Pernahkah kita melihat orang gila yang dijalan-jalan sampai beberapa lama?? Dan pernahkah kita merenungkan kenapa orang gila itu tidak sakit, tidak kelaparan? Mengapa?
Betapapun gilanya seseorang, tentu dia masih membutuhkan makanan dan minuman. Berarti dia masih tetap makan dan minum, jika tidak tentu akan mati. Siapakah yang menyuruh orang gila itu makan? Yang menyuruh makan dan minum adalah hatinya melewati #naluri yang pernah tersimpan sebelum dia gila.
Sedangkan #nuraninya tidak bisa tersambung pada akal dan pikirannya sehingga dia bisa gila. Karena akal dan pikirannya tidak berfungsi maka dia hanya bisa menerima serta memasukkan segala makanan dan minuman ketika dirinya membutuhkan. Serta hanya sebatas untuk memenuhi kepentingan atau kebutuhan raganya.
Dan adanya keinginan itulah yang membuat akal dan pikiran seseorang berfungsi. Akan tetapi karena keinginan itu pulalah yang sering membuat seseorang putus hubungan dengan hati tanpa nurani. Yang muncul hanya sebatas naluri.
Jika perkembangan akal dan pikiran tidak seimbang lambat laun naluri akan semakin meningkat tetapi semakin menjauhkan jarak keseimbangan terhadap hatinya. Sehingga sedikit demi sedikit nurani semakin tipis dan kemudian sirna.
Dan jika tanpa nurani, lambat laun akan menyebabkan syaraf yang menghubungkan akal dan pikiran dengan hati putus. Yang tersisa hanyalah naluri belaka. Begitu pula akal dan pikiran tidak lagi bisa berfungsi seperti sedia kala.
Dan jika seseorang itu gila maka yang dilakukan adalah dia hanya mau menerima segala hal yang bersifat alami untuk meneruskan kehidupannya, sedangkan yang berbentuk uang sebagai alat penukar ; emas permata dan lain-lain yang bersifat tidak langsung akan ditolaknya. Dan yang diterima hanyalah segala hal yang masih bisa dimasukkan kedalam mulutnya untuk dimakan dan diminum tanpa perduli apakah makanan dan minuman itu bahaya atau tidak. Karena didalam dirinya hanya tersisa sifat binatang yang berjalan ataupun melata. Dan nurani itulah sejatinya yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya.
Oleh karena itu selagi kita belum gila, pergunakan hati untuk menyeimbangkan antara akal dan pikiran untuk mengendalikan antara kebutuhan dan keinginan. Antara kemampuan dan kemauan, agar selalu terjadi kesinambungan antara hati nurani dan naluri didalam dirimu. Sehingga berapa kalipun terjadi perubahan jaman, maka perubahan rasa yang ada didalam diri juga akan dapat terkendali serta selalu dengan cepat dapat menyesuaikan sebagaimana mestinya. Dan kesadaran diri juga akan mengikuti sesuai perkembangan jaman yang berganti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar