Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 15 April 2015

SURGA DAN NERAKA ITU ADA DIMATAMU




Jika dirimu melihat sesuatu yang menurutmu surga belum tentu setelah kau masuki itu adalah surga. Bisa saja itu adalah neraka yang terselubung. Begitu pula, jika dirimu melihat itu adalah neraka yang penuh dosa, belum tentu ketika kau masuki adalah neraka. Dan bisa juga bahwa dibalik neraka itu adalah merupakan surga bagimu. Adapun dinampakkan neraka, adalah untuk menguji sampai sejauh mana dirimu mau menerima tantangan serta cobaan untuk mendapatkan surga yang penuh hikmah yang memang kau dambakan.


Segala kehancuran, penderitaaan, kebahagiaan, keindahan dan lainnya, sebagian besar adalah dari indra mata. Termasuk rasa ketakutan, kemarahan, iri, dan dengki, semuanya tidak terlepas dari indra mata itu sendiri. Contoh: adakah orang yang buta ditakuti oleh makhluk halus? Adakah orang buta bisa ditipu dengan penampilan? Dan adakah orang buta tahu seseorang cantik atau tampan? 
Hampir semua orang ketika melihat rumah yang mewah, mobil yang mahal, kehidupan yang penuh glamour selalu dari indra mata. Sehingga bagi yang silau akan hal-hal seperti itu lantas menggunakan jalan pintas untuk memiliki apa yang dilihat oleh indra matanya.

Tanpa peduli apakah yang dilakukan itu menyimpang atau tidak. Semua adalah untuk menuruti apa yang dilihat oleh indra mata.
Banyaknya tindakan kejahatan yang beragam, termasuk penipuan, penjambretan, perselisihan, pemerkosaan; bukankah semua itu lantaran indra matanya yang dijadikan pedoman?

Untuk itu, jika seseorang hanya berpedoman kepada indra mata belaka, seringkali kita salah didalam mengadakan penilaian. Akhirnya akan timbul penyesalan setelah apa yang dilihat itu membuatnya hidup penuh penderitaan.

Oleh karena itu bagi siapapun yang gampang sekali beriman kepada mata, janganlah gampang memutuskan apa yang dilihat itu pasti akan membuatnya bahagia. Apa yang dilihat itu pasti benar, dan harus dimiliki. Melainkan, pejamkanlah kedua mata kita, rasakanlah lewat #pelupuk_mata. Dengan tujuan untuk merasakan bahwa apa yang dilihat itu adalah benar. Kemudian rasakan pula bahwa apakah kebenaran itu harus kita miliki atau kita butuhkan. Pikirkan juga manfaat jika memilikinya. Setelah itu tanyakan pada diri kita, bahwa punya kemampuan apa tidak. Jika tidak ada kemampuan, tanyakan lagi adakah kemauan untuk memiliki, dan apa tujuan untuk memiliki. 

Jika dari dalam diri bertujuan untuk mengharapkan pengakuan orang lain bahwa kita bisa memiliki, berarti kita seolah-olah mempersiapkan diri untuk menjadi budak kesenangan orang lain. Kita yang bersusah payah mendapatkan, tapi orang lain yang merasakan kesenangannya. Orang lain yang merasakan surganya, sementara kita merasakan penderitaan atau nerakanya.

Tidak sadarkah kita? Bahwa jika kita ingin mendapatkan sesuatu hanya untuk mendapatkan pengakuan orang lain, bukankah kita telah diperbudak atas kesenangan orang lain? Apalagi jika yang semula kita tidak punya keinginan lantas disuruh memiliki sesuatu yang menjadikan kesenangan orang lain. Dan belum tentu kesenangan orang lain itu menjadi kebutuhan kita. Dan kita hanya sekedar mendapatkan pengakuan berupa pujian belaka.

Dan jika hal itu terus berkelanjutan, semakin lama jati diri manusia akan pindah ke indra mata yang semata-mata untuk menuruti jati diri orang lain, dan kita adalah sebagai robotnya.

Intinya : jika kita melihat pakai indra mata semata, hanya untuk melihat kulitnya saja. Dan untuk tahu isinya adalah dengan memejamkan mata beberapa saat, agar mata ketiga manusia yang dapat memutuskan apakah itu surga ataukah neraka bagi diri kita. 

Dan bisa saja memang surga bagi orang lain, namun bisa terjadi itu adalah neraka bagi kita sendiri. Dan cukup sesaat memandang pakai indra mata, dan masukkan dalam pikiran saat memejamkan mata, khususnya didalam mengantisipasi jika ada hal-hal yang akan membahayakan jika apa yang nampak itu kita jadikan rujukan atau ingin kita jadikan pedoman didalam memenuhi surga kehidupan dimasa mendatang. Karena sesungguhnya surga dan neraka itu adanya didalam rasa sebagai perwujudan cara pengambilan keputusan oleh indra mata, ataukah mata ketiga. Jika tidak, itu sama halnya memiliki indra mata tetapi tak bermakna.


Semoga bermanfaat, khususnya bagi orang-orang yang tertipu indra mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar