Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 10 November 2015

DIBALIK UCAPAN SALAM

Saat kita berjumpa dengan orang lain satu sama lain saling mengucapkan salam atau bersalaman. Dan kita hanya sebatas mengikuti apa yang selalu dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Dan masing-masing budaya mempunyai ciri khas sendiri didalam menyampaikan salam dimaksud. Antara lain ucapan : selamat siang; good morning; assalamualaikum wr.wb. ; Rahayu.; Om swasti astu; Hong ulun basuki langgeng; namo budaya dan lainnya.


Ungkapan diatas sesungguhnya memiliki makna yang dalam. Walaupun arti ungkapan salam itu berbeda, tetapi essensinya sama, yakni sama-sama menggunakan bahasa ibu, atau bahasa kalbu. 

Apa essensinya?? Ketika kita bertemu dan akan berinteraksi maka ungkapan salam itu dimaksudkan untuk menyamakan frekuensi diantara kedua pihak supaya satu sama lain menggunakan bahasa ibu atau bahasa kalbu. Sebab jika semua orang sudah menggunakan bahasa kalbu, diharapkan tidak akan timbul persilangan pendapat, tidak ada perbedaan rasa, dan semua kembali pada titik NOL yakni menggunakan hati.

Dengan menggunakan hati, ketika satu sama lain mengungkapkan apa yang menjadi kehendak, akan ada satu visi misi yang sama untuk saling berinteraksi. Saling dibutuhkan agar bisa saling melengkapi. Tetapi didalam faktanya, ungkapan salam sering hanya sebagai pemanis bibir belaka. Dan banyak terjadi ketika salam diucapkan bisa bertengkar, bertikai, bahkan setelah itu saling tipu menipu diantara mereka. Mengapa???

Karena ketika salam diucapkan, tidak menggunakan hati, melainkan hanya sekedar mengucapkan tanpa getaran dari hati yang dalam. Semua terucap seperti halnya suara rekaman belaka. 

Padahal jika tahu, ketika diawal pertemuan mengucapkan salam dengan sepenuh hati, akibatnya akan dahsyat. Sebab salam yang dilontarkan dengan gelombang getaran, akan bisa menggelontor semua perbedaan warna perasaan serta warna kehendak. Semua akan kembali bernilai Nol.  

Dengan begitu apa yang menjadi kehendak dari pemberi salam akan membuat kedamaian bagi yang menerima salam. Jika sudah ada unsur kedamaian diantara keduanya, niscaya akan ada kesempatan diantara keduanya untuk saling berinteraksi.

Oleh karena itu siapapun yang hendak menyampaikan salam, pergunakan bahasa ibu atau bahasa kalbu bagi orang yang menerima salam. Dan bukan sebaliknya bahwa penerima salam harus mengikuti bahasa pemberi salam. Jika diawal sudah ada pemaksaan kehendak seperti itu, maka makna dari salam itu sendiri akan semakin menjauhkan rasa kebersamaan. Dengan begitu kedua hati juga menjauh. Lantas bagaimana akan bisa menimbulkan empati?? Sehingga kehendak awal dari orang yang memberi salam tidak akan mendapatkan keberhasilan. 

Dan perlu pula diketahui bahwa ucapan salam itu tidak bisa dipaksakan. Melainkan semua biarkan mengalir sesuai dengan kehendak dari hatinya sendiri, agar bahasa ibu atau bahasa kalbu juga akan mengalir dengan sendirinya. Serta akan mengandung gelombang getaran rasa yang besar. Sesuai dengan seberapa besar pula kehendak salam dari dalam dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar