Selama ini bila kita mendengar ada orang kaya karena usaha budidaya ikan, dan udang di tambak, tidak akan kaget. Ada budidaya rumput laut, sebegitu melihat hasilnya cukup menjanjikan, semua orang berlomba-lomba mengikuti. Begitu pula, disaat ada orang ramai budidaya sarang burung wallet, banyak pula yang sampai rela hutang di bank, untuk mengambil kredit dan membangun tempat untuk burung wallet. Bahkan, tidak sedikit pula yang membangun tempat burung walet lebih kokoh dari rumah tempat tinggalnya sendiri, demi keamanan, itu katanya. Tetapi, pernahkah mendengar adanya “budi daya kasih ”?
Budi daya kasih, merupakan istilah saya sendiri, serta sudah bertahun-tahun saya terapkan dan saya kembangkan. Ternyata, hasilnya tidak masuk akal serta amat fantastic sekali. Tidak pernah mengenal adanya pesaing, dan budi daya ini, tidak pernah mengenal pasang surut. Atas saran saya, banyak pula orang yang melakukan, dan mengembangkan. Mereka juga berhasil dengan baik, dan keuntungannya jauh berlipat ganda, dibandingkan usaha-usaha lain, benar-benar tepat waktu, serta tidak perlu pengalaman, tidak perlu tempat. Bahkan, tidak perlu memakai proposal, tidak perlu modal besar sampai hutang di bank. Dan budi daya kasih ini, bisa dilakukan oleh seluruh kalangan manapun. Dan waktu memetik hasilnya, tergantung orang yang menjalankan usaha budidaya kasih. Yang penting, adalah keyakinan, dan ketekunan.
Apa yang dimaksud dengan “budi daya kasih di lautan illusi”? Ini sebenarnya, hanyalah merupakan istilah saja, yakni perbuatan kebajikan, yang senantiasa kita lakukan secara terus menerus, atau simultan, kepada orang lain. Istilah budi daya ini saya ambil, semata-mata untuk menanamkan budaya cinta kasih, agar nantinya selalu tertanam didalam diri manusia. Adapun “lautan illusi”, adalah merupakan locus, atau tempat kehidupan manusia itu sendiri.
Kenapa saya mengambil jalan pintas, dan setengah tolol, untuk melaksanakan usaha budidaya yang tidak umum ini? Semula, berawal dari kesulitan hidup, dimana untuk berusaha seperti orang lain, tidak mempunyai modal, pengalaman, serta relasi. Disamping itu, karena banyaknya kegagalan-kegagalan yang saya alami. Baik disaat kerja sama lantas ditipu, sifat teman kerja tidak cocok, tidak jujur, visi misi tidak sama, dan lain-lain. Akhirnya menimbulkan suatu pemikiran. Bukankah setiap usaha di dunia ini adalah gambling, atau untung-untungan? Sedangkan yang dijadikan wahana, tidak lepas dari apa yang nampak pada kita. Itupun, juga mencontoh orang lain, yang lebih dahulu memulai, seperti yang saya sebutkan diatas. Hasilnya pun, juga karena beberapa factor, serta tidak terlepas dari factor luck. Maka akhirnya, muncul gagasan, kenapa saya tidak mengganti wahana yang lain dari yang lain? Selama ini, yang dijual dan ditanam, hanyalah sebatas ide-ide, produk, tenaga dan pikiran, yang banyak membutuhkan energi. Sedang hasilnya juga belum tentu, dan masih melalui jalan yang berliku-liku, yang semakin lama semakin sulit. Bahkan, sampai terjadi benturan-benturan kepentingan, sehingga akan semakin sulit pula, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Siapa yang kuat, dialah yang menang.
Disamping itu, bila kita perhatikan dengan seksama, belum tentu masing-masing orang mendapatkan hasil yang sama. Ada yang berhasil dengan keuntungan yang berlimpah, ada pula yang mengalami kegagalan, dan tidak sedikit pula yang bangkrut. Kenapa? Karena, banyak diantara mereka yang tidak berpengalaman terhadap bidang usaha yang di-budidaya-kan. Serta, hanya ikut-ikutan, disaat melihat orang lain berhasil, lantas bernafsu untuk menggeluti pada usaha yang sama. Sudah tidak ada lagi pemikiran yang jernih, kenapa orang itu bisa berhasil, dan berapa kali gagal. Serta, latar belakang apa yang membuat orang bergerak dalam usaha tersebut, yang membuat dia berhasil. Dan, kita juga harus mempelajari karakter orang itu, sifat usaha yang digelutinya, sampai orang itu berhasil. Adakah kesamaan dengan kita, bila ingin menggeluti pada bidang yang sama? Jadi, harus ada pedoman. Ruwet, dan begitu banyak waktu yang terbuang, serta melelahkan.
Bagaimana cara kita budi daya kasih ini? Caranya amat sangat gampang. Sebagaimana lazimnya kita mau memulai suatu usaha. Awalnya, harus mempersiapkan perencanaan yang matang, bidang usahanya, berapa kira-kira keuntungan yang akan didapat, dan dalam waktu berapa lama keuntungan itu bisa dicapai, ketersediaan modal, dan lain-lain. Sedangkan dalam budi daya kasih, tidak berbicara masalah usaha, dan variable yang harus dilakukan, melainkan berbicara hasil akhir. Apa yang ingin dicapai, berapa lama ingin dicapai, serta alasan apa ingin dicapai.
Setelah itu, pilihlah hari sesuai dengan selera kita masing-masing, yang sekiranya didalam memulai, benar-benar penuh semangat, dan keyakinan. Langkah selanjutnya, adalah sebagai berikut :
· Sediakan nasi bungkusan yang siap dimakan, serta minuman. Adapun jumlahnya (ini kebiasaan saya), adalah merupakan kelipatan 5-10-15-20 bungkus dan seterusnya, sesuai kemampuan dan keikhlasan. Nasi bungkusan ini bisa dibuat sendiri( lebih baik). Bila tidak sempat membuat sendiri, bisa pula dengan membeli. Tetapi, usahakan didalam membeli, pada warung kaki lima, atau warung yang sekiranya masih sepi pembeli, atau kurang laris. Dengan maksud, disaat kita membeli, akan menyebabkan warung itu bertambah penghasilannya;
· Usahakan, pemilik warung itu tidak kita kenal, dengan tujuan untuk mengurangi rasa pamrih, baik bagi pemilik warung, maupun dari diri kita sendiri;
· Setelah itu, bagikan nasi bungkus tadi kepada orang-orang yang ada dijalan, yang tidak kita kenal sama sekali. Dan, sesuaikan jumlah nasi bungkus yang dibagikan, sama dengan jumlah yang akan menerima. Jangan sampai ada yang tidak mendapatkan. Sebab, bila itu terjadi, akan membuat orang yang tidak menerima itu kecewa. Jika masih terjadi, gantilah dengan uang, yang nilainya lebih banyak dari nilai nasi bungkus tadi(sebagai ganti ongkos untuk membeli);
· Laksanakan pemberian nasi bungkus ini pada setiap bulannya, dengan jumlah yang sama secara terus menerus, sampai apa yang menjadi cita-citanya bisa terlaksana.
· Sebagai tambahan, didalam mengawali budi daya kasih ini, sediakan pula dua lembar uang semampunya. Berikan pada dua orang, laki-laki dan perempuan, yang juga tidak dikenal, masing-masing 1 lembar. Setelah budidaya kasih ini berhasil, segera pula ambil uang 1 lembar, berikan kepada seseorang, yang juga tidak kenal, laki-laki atau perempuan. Hal ini dimaksudkan, disamping sebagai rasa syukur, kepada Tuhan yang telah mengabulkan cita-cita kita, juga akan semakin menambah rejeki kita, dihari-hari yang mendatang.
· Setelah itu, bekerjalah seperti biasanya. Tanpa bekerja, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebab, pekerjaan merupakan sarana dan variable, untuk memuluskan apa yang menjadi cita-cita, yang telah dilewatkan melalui budi daya kasih ini. Juga, jangan sekali-kali diharap-harap hasil budidayanya, biarlah otak kanan yang mengolahnya menjadi kenyataan.
Budi daya kasih ini, bisa pula diterapkan untuk menuntaskan berbagai masalah, tidak saja untuk menambah penghasilan belaka. Disamping lebih cepat dan tepat, juga banyak sekali manfaatnya, antara lain; pikiran semakin jernih, hati semakin tentram dan bahagia, serta membawa dampak sebagai berikut:
1. Apa yang diucapkan bisa terjadi. Istilah bahasa jawa” sabdo pandito"
2. Pintu rejeki akan terbuka lebar, dan gampang mencari penghasilan, serta mudah menemukan jalan keluar disaat ada masalah ;
3. Mata batin, atau mata hati, akan semakin terbuka lebar-lebar, serta bisa mengetahui isyarat(semiotika) apa yang akan terjadi, baik pada diri keluarga, maupun lingkungan.( perihal ini akan saya tuliskan tersendiri);
4. Bisa terhindar dari sakit, dan akan semakin membuat sehat lahir dan batin;
5. Tubuh akan mengeluarkan aura positif, yang melingkupi seluruh badan kasar, inner beauty muncul, serta menimbulkan wibawa yang besar.
Kenapa saya mengambil pedoman, bahwa didalam pemberian nasi bungkus itu kelipatan lima? Hal ini, berkaitan dengan segala permasalahan yang ada didunia, tidak terlepas dari kata, yang berjumlah 5 huruf, dan sekedar ingatan bahwa “ dunia, dunya, world, earth, dan lain-lain, jumlahnya juga 5 huruf”. Dalam hal ini, bisa dibaca lagi pada tulisan-tulisan saya terdahulu, baik di fb maupun di Blok: www.trisws.co.cc.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar