Lanjutan :........
Berbicara tentang Pasrah dan ikhlas ini, banyak orang yang hanya bicara, yang walaupun secara tekstual mereka tahu artinya, tetapi mungkin masih jarang orang yang mengerti makna apa yang terkandung didalam Rela dan Pasrah. Kita skering mendapatkan nasehat saat mendapatkan kesusahan, agar kita selalu “Rela dan Pasrah”. Namun, belum tentu mereka yang memberi nasehat, juga mengerti makna dari kata-kata itu
.
.
RELA :
Adanya sikap pada diri seseorang disaat memberikan sesuatu pada orang lain, dengan suka rela. Bukan karena pamrih yang tersembunyi pada orang tersebut, atau orang lain yang melihat. Melainkan, karena memang ingin memberi, karena adanya kasihan. Disamping itu, rasa “Rela” memunculkan perasaan, dan perlakuan, seolah orang yang ditolong, adalah orang tuanya sendiri, adik dan kakaknya, atau orang-orang yang dicintai, baik orang itu dikenal atau tidak.
Orang yang benar-benar Rela, akan menimbulkan getaran. Wujud getaran, mungkin akan menyesakkan dada. Bahkan, bisa muncul rasa haru terhadap keduanya. Baik orang yang menolong, maupun orang yang ditolong, Serta, bagi orang lain yang secara kebetulan sedang melihatnya. Semakin rela disaat memberi bantuan, maka akan semakin besar pula getaran yang dirasakan, bagi siapapun yang melihatnya. Getaran ini disebut getaran elektro magnetik. Jika kedua getaran ini sudah bertemu, antara yang menolong (getaran positif), dan yang ditolong (getaran negatif), maka akan menimbulkan getaran ultrasonic. Dan getaran ini, akan bisa menembus getaran dari alam kosmik alam semesta. Fungsinya adalah, untuk membantu didalam meraih segala apa yang kita butuhkan. Dalam istilah komputer, adalah untuk membrowsing alam semesta. Selanjutnya untuk di down load apa yang menjadi keinginan.
Kenapa kita harus Rela saat memberi? Hal ini, semata-mata adalah untuk memasukkan karakter Tuhan yang maha memberi, yang juga tanpa pamrih pada kita sebagai manusia. Dengan mengikuti karakter Tuhan ini, Jiwa manusia akan merasakan adanya getaran dari sifat Tuhan yang maha memberi.
Dan getaran inilah sebenarnya yang dibutuhkan oleh jiwa manusia, agar tetap dalam keadaan suci. Hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh otak kanan, bukan otak kiri. Sedang yang merasakan adalah “Jantung“. Jadi, untuk mengetahui kalau kita sudah “Rela”, yakni jika muncul perasaan seperti halnya kalau kita memberikan sesuatu pada anak, istri, saudara, dan sebagainya. Untuk itu, kenapa setiap saat, sering kali kita mendapat nasehat agar selalu pasrah, rela, dan sabar.
PASRAH :
Adanya suatu sikap, ketika menghadapi suatu masalah, yang tidak bisa diselesaikan oleh akal dan pikiran. Padahal, masalah itu harus diselesaikan. Maka, otak kiri harus tidak memikirkan masalah itu lagi. Sebab apa yang jadi pikiran, memang bukan tugas otak kiri. Melainkan tugas otak kanan, yang akan bekerja untuk mencarikan jalan keluar. Sehingga, apa yang menjadi beban pikiran, akan segera bisa diatasi dengan baik. sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.
Jadi, pasrah berarti sikap penyerahan diri secara total, terhadap masalah yang dihadapi kepada otak kanan. Sambil menunggu kerja otak kanan, kita hanya menikmati serta merasakan, adanya akibat yang timbul dari permasalahan itu. Sebab, semua itu terjadi karena disaat mengawali suatu keputusan, tanpa memperhitungkan dengan benar, dan teliti, sehingga masalah itu terjadi. Dan supaya kita bisa pasrah, membutuhkan kesabaran, dan kesadaran, bahwa semua itu memang merupakan variabel untuk dilalui. Contohnya : orang yang hamil, yang semula dia cantik, tubuhnya amat molek sekali, namun ketika hamil, perutnya jadi buncit, sering sakit, dan harus tersiksa setiap harinya. Apakah mereka susah? Padahal, sejak hamil sampai waktu melahirkan bayinya, tentu banyak sekali rintangan yang dihadapi. Terutama saat kelahiran bayi, bisa merenggut nyawa ibu yang mengandungnya. Tetapi, adakah para perempuan yang enggan untuk hamil? Saya kira tidak ada. Semua perempuan punya naluri untuk hamil dan punya anak. Kenapa mereka tidak susah, dan tidak takut terhadap efek samping dari kehamilannya itu? Semua kesusahan, dan ketakutan akan hilang. Karena lebih besar nilai kerinduan, dan harapan kebahagiaan, untuk memiliki anak. Dibandingkan kesusahan yang akan timbul. Inilah yang membuat mereka bisa pasrah, serta penuh kesabaran, dan keprihatinan, didalam menanggung beban sampai 9 bulan 10 hari, disaat si bayi terlahir. Intinya, karena punya tujuan yang jelas, dan fokus, tentang apa yang dibutuhkan itu, melebihi dari resiko yang akan ditanggungnya.Jelasnya, “Rela dan Pasrah”, merupakan pedoman dasar yang dibutuhkan Jiwa manusia, untuk mengenal, dan mengetahui Perjalanan Tuhan. Dengan demikian, manusia sebagai khalifah dimuka bumi, akan mengetahui Peta perjalanan Tuhan. Ini bertujuan, agar manusia bisa bersifat sebagai Subyek, apabila kita menanam keluar tubuh (berbuat sesuatu usaha, bekerja). Serta, sebagai Obyek bila ingin menanam kedalam tubuh(bercita-cita, harapan, keinginan, dan lain-lain). Manusia, harus senantiasa berada dititik netral, sebelum melakukan sesuatu. Sehingga, selalu dalam keadaan siaga didalam memilih ; untuk menanam keluar, ataukah menanam kedalam.
Selanjutnya, untuk mengetahui perjalanan Tuhan, terlebih dahulu harus mengerti, Tuhan itu siapa, dan kita juga siapa? Untuk bisa menjawabnya, kita harus mengetahui terhadap; KARAKTER, HABITAT(LOKUS), KEKUASAAN, DAN KEHENDAK Tuhan. Sebab, setiap ada nama, tentu ada benda atau wujudnya, juga ada tempat kedudukan. Serta, visi, dan misi, dari awal sampai akhir perjalanan kehidupan manusia di dunia. Yang berarti, Perjalanan Tuhan terhadap diri dan pribadi kita sebagai manusia (jiwa dan raga), juga akan terhenti, saat kita meninggal dunia.
Selanjutnya, untuk mengetahui perjalanan Tuhan, terlebih dahulu harus mengerti, Tuhan itu siapa, dan kita juga siapa? Untuk bisa menjawabnya, kita harus mengetahui terhadap; KARAKTER, HABITAT(LOKUS), KEKUASAAN, DAN KEHENDAK Tuhan. Sebab, setiap ada nama, tentu ada benda atau wujudnya, juga ada tempat kedudukan. Serta, visi, dan misi, dari awal sampai akhir perjalanan kehidupan manusia di dunia. Yang berarti, Perjalanan Tuhan terhadap diri dan pribadi kita sebagai manusia (jiwa dan raga), juga akan terhenti, saat kita meninggal dunia.
KARAKTER (SIFAT) TUHAN
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Tuhan adalah yang menciptakan seluruh alam semesta. Dan manusia, merupakan kholifah dimuka bumi, melebihi dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan begitu, berarti semua manusia dimuka bumi ini, adalah semata-mata menjalankan tugas linier, dari karakter Tuhan itu sendiri. Kenapa bisa demikian? Adalah suatu hal yang wajar, bahwa manusia ditugaskan sebagai kholifah. Karena, manusia wakil Tuhan, didalam melaksanakan eksistensi Perjalanan Tuhan itu sendiri. Khususnya didalam mengaplikasi kehendak Nya, menjadi perbuatan nyata atau karya. Kenapa manusia, dan bukan yang lain? Karena manusia, adalah satu-satunya makhluk yang memiliki Roh dan jiwa. Roh, membawa karakter Tuhan yang penuh kasih. Serta, yang mengajak manusia pada kebaikan, dan keluhuran. Sedang jiwa, bisa berubah, kadang suci, kadang baik, dan kadang jelek, karena memang jiwa manusia bersifat labil. Sedang malaikat, hanya memiliki Roh, tanpa Jiwa, makanya selalu baik, dan suci. Sedang setan, dan iblis, hanya memiliki Jiwa, tanpa Roh, makanya selalu jahat.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Tuhan adalah yang menciptakan seluruh alam semesta. Dan manusia, merupakan kholifah dimuka bumi, melebihi dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan begitu, berarti semua manusia dimuka bumi ini, adalah semata-mata menjalankan tugas linier, dari karakter Tuhan itu sendiri. Kenapa bisa demikian? Adalah suatu hal yang wajar, bahwa manusia ditugaskan sebagai kholifah. Karena, manusia wakil Tuhan, didalam melaksanakan eksistensi Perjalanan Tuhan itu sendiri. Khususnya didalam mengaplikasi kehendak Nya, menjadi perbuatan nyata atau karya. Kenapa manusia, dan bukan yang lain? Karena manusia, adalah satu-satunya makhluk yang memiliki Roh dan jiwa. Roh, membawa karakter Tuhan yang penuh kasih. Serta, yang mengajak manusia pada kebaikan, dan keluhuran. Sedang jiwa, bisa berubah, kadang suci, kadang baik, dan kadang jelek, karena memang jiwa manusia bersifat labil. Sedang malaikat, hanya memiliki Roh, tanpa Jiwa, makanya selalu baik, dan suci. Sedang setan, dan iblis, hanya memiliki Jiwa, tanpa Roh, makanya selalu jahat.
