Untuk apa berkali-kali menyesali apa yang diperbuat jika berkali-kali pula selalu melakukan kesalahan yang sama. Padahal sudah tahu saat dirimu berbuat selalu berakhir dengan kepedihan atau kekecewaan. Dan dirimu berjanji untuk tidak lagi melakukan kebodohan, tetapi mengapa setelah kekecewaan dan penderitaan telah berlalu, lantas mengulang kembali, dan terulang, padahal jawabannya selalu sama. Yakni gagal dan gagal serta selalu jatuh pada jurang yang sama yaitu kekecewaan dan penderitaan.
Disamping itu, ketika dirimu mengulangi kesalahan yang sama, tidak mungkin akibat yang kamu rasakan akan berkurang, atau tiada sama sekali. Apalagi jika kesalahan itu berhubungan dengan rasa, dan bukan kepada angka yang dapat dipikirkan. Yang ada, justru kekecewaan serta penderitaan itu akan semakin bertambah. Karena masalah rasa adalah berbicara masalah alam semesta.
Dan dirimu tentu tahu; bahwa alam semesta tidak berdiam statis, akan tetapi selalu berkembang menjadi semakin luas. Jika didalam masalah terdahulu dirimu tidak mampu menghasilkan hasil akhir yang membahagiakan dirimu, serta selalu mengalami kekecewaan dan penderitaan, tentu dihari-hari yang akan datang akan semakin menuju pada kehancuran rasa yang semakin mendalam.
Semestinya jika dirimu mengalami kegagalan didalam mewujudkan rasa menjadi kenyataan, maka hentikanlah rasamu, dan bukan malah semakin menggebu untuk mengejar rasa yang diluar ragamu agar bisa bersatu dengan dirimu, agar penyesalan itu tidak pula semakin menghancurkan hatimu.
Dan larikanlah pada hal-hal yang lain, yang sekiranya bisa menjadikan dirimu mampu untuk menyatukan rasa itu. Dan bukan menyatukan rasa didalam diri, melainkan menyatukan rasamu keluar raga. Sehingga jika muncul rasa yang sejenis akan mempersatukan nya dengan rasa yang ada dari dalam diri serta akan membuatmu #mendapatkan_kebahagiaan. Dan bukan untuk #memiliki_kebahagiaan.
Dan tahukah bahwa kegagalan demi kegagalan itu lantaran dirimu berusaha untuk memiliki rasa untuk bisa bersatu. Padahal dirimu pasti tahu bahwa rasa yang hendak kau miliki, tidak mungkin untuk bersatu. Karena warna rasa yang ada pada dirimu berbeda dengan kehendak rasa yang berada diluar ragamu.
Tahukah? Bahwa jika dirimu terus menerus menuruti nafsumu pasti akan menimbulkan penyesalan. Dan setiap penyesalan dari perbuatan nafsu selalu menghasilkan kekecewaan, kesusahan dan kemarahan serta kedengkian. Lantas untuk apa dirimu menyesal jika akhirnya penyesalan itu adalah penyesalan yang tidak bermakna. Baik bagimu maupun bagi orang lain. Sehingga dirimu akan semakin terasing dilingkunganmu sendiri.
Jika demikian, untuk apa menyesali kalau tetap saja mengulangi, selain hanya untuk mengulangi penyesalan demi penyesalan yang tidak bermakna sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar