kealammu, dan dirimu telah terusir dari duniamu sendiri. Sehingga bagaimana mungkin dirimu akan bisa bahagia dibumi, sedangkan dialammu sendiri tak pernah mau bersikap sebagai seorang bidadari. Karena dirimu ternyata hanyalah #seorang_peri yang berkehendak menjadi permaisuri.

Kendati dirimu bisa terbang, tetapi selamanya dirimu Tak akan bisa kembali menjadi bidadari. Karena bidadari tidak pernah untuk tebar pesona seperti dirimu. Dan kini dia telah menemukan bidadari lain untuk mengobati luka-luka yang masih tersisa lantaran kau paksakan menanam rumput gersang namun harus bisa membuat mu bahagia dan penuh keindahan. 

Masihkah dirimu tetap mengaku sebagai bidadari? Yang bisa terbang kesana kemari, tapi dirimu Tak akan pernah bisa kembali kealammu kendati sayapmu telah tumbuh mengembang dan terbang ke awang-awang. Sampai suatu saat dirimu akan bosan dan menyesali sebagai bidadari namun selamanya akan tetap hidup sendiri dalam sunyi dan sepi. Sehingga akhirnya dirimu akan tersisih oleh bidadari yang lain. Dan dirimu akan terkutuk oleh ulahmu sendiri dari bidadari menjadi peri untuk mengabdi dibumi. Sampai suatu ketika cahaya pengabdian itu akan mengubahmu sebagai bidadari kembali. Dan itupun, semua tergantung dari dirimu sendiri. Untuk kembali kesurga, ataukah tetap dibumi yang penuh petaka dan duka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar