Seorang guru spiritual yang muridnya sudah tersebar diseluruh Indonesia, datang untuk sharing pada saya. Dia mengeluh dan bilang “kenapa diantara seluruh murid-muridnya, hanya sekitar 10 persen yang berhasil. Dan diantara 10 persen itu, tidak sampai 1 persennya yang bisa dibilang sempurna seperti dirinya. Itupun, karakter mereka tidak seperti yang diharapkan. Kadang-kadang, masih ingin mengadu ilmu dengan gurunya sendiri. Guru spiritual itu nampak sedih. Saya jawab dengan balik bertanya” Apa yang kau inginkan? “Saya ingin mereka, jadi baik”. Katanya lagi. Saya kejar dengan pertanyaan lagi,” kalau keinginanmu tercapai, apa yang kau dapatkan?”. Dia diam, dan terus saya berikan penjelasan, bahwa semua itu, secara tidak sadar mengarah pada keinginan. Apalagi, bila keinginan seseorang sudah melebar pada orang lain. Serta, merupakan keinginannya sendiri, yang ditanamkan pada orang lain, dan dikehendaki agar berbuat sesuatu, bisa membahayakan bagi orang lain itu sendiri. Terlebih lagi bila yang menanamkan keinginan punya ambisi besar untuk menuruti nafsunya sendiri. Contoh yang kongkrit, adalah jaringan terorisme.
Didalam kerjanya, nafsu mempunyai dua karakter yakni : Kehendak, dan keinginan. Kalau kita kurang teliti, semuanya nampak sama, padahal amat berbeda, seperti halnya disaat saya menyebut wanita dan perempuan. Agar mendapatkan kejelasan, dan ada kesamaan pendapat, akan saya coba untuk menguraikan. Sesuai dengan kemampuan, disiplin ilmu yang saya miliki, serta pengalaman yang telah saya lakukan, didalam pencarian jati diri saya selaku manusia.
Setiap akan melakukan suatu kerja, atau tugas, untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan manusia, tidak akan terlepas dari eksistensi nafsu itu sendiri. Dan, tidak akan mungkin manusia bisa memenuhi, apa yang menjadi kebutuhan, tanpa adanya nafsu. Namun didalam perjalanannya , nafsu membutuhkan energi pendamping, agar tercapai apa yang menjadi cita-citanya. Kenapa nafsu membutuhkan energi pendamping? Karena, nafsu itu sendiri juga merupakan energi, yang wataknya adalah anti materi ( negatif/ yin). Sedangkan energi pendampingnya, adalah materi ( positif /yhang).
“Kehendak” atau kemauan, adalah eksistensi nafsu, dimana “nafsu diprogram oleh Jiwa”, untuk memenuhi kebutuhan dasar nafsu. Hal ini, sesuai dengan visi dan misi nafsu, yang ditanamkan oleh Tuhan kedalam diri manusia. Sebaliknya, “ keinginan” adalah eksistensi nafsu, dimana “jiwa diprogram oleh nafsu”. Melihat dari perbedaan ini, barulah saya akan bisa menguraikan kenapa “nafsu harus diprogram”, sesuai dengan judul diatas.
Nafsu, kalau tidak diprogram amat membahayakan sekali. Karena, nafsu itu merupakan energi yang tidak terbatas. Hanya tinggal 1 pilihan, jiwa akan memprogram nafsu, atau nafsu yang akan memprogram jiwa. Bagaikan memilih, mana yang lebih dahulu ada, telur atau ayam yang lebih dahulu ada. Jadi, jika tidak mau melaksanakan, atau memilih salah satu, kita harus tinggal di hutan yang gelap, yang tidak ada sama sekali bangunan hasil nafsu, selain bangunan asli milik Tuhan itu sendiri. Contoh lain; adalah orang gila itu sendiri. Sudah tidak ada yang saling mengendalikan. Adapun tujuan saya menjabarkan pendapat ini, adalah untuk supaya menjadi bahan renungan, serta secara sadar, mengerti akan perbedaan antara keduanya. Sehingga saya tidak dianggap gila( malah bisa menjadi gila beneran), walaupun banyak orang sering kebingungan, disaat apa yang saya katakan terjadi menjadi kenyataan. Barulah mereka akan berpikir, sesungguhnya siapakah yang gila.