Akan tetapi amat ironis sekali. Kita sebagai manusia yang diangkat sebagai wakil Tuhan, namun sama sekali tidak mengenal makhluk-makhluk lain, yang diibaratkan tunduk pada manusia. Bahkan yang lebih tragis, terhadap kehidupannya sendiri, kadang tidak tahu sama sekali. Kenapa hal ini bisa terjadi? Dan sampai kapan kita akan mengenalnya, serta apa mungkin kita bisa mengenalnya, bila tidak mau mencari. Serta, bagaimana pula kita bisa mencari bila tidak tahu caranya? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang senantiasa ada di pikiran kita. Kalau kita mau memperhatikan, Sesungguhnya sifat Tuhan ada pada seluruh makhluk, khususnya manusia. Segala sifat manusia, tidak lebih merupakan bayang-bayang dari sifat Tuhan itu sendiri. Terbukti, segala kejadian dialam semesta, Tuhan mengetahuinya. Dan, karena atas ijin Tuhan, semua peristiwa itu terjadi. Baik dan buruk, bencana, kehancuran, kehidupan dan kematian, adalah kehendak Tuhan, yang hal ini dikatakan sebagai takdir.
HABITAT(LOKUS)
Berbicara tentang “Habitat” atau lokus Tuhan, memang amat sulit sekali untuk bisanya diterima secara akal. Disamping akal manusia memang terbatas, juga sepertinya sulit menggambarkan dengan jelas. Satu-satunya cara, hanya dengan sering melatih, untuk melihat tanda-tanda tentang keberadaan, dan kebesaran Tuhan lewat kejadian-kejadian disekitar kita. Termasuk segala hal yang diciptakan Tuhan. “Tuhan mengetahui apa yang kita pikirkan, kita katakan, dan kita perbuat, bahkan seluruh perbuatan kita, senantiasa ditulis oleh para malaikatnya, ibarat sampai daun jatuh, tidak ada yang terlewati, tanpa sepengetahuan Tuhan. Hal ini membuktikan, bahwa Tuhan berada dimana-mana, tapi tidak kemana-mana, “Tuhan itu lebih dekat dari urat leher kita“. Dengan demikian jelaslah bagi kita, bahwa Habitat (lokus) Tuhan itu, adalah meliputi segalanya. Berarti, alam semesta beserta isinya, berada didalam DIRI TUHAN, dan bukan sebaliknya. Tuhan, tidak berada didalam diri manusia, atau dilangit. Tuhan yang sesungguhnya, dan benar-benar Tuhan, tidak bisa dikatakan SATU, karena Tuhan bukanlah angka, atau bilangan, yang benar adalah, Tuhan itu TUNGGAL(singel) . Dalam bahasa jawa dikatakan“ Ora ana tunggale”. Sedang habitat (lokus) Tuhan, ada di lambang kosong atau NOL. Dan Tuhan, berada dalam keadaan tanpa dimensi, tanpa ruang, dan tanpa ada dimensi waktu. Jadi, telah jelaslah bagi kita, bahwa dengan mengetahui habitat (lokus) Tuhan tersebut, akan semakin memudahkan bagi kita untuk mulai merenungkan, apa yang harus kita lakukan, disaat kita menghendaki keberhasilan dalam sesuatu cita-cita. Maka, terlebih dahulu haruslah merasakan, bahwa kita adalah merupakan bagian dari Cahaya Tuhan itu sendiri.
Bersambung...........
Dalam diri manusia ada roh dan jiwa dimana keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang (positif dan negatif), itu berarti bahwa manusia juga harus selalu memikirkan keseimbangan. Dengan adanya dua energi positif dan negatif dalam diri manusia itulah, maka manusia memiliki energi yang besar, tetapi jika energi yang besar itu jika tidak seimbang akan bersifat merusak / menghancurkan. Bukankah begitu penjelasannya Om? Seperti kehidupan dunia ini ada penjahat maka ada polisi, ada pasien maka ada doker, jika tidak ada semua itu maka dunia atau kehidupan ini tidak bisa dinamis.
BalasHapusTapi sempat pula terpikirkan kenapa harus ada yang negatif (atau hal2 yang buruk dan jahat)? Jawabannya ada di dalam artikel "Tata Surya butuh manusia", benarkah Om? Terima kasih atas penjelasan dan tulisan2nya, sehingga makin banyak perenungan saya untuk bisa dekat dan mengenal diri saya sendiri. Salam
Sampai kapan kita berada d bumi? apakah selama lamanya? kita lahir, menjalani hidup mati, jika baik masuk surga, jika buruk masuk neraka? sampai kapan itu semua? tidak akan ada habisnya jika memikirkan itu...
BalasHapus@Untuk Sari, baca QS. surat Hud ayat 106 s/d 108. disitu ayat-2 yang tersurat amat jelas. Dan sampai kapan kita berada didunia, yah sampai langit dan bumi hancur lebur berantakan. Tetapi yang menjadi pertanyaan apakah kita masuk neraka atau surga setelah mati? jawabnya adalah, saat kita mati masih berada di alam barzah(dinding batas). Jadi belum ada hisab. Cuma disitu dipertontonkan kehidupan didunia saat kita hidup. Itu adalah rekamannya. Sama halnya disaat kita selesai ujian, tapi belum ada pengumuman, kita sudah mengetahui kita akan lulus atau tidak. atau sama halnya saat kita akan dihukum mati oleh pengadilan, belum mati kita sudah merasakan pahitnya dsb. Kapan akan dihisab? yakni saat bumi dan langit sudah hancur spt penjelasan surat Hud ayat 106-108. @ Untuk Ririn. Kenapa ada positif negatif? kalau tidak ada salah satunya, apa mungkin ada listrik? semua yang ada dialam semesta ini kan memang terdiri dari energi positif negatif? kalau tidak ada? masak didunia namanya? Semua asalnya dari NOL bukan? dari Nol inilah yang akan berkembang menjadi angka. Jantung itu(heart,qolbu) lambang Hidup tanpa kehidupan, makanya walaupun jantung ditaruh diluar tubuh, masih tetap hidup bukan? makanya adanya cangkok jantung, tetapi adakah cangkok kepala. Kemudian, kenapa ada orang jahat ada orang baik? Karena; Hanya manusialah yang memiliki 2 unsur yakni Jiwa dan Roh. Roh ini ditiupkan oleh Allah; baca surat Al baqarah ayat 30 s/d ayat 40. bukankah Malaikat tunduk dan patuh pada manusia? ini lantaran Roh itu ada Yoninya Tuhan. Kalau tidak ada, masak mungkin Malaikat hormat pada manusia. Kenapa? Roh manusia adalah roh ilahiyah, yang mengarah pada kebaikan. Gambarannya. Kalau setan dan iblis, punya Jiwa, tidak punya Roh. Malaikat Punya Roh, tidak memiliki jiwa. Sedang manusia punya Roh dan punya jiwa.(baca surat lailatul qodar). Dengan begini, maka yang dituntut pertanggung jawaban oleh Allah adalah jiwanya. Bukan Rohnya. dan Karena jiwalah, yang membuat manusia bisa menuju pada sifat-2 sataniyah(negatif). kalau Roh jelas menuju kebaikan. kenapa malaikat semua baik, adalah karena roh ilahiyah tadi. Jiwa, menyebabkan orang jadi cerdas. Pernahkah mendengar kisah 2 malaikat yang ingin menjadi manusia? ini ada didalam Al Qur'an juga, yang bernama Harut dan Marut. Begitu mereka jadi manusia, maka habitat manusia juga dimasukkan oleh Allah yakni jiwa, akhirnya 2 malaikat tadi lantas ingkar pada Allah. Semoga jawaban ini bermanfaat bagi Sari, juga bagi Ririn. Yang penting, kita tidak perlu berpikir terlalu jauh sampai dialam kematian. Ingat; agama diturunkan kemuka bumi, adalah bekal untuk menyelam dialam dunia, bagaikan kalau kita menyelam dilaut. Yang tentu butuh peralatan selam dan lain-lain. Tujuannya, supaya bisa kembali ke daratan bukan? Jadi, ringkasnya agama, adalah untuk orang supaya hidup selamat didunia, bukan untuk selamat di akherat(setelah mati). Kata-kata: pulang ke rahmatullah, itu ibarat kita telah kembali selamat, setelah menyelam kedalam laut yang dunianya ikan? bukan dunia manusia. Begitu pula dunia, apakah ini dunia manusia? bukan! baca QS.Muhammad ayat : 7 ;36; 38.semoga bermanfaat. Sebagai bandingan pula baca QS.:2 ayat 8.(untuk sari).
BalasHapus