Partner | KAENDRA Tour & MICE

Sabtu, 14 Mei 2011

ADAKAH MATAHARI INGKAR JANJI DAN SAKIT HATI?



                Disaat kita melihat anak lembu menyusui induknya, kemudian setelah besar kita ambil dan kita sembelih, kita makan dagingnya, bahkan induknya dibuat bunting lagi, kemudian anaknya dijual untuk disembelih. Adakah semiotika  yang nampak pada kita? Begitu pula, disaat ayam kita bertelur, lantas telurnya diambil dan dimakan, bertelur lagi, dimakan lagi. Adakah ayam itu sakit hati, dan dendam pada kita, serta menuntut pada polisi bahwa kita telah mencuri telurnya. Juga, lembunya menuntut bahwa kita tidak mempunyai jantung. Begitu pula, disaat kita mempunyai tanaman dan sulurnya kita ikat kebawah, apa yang terjadi? Tentu kita akan melihat, bahwa tidak seberapa lama sulur tanaman itu akan kembali bertunas, dan mengarah keatas. Berkali-kali, sulur itu kita ikat kebawah, berkali-kali pula ranting muda akan tumbuh dan selalu kembali mengarah keatas. Kemudian, yang terjadi adalah memberikan pemandangan yang indah, menjadi tanaman bonsai. Kenapa seluruh makhluk, selain manusia dan Jin bisa begitu, dan tidak ada sakit hati, atau dendam kesumat pada mereka? Jawabnya adalah “ Karena Allah”




 Matahari, setiap saat selama 24 jam menyinari bumi, tanpa ada rasa lelah, tanpa ada rasa dongkol atau sakit hati. Tanpa ada keinginan untuk menyinari satu tempat yang disukai, semuanya sama. Entah apakah sinarnya akan bermanfaat atau tidak. Tempat yang kotor dan kumuh, tempat yang penuh keindahan, tempat yang gersang dan lain-lain, semuanya karena Allah. Walaupun kadang-kadang disaat terang benderang karena sinar matahari, lantas dibuat ajang peperangan, dan energinya dipakai untuk membunuh antar manusia yang lain. Adakah matahari sakit hati, dan tidak mau menyinari lagi, khawatir apabila bersinar, lalu digunakan kesempatan oleh manusia lain untuk ajang peperangan? Matahari, tidak akan pernah ingkar janji, walaupun sinarnya mau dipakai untuk berbuat apapun oleh manusia. Semuanya itu bukan karena manusia. Dan matahari tidak akan bertanya, kenapa manusia masih tidak terima kasih atas sinar yang diberikan matahari? Ayam tidak pernah bertanya. Juga, kenapa lembu tidak pernah menggugat, setelah anak-anaknya dimakan, kemudian disaat induk lembu itu sudah terasa tidak berguna lagi dan dijual, lantas juga disembelih, tidak sakit hati dan dendam? Jawabnya adalah “karena Allah.”

                Manusia, diberi kelebihan akal budi, mestinya mau berpikir, dan merenungi, sikap dan perilaku makhluk-makhluk lain, yang juga berbakti pada Tuhan. Tidak pernah ingkar janji, senantiasa berbakti, sesuai dengan habitatnya masing-masing. Namun kenyataannya, diantara kita tidak demikian halnya. Segala sesuatu yang akan dilakukan, dan kita menyukainya, dikatakan semua ini “ karena Allah”. Akan tetapi, bila kita tidak menghendaki, dikatakan “ bukan karena Allah”. Seolah-olah, Tuhan yang dijadikan jaminan, Tuhan dijadikan stempel, untuk memuluskan apa yang menjadi “ keinginan” seseorang, dan bukan “ kehendak” atau “kebutuhan”seseorang. Apalagi, bila keinginan itu menyangkut tentang “cinta asmara, atau cinta nafsu.” Tetapi, dalil-dalil yang dipakainya, dikemas sedemikian rupa, begitu indah mempesona, seolah-olah itu adalah “ cinta kasih, dan karena Allah”. Terlepas dari semua itu, memang, adakah segala sesuatu hal didunia ini, yang tidak karena Allah? Baik kejahatan, kebajikan, kesantunan, dan segalanya, adalah karena Allah. Baik percaya maupun tidak, sesat maupun beriman, semuanya karena Allah. Baik itu dilakukan secara terpaksa, maupun sukarela, semuanya juga karena “kehendak Allah”. Hanya, tingkatan masing-masing manusia. yang satu dengan yang lain, memang berbeda-beda, tergantung pemahaman, dan keimanan, serta keyakinannya pada Tuhan itu sendiri.
                Seseorang, kalau sudah dilingkupi “ cinta kasih”, tidak memandang, serta tidak ada penilaian; apakah orang itu menyimpang, sesat, atau karena se agama, dan lain-lain. Sebab, dengan cinta kasih, akan bisa merobah segalanya, yang menyimpang dan sesat, akan jadi beriman. Dan cinta kasih, tidak mengenal kata membina, merawat, melindungi, serta; semua kata yang bersifat “ kata kerja”. Segalanya akan berjalan dengan sendirinya. Tanpa adanya keinginan untuk merobah apapun, akan berubah dengan sendirinya. Karena, didalam cinta kasih terselip karakter Tuhan, yang “ Rahman dan Rahim”. Dan, itulah kenapa, disaat kita ummat Islam, akan berbuat sesuatu, hendaknya dimulai dengan mengucapkan “ basmallah”.   

