Bulan madu yang sering kita dengar adalah pada sepasang kekasih yang sedang melangsungkan pernikahan. Apa yang dibulan madukan? Adalah momentum pernikahan yang penuh kebahagiaan. Dengan begitu sepasang pengantin tersebut akan memfokuskan diri didalam merasakan kebahagiaan dalam kurun waktu tertentu. Misalnya selama 1 minggu atau 15 hari, dengan menuju suatu tempat untuk menorehkan sebuah kenangan, dengan slogan " selamat tinggal jomblo". Setelah itu akan kembali kedalaman rutinitas kegiatan yang digelutinya. Bahkan hampir semua yang berbulan madu tidak ketinggalan mengabadikannya menjadi sebuah album kenangan.
Sebenarnya apa yang dibulan madukan? Adalah "RASA BAHAGIA" yang sedang menyelimuti dirinya. Sehingga dengan begitu rasa bahagia tersebut akan memiliki nilai tersendiri didalam hidupnya. Senantiasa termemori pada setiap saatnya. Khususnya ketika kehidupan rumah tangganya mendapatkan kegoncangan.
Tetapi, ketika rumah tangganya hancur berantakan, semua akan sirna, terutama bagi mereka yang melaksanakan bulan madu tersebut.
Dan jika seseorang mengalami keadaan rumah tangga yang hancur seperti itu sebagian besar kehidupannya seakan gelap gulita. Rasanya seperti tidak ada gairah lagi untuk bekerja, semua pikiran jadi buntu. Terlebih lagi jika kehancuran rumah tangga itu diakibatkan adanya suatu pengkhianatan dari salah satu pasangan yang menjadi pecundang.
Walaupun sebenarnya, semua kejadian itu hanyalah merupakan variabel belaka didalam putusnya hubungan rumah tangga. Yang jelas adalah karena ketidak cocokan diantara mereka berdua.
Jika diantara kita mengalami hal-hal seperti itu, tanyakanlah pada diri kita masing-masing, akankah mau melanjutkan hubungan pernikahan itu. Dan adakah kebermanfaatan jika hubungan rumah tangga diteruskan. Manakah yang lebih dominan didalam pernikahan, antara nilai tambah ataukah malah berkurang dibandingkan sebelum pernikahan. Khususnya dalam hal mengelola perasaan susah dan bahagia.
Dan untuk mengetahui keputusan yang akan kita ambil itu benar-benar tepat, maka biarkanlah dulu perasaan kita mengendap sampai ketitik nadir, yakni ketika tidak terjadi masalah. Dan bukan lantas mengambil keputusan ketika masih dalam keadaan panas, kecewa, marah, dan lainnya. Bagaimana caranya???
Pergilah ke suatu tempat untuk membuang seluruh kebahagiaan yang pernah kita alami saat berbulan madu. Berikan batasan waktu. Kemudian sampai berapa lama akan bermain-main dengan seluruh perasaan yang ada. Nikmati seluruh perasaan yang muncul dari dalam diri. Berikan kesempatan terhadap seluruh kepedihan, kekecewaan, kebencian dan hal-hal lain yang sedang berkecamuk didalam diri. Apa mau menangis, apa mau ngomong sendiri, apa mau menghujat, dan rasakan semua itu sepuas-puasnya. Yang terpenting jangan sampai merusak raganya sendiri. Dan cukup lewat perasaan saja. Setelah itu, rasakan pula kebahagiaan yang pernah dialami. Manakah yang lebih dominan antara kepedihan, kehancuran, dengan kebahagiaan ketika masih bersama.
Dengan begitu akan tahu perasaan yang dominan ketika kedukaan itu juga "dibulan madukan". Dalam artian memberikan kebebasan untuk berduka dalam kurun waktu tertentu, seperti halnya saat berbulan madu. Setelah semuanya itu selesai, dan selesai pula membenturkan antara kebahagiaan dan kedukaan yang pernah dirasakan, tentu diri kita akan kembali tenang. Sehingga nantinya disaat mengambil keputusan untuk melanjutkan ataukah memutuskan hubungan tidak akan salah dan tidak akan berlarut-larut. Sehingga akan semakin menggerogoti tenaga dan jiwa serta pikiran. Yang otomatis semuanya akan tidak menghasilkan makna apa-apa. Sementara masalahnya akan tetap mengambang.
Intinya : jika kita mengalami hal seperti itu, diperlukan keadaan yang tenang serta membulan madukan kedukaan. Agar bisa seimbang antara bulan madu kebahagiaan dan bulan madu kedukaan ataupun kehancuran. Dengan begitu ketika akan mengambil keputusan tidak akan ada penyesalan. Sehingga nantinya sudah tidak ada lagi sisa-sisa kehancuran yang dialami dengan mengucapkan salam " selamat tinggal duka, dan selamat tinggal kenangan yang tak bermakna"
Semoga bermanfaat. Khususnya bagi yang mengalami dilemma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar