Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 24 September 2018

PERTEMPURAN PENGHABISAN

Membaca slogan yang disampaikan oleh Bapak Prabowo Subianto bahwa pemilihan presiden tahun 2019 merupakan "Pertempuran Penghabisan" jadi teringat akan novel dengan judul yang sama karangan Ernest Hemingway.


Dan menurut saya slogan yang penuh semangat tersebut amat tepat sekali.  Mengapa? 

Karena ajang Pemilihan Presiden pada tahun 2019 ini amat berbeda sekali jika dibandingkan dengan pemilihan presiden tahun 2014 yang lalu dan dimenangkan oleh Bapak Ir. H.Joko Widodo.
Adapun perbedaannya terletak pada 2 hal sebagai berikut :

 1. Tahun 2019 Sistem pemilihan presiden  digabung menjadi satu dengan pemilihan anggota legislatif;

2. Adanya momentum yang dimiliki oleh Presiden Jokowi sebagai Petahana. Sedangkan pada tahun 2014 tidak ada calon Petahana. Semua kedudukan sama.

Dengan adanya 2 perbedaan itu, maka semua peserta Partai Politik selain Gerindra akan lebih mementingkan pada pemilihan kursi di parlemen. Apalagi batasan minimal kursi di parlemen bagi partai politik dinaikkan menjadi 4 persen. Sehingga baik pihak pendukung petahana maupun pendukung oposisi akan lebih cenderung  berpihak untuk memilih petahana sebagai presiden.

Walaupun mungkin secara tersurat merupakan pendukung Bapak Prabowo, akan tetapi secara tersirat  akan memilih 2 kaki yakni memilih petahana. Mengapa demikian?

Karena bukan terletak pada berhasil atau tidaknya kepemimpinan bapak Joko widodo. Melainkan jika memilih bapak Prabowo dan Sandi sama halnya dengan bunuh diri terhadap partai masing-masing pemilihnya. Jika itu terjadi, maka pada pilpres tahun 2024 secara otomatis Bapak Prabowo dan Sandi akan menjadi petahana, yang tentunya akan lebih berat lagi untuk dilawan.

Tetapi jika seluruh partai politik selain Gerindra memilih Bapak Jokowi, yang memang merupakan tahapan kedua atau terakhir, tentunya pada tahun 2024 kedudukan seluruh partai politik akan memiliki peluang yang sama untuk mencalonkan anggotanya menjadi capres dan cawapres.

Oleh karena itu bagi partai Gerindra jangan terlalu percaya 100 persen pada partai pendukungnya, serta harus berjuang semaksimal mungkin agar dapat memenangkan  pilpres tersebut.

Dan rupanya bapak Prabowo sudah menyadari akan keadaan tersebut sehingga menggunakan jargon "Pertempuran Penghabisan". Sedangkan bagi saya pribadi lebih suka menggunakan istilah menggunakan hati nurani karena sesungguhnya kita adalah sesaudara. Tidak ada istilah kalah dan menang, yang ada untuk sama-sama berjuang serta mengabdi  pada Nusa dan bangsa Indonesia. 

Salam penuh kedamaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar