Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 30 Maret 2011

HARUSKAH BERSAHADAT DIDALAM RAHMAN


Serasa,..... baru kemarin ketika aku berikrar padamu ya Tuhan.
Ketika itu, aku masih menggunakan bahasa Roh,
Dan Engkau berfirman, agar aku bersahadat  didalam Rahim.
“Tidak ada Tuhan selain diriMu sendiri, dan Muhammad adalah Rasulmu.”
Aku melakukan dengan penuh kesungguhan, dan kemantaban.
Bahwa Engkau adalah yang Tunggal, tiada yang lain.
Dan itupun, hanya kulakukan sekali,  tidak lebih. Namun Aku merasakan kehadiranMu.
Serasa,... baru kemarin, aku benar-benar merasakan keberadaanMu,
Juga Kasihmu, yang merasuk kedalam seluruh degub jantung, dan raga labyrinku,
Kendati, masih berada dalam dunia RahimMu.
Seolah, aku merasa benar-benar didalam surga, tanpa setitikpun cela,
Tanpa setitikpun jelaga dan dosa.
Yang ada, hanyalah kasihMu belaka. Tiada satupun kekurangan yang kutemui.
Bahkan, akupun bisa bernafas,  dan tersenyum, sambil makan dan minum.
Kendati duniaku, masih berada didalam air ketuban ibuku. Tetapi seolah seluas angkasa.
Itulah langit dan bumiku yang masih tertangkup.
Disitulah,  serasa ada damai, dan dunia luarpun aku bisa merasakan,
Walau sebatas dibalik dinding, yang orang luar tidak tahu tentang diriMu.
Sejak itu, Engkau semakin mengasihi, dengan menyempurnakan tubuhku lahir bathin.
Serasa,.....baru kemarin Engkau melemparku kedunia maya.
Saat itu,  Kau lahirkan aku dari RahimMu. Aku menangis, ketika aku kehilangan diriMu.
Sampai kemudian, aku kembali tenang saat mendengar suara adzan ditelingaku.
Dan,.. sepertinya Kau masih berbisik, dengan bahasa firmanMu,
Bahwa, Engkau tak akan pergi, dan Kau hanya menyuruhku untuk bermain-main,
Untuk melihat dunia ciptaanMu, sebagai rasa Kasihmu. Serta memberiku keleluasaan.
Agar ikut membantuMu, sebagai kholifah dunia, dan alam semesta.
Dengan membawa tongkat saktimu, sahadat yang dua, dengan derajat sebagai manusia..
Kemudian, aku tersenyum dan kembali bahagia, ternyata Engkau tidak meninggalkanku. Lantas, seiring bertambahnya waktu dan umur nafsuku,
Sepertinya, Engkau telah meninggalkan diriku. Mungkin juga, diri-diri mereka yang lain.
Sudah tak lagi bisa mendengar suara firmanmu, juga tak lagi merasakan kehadiranMu.

Serasa,... baru kemarin aku merasakan surgamu, dunia ini terasa neraka bagiku, ya Tuhan. Dan, sudah tak lagi bisa bernafas dadalam air seperti dulu,
Kendatipun.......telah tak terbilang sahadat yang terloncat, tak terukur sholat yang terucap,
Serta doa-2, bisikan hati, maupun lisan, memanggil namaMU, tiada berjawab, dan bisu. Adakah yang salah didalam diriku Ya Tuhan? Apanya yang pic nic?
Apanya yang bermain-main, dan bersenda gurau?
Aku, dan mereka, tetap sengsara kendati mungkin ada harta, tetapi bukan untuk jiwa.
serta makhluk-2Mu yang lain, tak ada yang mau menurut, dan mengerti .
Bahwa,  aku adalah wakilMU, walau ikrar dan doa-2 ku padaMu kusebut pada mereka. Jangankan untuk bermain, untuk mencari sesuap nasipun begitu terasa sulit,
Bahkan pula, masih berebut dengan yang lain, bila perlu harus bertikai, dan membunuh.

Serasa,......baru kemarin, Kau berbisik, bahwa didunia hanya sementara.
Tetapi malah sengsara dan menderita, bukan gitana justru elegy yang penuh dukana,
tiada Kasihmu lagi.

Serasa, .....baru kemarin, aku bersahadat dalam RahimMu Ya Tuhan.
Haruskah saat ini, aku  bersahadat dalam RahmanMu?
Sejujurnya, itu telah aku lakukan untuk mengisi dalam kehidupanku dan keluargaku.
Dan, aku justru kembali merasakan kehadiranMu, dan keagunganMu setiap detik nafasku.
Serta, harus pulakah aku beritahu, agar mereka juga bersahadat didalam RahmanMu.
Ataukah, hanya untuk diriku dan keluargaku belaka?
Sesungguhnya Engkaupun tahu, bila sahadat ini telah kusampaikan pada mereka.
Agar, mereka juga menjalani, bahwa sahadat bukanlah kata, atau sumpah belaka.
Tetapi, mengandung kesakralan makna, menuju cita-2 kembali kepadaMu.
Serasa,  baru kemarin aku datang lewat RahimMu,
Dan kini, aku selalu berbuat lewat sifat RahmanMu, sambil menunggu, kapan aku pulang........



Semoga bermanfaat serta menjadikan manfaat didalam renungan, khususnya didalam pencarian jati diri.Probolinggo,kota angin dan mangga diderasnya hujan.

1 komentar:

  1. Sungguh indah sekali Romo, membacanya tanpa terasa seluruh badan tergetar, dan air mata keharuan pun menetes. Betapa Dia sangat mencintai hamba Nya

    BalasHapus