Edeilweiss....,
Andaikan masih tersisa sekeping kasih
Yang tersimpan dalam pundi-pundi hatimu
Curahkanlah untuk kami, aku dan anak-anakmu
Biar kami kumpulkan kepingan logam kasih
Yang mungkin masih bisa kembali kau curahkan dihari esok.
Sampai kembali terbangun rumah renjana yang menjadi damba
Dan, andaikan masih ada setetes air cinta
Biarlah aku dan anak-anakmu, akan menangguk dalam cawan asa
Yang mungkin, masih aka nada lagi tetes-tetes air kasihmu
Pada hari-hari yang lain, disaat dirimu ada gita
Dan bila sudah terkumpul menjadi segelas air surga
Ingin kami minum bersama, sekedar hilangkan dahaga
Dan bila kembali menjadi samudra gita
Ingin kami basuh sejuta duka yang masih melara
Didalam dirimu, karena.. kamipun juga merana
Kami, aku dan anak-anakmu tak akan pernah berhenti
Dalam doa dan asa, bahkan juga air mata darah
Untuk senantiasa menanti, tetes-tetes air sorgawi
Atau keping-keping logam kasih
Yang mungkin masih akan lagi kau curahkan pada kami
Atau tetap terhenti didalam menanti pataka cinta ataukah petaka
Didalam vonismu yang masih mengambang
Bersatu, ataukah harus pisah sampai disini
Bagai renjana dalam sebuah damba
Edeilweiss, masih itukah namamu, masih pulakah begitu jiwamu?
Aku dan anak-anakmu, hanya bisa meneteskan air mata
Itupun bila masih ada, didalam menanti lewat bisu dan kelu,
Dan disini, dikebun ini aku selalu menuliskan prasasti
Kadang bertembang didalam maya menunggu hatimu
Kembali seperti dulu, kembali dalam satu jiwa dalam asa
Walau tanpa kata, namun penuh sejuta makna.
Untuk : siapapun yang sedang lara, dengan teriring doa, semoga duka lara, renjana maupun dukana akan segera sirna, berganti dengan gita penuh sejuta makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar