Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 30 Mei 2011

PUJANGGA, AHLI SASTRA, DAN AHLI BUDAYA

                Selama ini, seseorang gampang sekali memberikan predikat, bahwa orang itu adalah pujangga, seorang ahli sastra, atau seorang ahli budaya. Tetapi, kemungkinan masih amat sedikit yang mengerti tentang perbedaan dari ketiga predikat tersebut. Disini, saya mencoba menguraikan artikulasi dari  Pujangga, Sastrawan, dan Ahli Budaya, agar tidak salah kaprah didalam pemberian predikat kepada seseorang.



PUJANGGA:

1.       Adalah orang yang senantiasa melihat, mencari, menemukan, serta mengkaji, kemudian menciptakan segala yang ditemukan itu menjadi bentuk dalam suatu tulisan ;

2.       Materi yang ditulis, adalah suatu kejadian pada alam dan manusia. Baik yang sudah terjadi, sedang terjadi, atau yang sekiranya akan terjadi ;

3.       Didalam penulisannya, akan menggunakan bahasa “pasemon” atau perlambang(kiasan, peribahasa), serta bahasa sastra tinggi. Serta, menggunakan istilah-istilah baru yang belum pernah ada, didalam menguraikan apa yang menjadi tulisan. Ini bertujuan, agar orang tertarik untuk membaca, serta mempelajari apa yang menjadi tulisan. Sehingga bisa menjadi bahan, dan pedoman untuk kepentingan orang banyak ;

4.       Seorang pujangga, tidak akan pernah menulis tentang dirinya sendiri( otobiografi), tetapi minimal biografi orang lain. Namun yang sering, adalah tentang semiotika alam, dipadukan dengan filsafat, metafisika, serta perubahan-perubahan yang terjadi didalam adat budaya.

5.       Seorang Pujangga, pasti menguasai sastra, guratan kata, guratan semiotika, guratan wajah, guratan jiwa, esoteris dan eksoteris. Kemudian dirangkum menjadi satu karya tulis;

6.       Hasil karya pujangga, bisa menjadikan sebuah prediksi, akan adanya suatu peristiwa yang akan datang ( sebelum terjadi), lewat kejadian-kejadian yang sudah terjadi.

7.       Seorang pujangga jumlahnya amat sedikit sekali, bahkan jarang dikenal, karena kesibukannya untuk merangkum semiotika yang ada. Apabila dikenal, kemungkinan besar setelah orangnya mati, selain tinggal karya-karyanya, yang selalu dipelajari oleh ahli budaya, dan diabadikan oleh para ahli sastra. Contoh pujangga dalam negeri : Shang Aji Jaya Baya; Emphu Tantular; Emphu Panuluh, R.M. Sosro Kartono( kakak laki-laki R.A.Kartini) dan R.Ng. Ronggo Warsito. Di Tiongkok ada Chu Ghek Liang; Thien Sang Lau Chin, Loo Shen Yien dan lain-lain;

8.       Pujangga, disamping mengerti strategi perang, juga mengerti tata kelola alam semesta, seperti ilmu pertanian dasar, kelautan dan lain-lain, tergantung dari materi apa yang jadi sudut perhatiannya;

9.       Pujangga adalah yang menciptakan bahasa, dan dasar budaya, dimana dia tinggal, serta sampai sejauh mana kawasan yang dipengaruhi oleh tulisannya. Karena, dia adalah merupakan pencipta, atau perancang suatu gagasan, yang diformulasikan hanya lewat tulisan.
Ringkasnya : menciptakan sesuatu, dari tidak ada menuju ada, bahkan bisa pula menuju ada yang lain.

AHLI SASTRA :

1.       Adalah orang yang menuliskan segala sesuatu yang muncul lewat ide-idenya, tentang kehidupan manusia, alam flora dan fauna. Tentang sikap prilaku budaya yang telah ada, dengan bahasa yang penuh keindahan dari hasil penemuan pujangga. Dalam penulisannya, sering kali ada kecenderungan bersifat fiksi, friksi, dan lain-lain. Sehingga karakter tulisan, bersifat subyektif. Hal itu dikarenakan, sering memasukkan unsur “ aku” sebagai pelaku kedalam tulisannya. Seolah-olah, dirinya sebagai subyek, dan orang lain obyek serta sebagai pelengkap penderita ;

2.       Seorang ahli sastra, yang ditulis sering kali berkisar pada kehidupan dirinya sendiri (otobiografi). Dan, walaupun yang ditulis orang lain, tetapi diformulasikan seakan-akan dirinya yang mengalami. Sehingga, tidak ada kenetralan didalam menilai suatu keadaan. Namun, karena begitu pandai menggunakan dan memilih kata, sehingga nampak indah, dan pembaca, secara tidak sadar akan memberi dukungan kepada penulis karya sastra. Apa yang dikehendaki ahli sastra, itulah yang akan diikuti. Jadi sudah ada stigma oleh karakter ahli sastra;

3.       Karena terbiasa memasukkan unsur “ aku” didalam karya tulisnya, maka seorang ahli sastra, sama sekali tidak akan mengetahui alur pikiran, dan jiwa dari seorang pujangga, serta essensi makna tulisannya. Karena, menurutnya apa yang ditulis, tentu mengenai diri pujangga itu sendiri. Tetapi, seorang pujangga yang wataknya netral, serta tidak pernah memasukkan unsur “ aku” dalam tulisannya, melainkan bersifat universal, dia akan gampang sekali melihat, apakah penulis itu seorang ahli sastra atau tidak. Dan, juga akan mengetahui dengan persis karakter ahli sastra, hanya cukup melihat dari warna tulisannya. Walaupun, tulisan itu dikemas sedemikian rupa dengan permainan bahasa. Kosa kata apapun yang dipakai oleh ahli sastra, seorang pujangga akan bisa melihat karakter ahli sastra tadi. Hal itu dikarenakan, bahasa yang dipakai seorang ahli sastra, adalah dari orang yang sama-sama pujangga. Kemudian dipakai seorang ibu, untuk mendidik, dan berkomukasi, dengan anak-anak-anaknya.
Ringkasnya : karakter ahli sastra adalah merancang dan menciptakan sesuatu yang ada menjadi tetap ada, bahkan akan selalu mengabadikannya menjadi suatu budaya.


AHLI BUDAYA :

1.       Seorang ahli budaya, tugasnya adalah untuk melihat, meneliti dan mempelajari adat istiadat pada suatu kelompok manusia, yang terjadi pada suatu era yang sudah berlalu. Yang kemudian menjadi suatu tatanan kehidupan pada era tersebut;

2.       Seorang ahli budaya, juga memperhatikan sikap dan prilaku yang dilakukan oleh sekumpulan orang, yang berada didalam suatu mayoritas masyarakat. Termasuk peninggalan-peninggalan masyarakat di era sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui, sampai sejauh mana corak dan kehidupan masyarakat pada waktu itu. Serta, sampai sejauh mana tingkat kebudayaan yang dipakai, dan seberapa lama kebudayaan itu dipakai. Juga, apa saja warna kehidupan yang ada didalamnya, dan bagaimana pula tingkat perbandingan budaya pada kelompok masyarakat lain ;

3.       Seorang ahli budaya sifatnya obyektif. Selanjutnya, didalam menyampaikan segala sesuatu yang ditemukan, dan dipelajari, ditulis apa adanya, tidak ada yang ditambahi ataupun dikurangi. Hal ini bertujuan, agar nanti bisa menjadi suatu bahan pengkajian bagi ahli sejarah. Sehingga nantinya akan bermanfaat bagi generasi penerusnya.

Ringkasnya: Budaya yang ditemukan, akan dijadikan suatu era dan sejarah. Sedangkan ahli sejarah, adalah untuk mencari kebenaran atau tidaknya suatu budaya dalam suatu jaman ;

                Dari gambaran ini, amat jelas, bahwa seorang pujangga amat dominan sekali didalam perjalanan suatu era atau jaman. Lama dan tidaknya suatu jaman, lama dan tidaknya suatu budaya, tergantung kepada seberapa banyak semiotika, dan karya tulis dari pujangga. Sebab, bila karya tulis dari pujangga tidak ada, lantas bagaimana dari kalangan sastra bisa menuliskan sebuah karya, bila kosa kata tidak pernah bertambah lagi. Bagaimana seorang empu akan menciptakan keris beresoteris tinggi, bila tidak ada gambaran lagi yang didapat dari seorang pujangga. Begitu pula seorang pelukis, pemahat, dan lain-lain. Sehingga, bila tidak ada kreasi baru yang ditemukan oleh seorang pujangga, maka lama-kelamaan, budaya itu akan berjalan ditempat, karena selalu mengabadikan yang sudah ada. Yang sudah barang tentu akan sampai pada titik jenuh, dimana era atau jaman akan mencapai pada kulminasinya.  Disamping itu, seorang pujangga, pasti juga seorang ahli sastra, tetapi seorang ahli sastra belum tentu seorang pujangga. Karena, ahli sastra ada sekolahnya, jadi bisa dipelajari untuk menjadi seorang ahli sastra. Sedangkan pujangga tidak ada sekolahnya, apa yang didapat beradasarkan naluri.

                Terakhir, sebagai tambahan, bahwa seorang pelukis, dia harus menguasai guratan wajah, dan obyek yang akan dilukisnya. Seorang Pemahat, dia harus menguasai guratan wajah, dan roh, serta benda yang akan dilukisnya. Seorang penyanyi, harus menguasai guratan kata, serta makna yang ada didalam diri pencipta lagunya. Seorang Filosof, harus menguasai terhadap semiotika yang dilihatnya. Sedang seorang metafisis, harus menguasai guratan makna, terhadap semiotika yang dilihat, untuk dicocokkan dengan kausa prima dari Pencipta.

Semoga bermanfaat, dan menjadikan bahan renungan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar