Akhir-akhir ini semakin banyak pertikaian antar pemeluk agama yang satu dengan yang lain. Bahkan penganut dari agama sejenis, tidak jarang yang bertikai serta saling bermusuhan melebihi binatang.
Mengapa hal itu terjadi??? Karena semakin lama semakin banyak pendirian sekolah-sekolah yang mengajarkan tentang agama. Sekolah yang mengajarkan tentang tuhan.
Padahal berbicara tentang agama dan tuhan, sekolahnya hanya ada dalam dirinya sendiri. Bukan yang dilakukan oleh orang lain. Sekolah hanya bisa dipakai untuk manusia raga. Sekolah itu hanya untuk melatih akal dan pikiran kita agar bisa lebih menjadi manusia untuk meniru sifat tuhan agar bermanfaat bagi dirinya sendiri, sekaligus bagi orang lain. Dan yang disekolahkan hanya sebatas untuk mengisi akal dan pikirannya. Dan hanya sebatas otak kirinya.
Namun didalam kenyataannya, ada juga sekolah yang mengkhususkan untuk melatih otak kanan, sekolah untuk melatih hatinya. Quo Vadis????
Menurut saya menyekolahkan hati manusia adalah salah besar. Sebab hati itu sudah memiliki segalanya, sudah mengetahui, serta sudah tahu terhadap apa yang harus dilakukan. Dan untuk memfungsikan hati manusia, hanya dirinya sendiri yang bisa melatihnya dan bukan lewat orang lain. Orang lain hanya sekedar memberikan bahan renungan untuk menghidupkan gelombang getaran antara nafsunya dan hatinya.
Dengan menyekolahkan hati, rasa, perasaan serta agama, hal itu sama halnya menyekolahkan tuhan itu sendiri.
Dengan menyekolahkan tuhan, pasti dia akan menjadi tuhan pada orang lain. Dan semakin banyak kelulusannya, akan semakin banyak juga tuhan-tuhan baru untuk menguasai orang lain. Sehingga akan lebih banyak tuhannya dibandingkan manusia. Dari sinilah sesungguhnya akar permasalahan yang ada. Dimana setelah lulus menjadi tuhan, pasti akan bersinggungungan antara tuhan yang satu dengan tuhan yang lain. Mengapa??? Hal itu karena akar budaya para pengajar tentang ketuhanan pasti berbeda, sesuai dengan buku tentang ketuhanan yang dijadikan parameternya.
Jadi intinya : jika kita ingin senantiasa hidup bermasyarakat yang selalu penuh ketentraman, kedamaian serta penuh kebermanfaatan satu sama lain kita harus mengubah metodanya yang harus disepakati bersama. Yakni jangan mencoba mengajarkan agama, mengajarkan tentang tuhan apalagi mengajarkan seolah dirinya itu adalah tuhan itu sendiri. Sebab masalah tuhan adalah masalah rasa, masalah hati.
Dan biarkan satu sama lain mencari kedalam dirinya sendiri tentang rasa sejati, tentang suara hatinya sendiri. Dan satu sama lain nantinya cukup menunjukkan sikap dan prilaku yang dihasilkan bahwa dirinya telah bertemu dengan tuhan apa tidak. Cukup dengan menjalankan sifat tuhan yang diyakini untuk dijadikan perbuatan sehari-harinya. Dan itulah metoda yang benar dan harus dibudidayakan menjadi suatu budaya yang harmonis antara penganut agama yang satu dengan penganut agama yang lain.
#Edisi_khusus_02
Tidak ada komentar:
Posting Komentar