Kembali pada nafsu, jiwa harus memprogramnya, sesuai dengan ilmu pengetahuan yang telah diserap oleh jiwa, dan ditangkap oleh panca indra, yang kemudian masuk didalam memori otak belakang. Program apa saja yang harus dimasukkan kedalam nafsu? Adalah, segala hal yang menjadi kebutuhan manusia seutuhnya saat itu. Dengan program yang ditanam pada nafsu, maka nafsu akan bergetar, dan menimbulkan rasa kehendak, atau kemauan, untuk melaksanakan. Sehingga, dengan getaran kehendak ini, akan memberikan getaran pula pada seluruh tubuh, khususnya otak manusia. Kemudian secara bersama-sama, bekerja sesuai dengan tugas, dan bidangnya masing-masing. Setelah getaran kehendak ini tercapai menjadi riel, atau kenyataan berupa suatu hasil, maka nafsu kembali tenang, kembali pada titik nol. Itupun hanya sesaat. Sebegitu tugas kerjanya selesai, dan nafsu belum tidur, maka Jiwa harus selalu memberikan tugas-tugas baru pada nafsu. Bila tidak, dan nafsu belum tidur, maka ganti nafsu yang akan mencoba memberikan sinar berupa getaran. Lambat laun, Jiwa tidak akan berkutik, sehingga tidak lagi berpikir, bahwa getaran yang terbalik ini, nantinya akan semakin menumpuk, dan menjadi boomerang pada jiwa itu sendiri.
Jiwa, tidak bisa memberikan tugas pada nafsu, dikarenakan, pengetahuan yang dimiliki oleh jiwa tidak pernah bertambah. Sehingga, disaat nafsu makin berkembang, jiwa tidak mengembang, yang terjadi, justru awal kehancuran bagi manusia itu sendiri. Ada 2 contoh, untuk memudahkan pemahaman tulisan saya ini adalah sebagai berikut :
Yang pertama; ada anak yang berumur 8 tahun, tetapi cara pemikirannya sudah amat sangat dewasa sekali seperti orang yang sudah berkeluarga. Bahkan bisa melihat hal-hal ghaib, yang dikatakan “anak indigo” (perkembangan jiwa dan otak anak diatas normal). Dan anak indigo ada kecenderungan hiperaktif.
Yang kedua : ada anak yang umurnya sudah mencapai 24 tahun, tetapi cara berpikirnya masih seperti anak kecil seumur 8 tahun yang disebut “anak autis”(perkembangan jiwa dan otak anak dibawah normal).
Dari gambaran kedua anak ini, mestinya kita bisa mengambil suatu kesimpulan yakni: kalau untuk anak indigo, perjalanan jiwa anak berjalan amat sangat pesat, melebihi tugas yang disampaikan kepada nafsu. Dan, nafsu yang akan tertatih-tatih untuk mengikuti. Bila anak indigo tidak dididik khusus secara baik, lalu nafsunya akan menyesuaikan diri, setinggi jiwanya, sementara akal dan pikirannya belum sampai, maka akan membuat anak menjadi manusia tanpa tanding. Sedangkan karakternya, tergantung siapa yang membina, dan mengisinya. Jika orang yang membina punya karakter jelek, akan jelek pula perangai si anak.
Begitu pula gambaran anak autis, jiwanya tetap bergerak mengisi nafsunya, namun secara lamban. Karena, nafsu anak tidak bisa menangkap secara penuh, terhadap getaran informasi dari luar tubuhnya. Hal itu, dikarenakan otak anak ada kelainan. Sehingga, disaat panca indra memancarkan getaran berwujud informasi, tidak seimbang dengan kekuatan akalnya. Dalam hal menghadapi anak autis ini, memang tidak akan membahayakan bagi orang lain, tetapi akan merepotkan dan membahayakan pada diri sendiri. Kenapa? Karena anak autis jadi uring-uringan terus, sensitif, pemarah dan lain-lain. Akibatnya, nafsu tidak bisa bergerak keluar tubuh, untuk menciptakan suatu kehendak menjadi kenyataan. Disamping itu, energi pendamping yang dibutuhkan oleh nafsu, tidak pernah bisa mencukupi. Sehingga, jiwa anak autis seperti tetap sebagai anak-anak, walaupun umur raganya sudah 24 tahun. Tetapi, hal ini masih bisa untuk dibina, dan diberi dorongan, lewat latihan-latihan, dengan memberikan tugas-tugas pada nafsunya, dengan melihat perkembangan anak-anak lain, yang seumur dengan dirinya.
Jadi, kembali pada nafsu kenapa harus diprogram, karena nafsu itu hidup. Dan dia, akan bergerak memancarkan getaran-getaran yang diterima oleh nafsu. Seperti halnya mesin mobil, sebegitu mesin itu dihidupkan, berarti siap untuk berjalan, atau digunakan. Kalau tidak, untuk apa mesin mobil itu dihidupkan. Dan, nafsu akan hidup, pada saat pemilik nafsu itu bangun dari tidur. Sehingga, kenapa didalam ajaran agama; ada sholat, Samadhi, dan lain-lain. Tujuannya adalah, untuk mengisi nafsu, dengan program yang dikehendaki oleh jiwa. Dan, seberapa besar jiwa memiliki kemampuan, untuk memprogram, dan mengendalikan nafsunya, tergantung pada akal budi. Serta, perangkat-perangkat batin, termasuk pengetahuan otaknya, yang telah di memori di otak belakang. Kalau tidak ingin nafsu berkembang, gampang saja, dengan tidur terus menerus, akan membuat nafsu tidak berkembang. Tetapi, akibatnya juga muncul getaran lain, yaitu rasa “malas”, pengecut, rendah diri, dan lain-lain.
Selanjutnya, bagi seseorang yang sudah dewasa, dan terlanjur nafsunya berkembang, melebihi kemampuan otak dan jiwa, maka diperlukan dengan mengendapkan seluruh energi yang ada,dalam nafsu itu sendiri. Agar supaya jiwa bisa meneliti, sudah sampai sejauh mana perjalanan nafsunya. Itulah kenapa, dalam ajaran islam ada sholat, puasa, dan zakat, yang semata-mata bertujuan untuk menyeimbangkan antara energi nafsu, akal, dan jiwa itu sendiri. Dengan begitu, yang muncul bukan “keinginan”, melainkan adalah “ kehendak”. Serta, akan berkembang bersama-sama.
Begitu pula, bagi mereka dari ajaran tertentu, seperti kebatinan, aliran kepercayaan, yang merupakan hasil implementasi dari pengetahuan, serta pemahaman, terhadap ilmu yang didapat, mempunyai cara-cara sendiri, didalam menghadapi nafsunya. Ada yang bertapa di gunung, di gua, di sungai, ada yang dikamar yang gelap gulita, dan pekat. Pada intinya, di tempat-tempat yang saya sebutkan tadi, tentunya nafsunya tidak akan liar, dikarenakan daya tangkap nafsu terhadap fenomena yang ditangkap oleh panca indra, juga amat sedikit sekali, untuk bisa dipancarkan pada nafsu. Sehingga dengan demikian, semoga ada titik temu, antara saya dan mereka. Yakni : substansi apa yang didapat dari cara-cara tersebut, tanpa harus pergi, atau berada dalam keadaan locus yang sama. Sehingga, apa yang menjadi tujuan akan tercapai, sesuai dengan kehendak, dan sudah bukan merupakan keinginan lagi. Serta, bukan membuang keinginan. Tetapi, mengumpulkan getaran kehendak, yang sudah menjadi riel, yang makin lama menjadi suatu bangunan nafsu yang diciptakan oleh jiwa, menjadi suatu kenyataan. Dan bila perlu, jumlah kehendak yang masih belum terlaksana, dikompress menjadi suatu energi tersendiri. Tidak sepotong-sepotong, yang akan menyulitkan kita, di kelak kemudian harinya, disaat jiwa kembali membutuhkan untuk membangun yang sejenis. Seperti halnya kita mengkompress suatu data, yang semula 4 gigabyte, di compress menjadi 1,3 megabyte.
Inilah sebenarnya, tujuan Tuhan memberikan bekal nafsu pada manusia, dan bukan untuk mempersulit manusia. Tetapi, untuk semakin memudahkan jiwa, didalam mengarungi alam semesta yang begitu luas ini. Serta, tidak selalu jalan ditempat, seolah-olah tidak ada artinya Tuhan memberikan nafsu, namun tidak dikelola secara benar, seperti tulisan saya “ management nafsu”
“ Dona nobis pacem “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar