Essensi # perdamaian itu adalah urusannya rasa. Jika dirimu merasakan berbuat suatu kesalahan pada orang lain baik sengaja atau tidak, gunakan rasa yang ada dihatimu untuk meminta maaf. Serta lepaskan sekat-sekat predikat apapun yang kamu sandang. Sebab masalah rasa tidak mengenal istilah tinggi dan rendah kedudukan ataupun predikat seseorang. Semua rasa pasti sama; baik yang dirasakan oleh seorang pengemis, orang yang hina dina, maupun orang-orang yang derajatnya sejajar dengan raja. Seperti halnya ketika merasakan pahit dan manis, getir ataupun asin, tidak akan ada perbedaan didalam rasa.
Perdamaian bukan sebatas kata yang terucap, ataupun lewat tulisan pada selembar kertas. Karena hal itu merupakan keterpaksaan. Dan bisa saja hal itu kamu lakukan dari rasa kekhawatiran ataupun ketakutan sehingga perdamaian itu kamu lakukan.
Perdamaian, bukan merupakan suatu hukum yang tersurat, melainkan merupakan sifat dari sebuah hati yang memancarkan gelombang cahaya rasa. Kemudian pancaran cahayanya itu akan menggetarkan pula pada hati orang-orang yang kamu ajak untuk berdamai.
Dengan begitu, cahaya kedamaian akan memancarkan arus gelombang getaran yang timbal balik untuk memupus segala permasalahan yang pernah terjadi diantara masing-masing pihak.
Jika perdamaian hanya sebatas kata tanpa rasa, maka justru akan memunculkan turbulensi rasa yang bukan merupakan rasa yang sesungguhnya. Yakni : perasaan dendam, perasaan sakit hati, atau perasaan lain yang semua itu terpancar dari nafsumu. Dan bukan dari hatimu. Sehingga cepat atau lambat perselisihan itu akan kembali datang. Bahkan bisa berakibat lebih fatal dibandingkan dengan perselisihan awal sebelum perdamaian itu terjadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar