Kalau ada orang yang mengatakan; mendengar suara, dan melihat warna, itu sudah biasa, dan tentu setiap orang bisa melakukannya, selain orang yang bisu dan tuli. Akan tetapi, bila dibalik, dengan ungkapan; melihat suara, dan mendengar warna, tentu amat asing ditelinga kita. Judul diatas memang tidak umum, tetapi hal itu benar-benar bisa dilaksanakan, apabila seseorang sudah mengerti definisi melihat dan mendengar, serta dilatih pada setiap harinya.
Secara umum, orang akan mengatakan bahwa “ melihat” adalah menggunakan mata, dan “mendengar “ menggunakan telinga. Menurut hemat saya, mata hanyalah merupakan alat belaka untuk menangkap suatu benda atau warna dari luar tubuh, sedang yang melihat bukanlah mata. Dia hanya sebagai penerima belaka terhadap semua benda yang bisa ditangkap oleh mata. Begitu pula dengan telinga. Hanya sebagai alat untuk menangkap getaran suara yang diterima oleh daun telinga. Begitu pula terhadap seluruh panca indra yang kita miliki. Semua hanya untuk menangkap dan meneruskan kedalam diri kita terhadap seluruh getaran dari luar tubuh manusia raga. Sedangkan yang benar-benar melakukan tugas dari seluruh panca indra, tidak lain adalah hati manusia itu sendiri.
Jadi, adanya ungkapan ; suara hati, membaca dalam hati, menunjukkan bahwa hati manusia itulah, yang sebenarnya melihat, mendengar, dan merasakan. Kemudian, untuk menyampaikan keluar tubuh melalui bicara, pandangan, dan lain-lain. Karena fungsi hati begitu dominan, mestinya hati harus dilatih agar tetap peka didalam membaca melihat, mendengar, serta merasakan segala sesuatu dari luar tubuh. Didalam melatih, harus menggunakan gelombang yang penuh kelembutan, dan stimulan, sehingga energi yang keluar masuk dari dan keluar tubuh juga penuh kelembutan. Jika menggunakan gelombang yang kasar, maka energi yang didapatkanpun juga kasar. Dan, jika yang keluar masuk berupa gelombang yang kasar, justru keberadaan hati tidak akan peka lagi didalam menerima dan memancarkan gelombang energi.
Menurut orang jawa, dibalik fenomena yang nampak, terdapat fenomena yang luas dan besar, yang hanya dapat dimengerti melalui ketajaman rasa. Secara kacamata sufistik, hal ini adalah pola mencapai pengetahuan yang sejati melalui pelatihan pandangan batin(bashiroh), dengan mengedepankan pandangan aspek al lathifah al insaniyah atau jiwa dan aspek rohani. Al-dzahir wa al-bathin, al ghayb wa al shahadah( yang lahir dan batin, yang tidak tampak oleh mata dan yang nampak). Hal ini hanya dapat dicapai dengan cara makrifat al musyahadah ( pengetahuan berdasarkan penyaksian langsung).
Pada konsep sufistik makrifat ada 3 : 1. Berdasarkan membenarkan keterangan yg sudah ada ( makrifat al iqrar) ; 2. Makrifat al khawas ( makrifat kalangan filosof dan kaum theolog), yang pengetahuannya berdasarkan aneka pertimbangan atas kenyataan dunia empiris, bukan berdasarkan penyaksian langsung sehingga dikatakan makrifat al haqiqat; 3. Makrifat al haqiqiyah ( al khawash al khawash), yang memberikan keyakinan penuh dalam hati ( ‘ayn al yaqin), pengetahuan yang diperoleh setelah terbukanya hijab yang menutupi pandangan hati atau batiniyah, dan mengarah langsung pada percikan pengetahuan Tuhan. Dan pengetahuan ini terkandung berbagai aspek al fahmu(tahapan pemahaman), al ibrar (munculnya ibarat dalam perasaannya), al kalam (sehingga keluar ungkapan kesucian). Dan ini hanya dapat ditemukan melalui ketajaman hati yang disebut dengan makrifat al musyahadah ( pengetahuan berdasarkan penyaksian langsung oleh mata hati, melalui pengalaman sipiritual bermuwajahah dan tawajjuh dengan Allah). Orang ini sudah bisa menguasai 3 alam yakni: 1. Alam atas ( alam ilahiyah dan alam malakutiyah); 2. Alam bawah sebagai alam makhluk halus; 3. Alam tengah sebagai alam manusia.
Didalam surah QS. Ali Imron(3): 189 disebutkan : Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.
Surah QS. Al An'aam (6) :43 ; 46; 50; 59; 63; 103; 110 disebutkan sebagai berikut :
43. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.
46. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).
50. Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"
59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"
63. Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur."
103. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
110. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.
Dengan berpedoman pada Surah-surah al Qur’an diatas, telah jelaslah bagi kita bahwa sebenarnya seluruh panca indra manusia hanyalah sekedar merupakan alat penerima dari segal hal yang masuk pada diri kita. Bukan sebagai apa yang kita ketahui selama ini. Terbukti, kenapa disaat seseorang bertengkar, suaranya begitu amat keras sekali. Bahkan sampai membentak segala. Walaupun orang yang diajak bertengkar orangnya saling berdekatan. Hal itu menunjukkan bahwa kedua hati orang yang bertengkar amat jauh sekali. Ada orang yang mengatakan suara keras itu dikarenakan emosi.Hal itu sebenarnya bukan merupakan jawaban, sebab orang yang tidur, sedang melamun, dan lain-lain, juga tidak mendengar disaat ada orang yang memanggil atau melihat ketika ada orang yang sedang lewat didepannya? Padahal matanya juga juga melihat, suara yang masuk juga tetap bisa tertangkap oleh daun telinga. Bukankah itu juga merupakan bukti? Jadi, apabila hati seseorang sudah terbuka, maka ia dapat melihat, mendengar serta merasakan apa yang ada diluar tubuhnya. Apalagi bila orang tersebut sudah menguasai ilmu makrifat sepeti yang saya sebutkan diatas. Dan sekalipun orangnya buta, tetap masih bisa melihat. Begitu pula walaupun orangnya tuli, tetapi dia akan bisa mendengarkan. Seperti contohnya; disaat seseorang berada pada ruangan yang gelap, lambat laun orang itu akan terbiasa didalam kegelapan dan bisa melihat lingkungan sekitarnya. Begitu pula seseorang yang tuli, dia juga mengerti apa yang diucapkan seseorang.
Selanjutnya, agar seseorang dapat merasakan pakai hati, harus lebih dahulu meyakini, memahami, kemudian melatihnya pada setiap saatnya. Khususnya didalam mempelajari kitab suci masing-masing. Serta, tidak boleh mendapatkan cara pemahaman dari orang lain, walaupun orang yang dimintai tolong itu orang yang sakti. Sebab, masalah hati adalah dari dirinya sendiri. Disamping itu, masing-masing orang pemahamannya berbeda-beda, tergantung sampai sejauh mana bidang ilmu yang dipelajari. Jadi, hendaknya mempelajari sendiri sampai menemukan pemahaman secara hakiki didalam hati, bukan karena meniru, sehingga akan menghasilkan rasa yang benar-benar tepat, sebagaimana ilmu pasti kalau dalam hal otak kiri. Dalam hal ilmu pasti atau eksakta, masih bisa mendapatkan pelajaran dari orang lain, sampai seseorang dapat mengerti betul. Hal itu karena bidang yang diajarkan memang lokus otak kiri. Tetapi dalam hal pencerahan masalah eksistensi rasa, jiwa, dan Tuhan, tidak bisa mendapatkan dari orang lain, selain harus mencari sendiri, lewat membaca, mengingat dan berpikir. Dan, agar yang dipikirkan menjadi terarah serta tidak terjadi penyimpangan, maka harus mempelajari kitabnya hati, yakni kitab agama dari masing-masing agamanya. Dengan belajar sendiri, seseorang akan mendapatkan petunjuk langsung dari Tuhan, bukan dari tuhan-tuhan yang berbentuk makhluk. Apapun predikat tuhan itu. Sehingga didalam ajaran Islam dikatakan ajaran Tauhid ; tidak ada Tuhan selain Allah. Adakah seseorang yang mengajari menangis, bersedih, ketawa, menderita, rasa bahagia dan lain-lain? Semua berjalan secara naluri, sesuai dengan keadaan perasaan yang dirasakan waktu itu. Siapakah yang mengajar untuk mempunyai perasaan itu selain Allah itu sendiri? Jika pemahaman tentang agama juga sepertti halnya kita menangis, bergembira dan lain-lain, tanpa ada yang mengajar, maka seseorang akan dapat melihat suara, dan mendengar warna seperti judul diatas.
Jadi, dengan selalu belajar secara murni tentang eksistensi Tuhan, akan ditemukan jati diri masing-masing orang, dan bukan merupakan hasil mencontoh dari orang lain. Seperti halnya nabi Muhammad, kenapa beliau bisa diangkat sebagai rasul? Semua itu karena beliau mencari sendiri, melalui perenungan tentang eksistensi Tuhan, sehingga beliau bisa menjadi nabi besar diseluruh alam semesta ini. Begitu pula kita harus selalu mencari sendiri, berpikir sendiri, kemudian diterapkan untuk dirinya sendiri, dan bukan untuk diterapkan pada orang lain, agar tidak muncul nabi-nabi baru, tuhan-tuhan baru seperti fenomena yang ada dewasa ini. Bahkan kalau saya lihat, telah banyak bermunculan pemahaman baru yang mengarah pada dekadensi pemahaman agama itu sendiri. Dan apabila seseorang ingin belajar mengenal Tuhan, dan dapat mendengar warna serta melihat suara hanya satu jalan, yakni dengan belajar kelembutan, kehalusan budi pekerti seperti ayah-ayah Al Qur’an diatas, bukan dengan suara yang keras. Hal itu supaya dengan kelembutan tadi akan mendapatkan gelombang energi yang memang dibutuhkan untuk mengenal jati diri manusia. Dus, dengan mengenal jati diri kita akan mengenal Tuhan.
Demikian, dan tulisan ini adalah merupakan jawaban dari tulisan anak saya WB.Hadiningrat, kenapa disaat orang bertengkar suaranya keras. Semoga bermanfaat.
Itulah yang selalu ada dalam benak saya, sebuah anugerah yang memerlukan ilmu dan keimanan untuk menggalinya serta mengetahui hakikatnya. Dan kesempurnaan manusia itu adalah dengan diciptakan-Nya hati sebagai pengendali utama perilaku hidup. Manusia memiliki tujuan dalam proses penciptaan-Nya, yaitu selain tugas utama untuk beribadah, maka hal lain yang menyertai kewajiban itu serta yang perlu kita tindaklanjuti selanjutnya adalah menelaah bagian-bagian penting yang melekat pada proses ibadah itu sendiri, yaitu keberadaan hati manusia sebagai bagian penting organ tubuh manusia, baik secara lahiriah maupun batiniahnya.
BalasHapusAmat sangat betul ngger. Berarto Roro selalu bisa menangkap apa yang romo tuliskan. Hal itu menunjukkan Roro memang orang yang cerdas, cantik dan penuh kreatif serta inisiatif. Semoga saja apa yang Roro cita-citakan bisa terwujut setelah bisa merasakan segala sesuatu dengan hati. Sebab pada dasarnya mata bukan untuk melihat, tetapi hanyalah sekedar alat untuk menangkap warna dan benda. Begitu pula telinga hanya untuk menangkap suara. Sedangkan yang pegang peranan penting adalah hati manusia itu sendiri. T. kasih atas tambahan komentarnya sehingga membuat tulisan ini makin berwarna, khususnya bagi anak muda seperti Roro. Gbu.
BalasHapus