 Sebagai contoh, Ratu Balqis, yang konon kecantikannya melebihi Cleopatra, dicintai oleh Nabi Sulaiman, padahal ratu Balqis seorang yang menyimpang. Sebaliknya, Nabi Musa, pada saat bayi justru dirawat oleh Fir’aun yang tidak beragama. Kenapa Fir’aun begitu sayang pada Musa, yang jelas-jelas sudah diketahui, bahwa besoknya bayi laki-laki dari suku Kan’an ini, akan menjadi musuh besarnya. Jawabannya adalah “karena Allah.”Begitu pula Nabi Muhammad Saw, kenapa tidak membunuh pamannya Abi tholib, yang jelas tidak beragama(menurut kita pada umumnya), bahkan beliau amat sangat mencintai, dan menangis saat Abi Tholib meninggal. Sampai-sampai Nabi Muhammad memohon pada Tuhan, agar Abi Tolib dimasukkan Islam. Kenapa tidak diijinkan oleh Allah, sedangkan Hamzah, Umar bin Khottob, yang jelas mengubur anak perempuannya hidup-hidup, dimasukkan kedalam barisan Islam. Anehnya, Abi Tholib disaat mau meninggal, masih sempat berkata kepada Nabi Muhammad “ Wa laqod alimtu bi anna Muhammad, min khoiri adyanil bariyati diennan”. Intinya semua itu adalah ” karena Allah”.

Dus, cinta kasih itu kelihatannya memang aneh bagi sebagian orang. Disaat orang lain mengatakan hijau, dia mengatakan kuning. Disaat orang meniru mengatakan putih, dia malah mengatakan biru, tetapi dia bisa membuktikan, bahwa yang putih itu benar-benar biru. Seperti halnya, dahulu saya pernah menulis untuk menjawab seseorang yang menulis “ aku ingin dicintai secara sederhana”, dia meminta mahar “ Al Qur’an”, kemudian saya balas menulis”. Apakah alam semesta ini yang kau minta sebagai mahar?”

                Ringkasnya, bahwa seluruh ayat-ayat tekstual, didalam kitab agama manapun, bukan untuk orang-orang yang telah mendapatkan cinta kasih. Melainkan, untuk pembelajaran pada jiwa kita yang dikotori oleh cinta nafsu, agar sedikit demi sedikit bisa mendapat cinta kasih itu sendiri. Sehingga dengan demikian, nafsu yang liar, akan bisa dipasung, sesuai kehendak kita, untuk tunduk, dan patuh kearah Islam. Sebab, seseorang yang sudah dipenuhi cinta kasih, seluruh aturan itu tidak ada. Semua ikatan juga tidak berlaku, karena dia sudah menjadi suri tauladan, dan menjadi aturan itu sendiri. Dalam artian, segala perbuatannya tidak akan ada yang menyimpang, kendatipun dia bersama orang yang tidak beragama sekalipun. Bila ada perbuatannya yang menyimpang, dan tercela, berarti namanya bukan cinta kasih. Seperti halnya sifat Abi tholib, paman Rasul; adakah orang-orangyang tidak beragama memusuhi Abi Tholib, walaupun beliau jelas-jelas melindungi Nabi Muhammad? Sebaliknya adakah Nabi Muhammad dan pengikutnya membenci, dan hendak membunuh paman Rasul? Yang terjadi, justru disaat Abi Tholib meninggal,  terror yang dihadapi Nabi Muhammad makin menggila, dan makin terang-terangan, sehingga nabi Muhammad diperintahkan hijrah ke Medinah.

                Adapun kiat untuk memasukkan cinta kasih, bukanlah diawali dengan orang yang berlawanan jenis kelamin, apalagi bila kita memang ada rasa suka. Melainkan, mulailah dengan orang yang ada disekitar kita, yang mungkin dimusuhi dan dibenci. Ulurkanlah hati semampu kita. Lepaskanlah rasa curiga, dan khawatir, kendatipun itu seorang rampok, pembunuh, dan musuh, serta sampah masyarakat. Dan, jangan pula kita merasa takut untuk ikut dibenci oleh orang lain. Atau, mungkin kita takut dibunuh oleh perampoknya itu sendiri. Karena, mereka juga punya naluri, dan kasih sayang, walaupun hanya sebiji zarrah. Jangankan manusia, binatang buas sekalipun, tidak akan mungkin memakan kita, bila sinar kasih itu benar-benar ada dalam diri kita.

  Itulah yang dikatakan “ karena Allah”. Berlatihlah untuk tidak sakit hati. Sesungguhnya, bila seseorang sampai pada tingkatan kasih, yang benar-benar kasih, tidak pernah mengenal arti kejahatan, dan kebaikan, yang dilakukan pada dirinya. Yang ada hanyalah, semua itu terjadi juga karena Allah. Tidak ada segala sesuatupun yang terjadi dialam semesta ini, yang tidak karena Allah, apalagi tidak diketahui oleh Allah. Itu tidak mungkin. Bila ada kejadian apapun pada dirinya, akan dianggap sebagai suatu semiotika, yang pasti akan bermanfaat bagi dirinya. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan saya tutup dengan “ Wa laqod kholaknal insan. Wa na’lamu maa tuwaswisubihi nafsuhu, wa nahnu aqrobu ilaihi min habbliw waried.”(Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya, daripada urat lehernya”( QS. Al Qaaf:  50-16).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar